Saudara Baru Mawar

Karya: Dzakiyyah Salsabila ( SMP IT Darul Hikmah )

Hari ini adalah hari senin. Seperti biasanya, mawar dan ibunya memasak didapur untuk sarapan pagi.

“ Bu, hari ini kita memasak apa?” tanya mawar.

“ Rencananya ibu mau membuat dadar gulung sosis. Bagaimana, kamu suka?”

“ Wah,sepertinya enak bu, aku mau dong!” seru mawar berbinar.

Mawar dan ibunya pun mulai memasak bersama didapursambilmenunggu Adit dan ayah bangun.

Beberapa menit kemudian..

 Ayah dan adit bangun dan langsung menuju dapur.

“ Wah, aroma apa ini?” tanya Adit sambil mengucek –ucek mata berusaha menyingkirkan kotoran mata sisa tidur semalaman.

“ Eh, Adit sudah bangun?”

“ Ini kakak dan ibu sedang memasak telur dadar gulung sosis, kamu mau nggak?” tanya mawar.

“ Mau dong kak,” teriak Adit  sembari berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Tanpa menunggu lama, Adit sudah menunggu di meja makan.

“Nah, sarapannya sudah siap,” ucap Mawar sambil membawa piring besar.

“ Hm.. sepertinya enak tuh hasil masakan kakak,” puji Ayah.

Setelah semuanya tersaji, merekapun sarapan bersama – sama.

—-

Saat ini Mawar duduk dikelas 1 SMP dan Adit kelas 6 SD. Mereka berdua selalu diantarkan setiap hari ke sekolah. Mawar dan Adit adalah anak yang cerdas dan rajin.

Hari ini termasuk hari yang istimewa. Jarang –jarang mereka dijemput oleh ayah sepulang dari sekolah. Hari ini sepertinya ayah punya waktu luang.

Surprise..!” seru ayah mengagetkan mereka saat membuka pintu mobil.

“ Ayah,!” Mawar dan Adit seremtak terpana sekaligus merasa senang.

“ Baiklah, segera pasang sabuk pengamannya. Kita siap laju,” perintah Ayah.

Menikmati indahnya perjalanan, tiba – tiba pandangan Mawar melihat seorang anak kecil dipinggiran jalan.

“ Itu siapa yah?” selidik Mawar ingin tahu.

“ Yang mana?” Ayah berusaha mencari sosokyang dimaksud Mawar.

“ Itu, yah,” berusaha menunjuk si anak kecil yang nyaris tertutup oleh mobil yang berjejer di perempatan lampu merah.

“ Yang mana, kak?” Adit juga berusaha menemukan anak yang dimaksud kakaknya.

“ Lho, kok anaknya hilang”.

“ Hilang maksudnya, kak? Mawar membenamkan wajahnya,menyembunyiakn gurat kekecawaannya.

—-

Kesokn harinya. Mawar masih berharap bisa melihat kembali anak yang menarik perhatiannya beberapa waktu lalu.

“ Ayah, itu dia anaknya,” terperanjat dari lamunan sambil menunjuk anak yang mendekati mobil mereka.

“ Oh, itu. Dia itu anak jalanan namanya. Dia biasanya mengemis dijalanan seperti ini untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.” Jelas ayah.

“ooo….,” mereka mengangguk.

“Kasihan sekali ya. Alhamdulillah kita masih diberikan nikmat oleh Allah. Hidup berkecukupan,” ungkap Mawar bersyukur.

Ayah mengangguk sambil tersenyum.

Sesampainya dirumah, Adit dan Mawar mengganti seragam sekolah dan makan siang.

“ Dit”.

“ iya, kak. Ada apa?”

“Kakak masih teringat sama anak jalanan tadi.”

“ Adit juga, kak.”

“ Adit ikut sama kakak ya,”

“ kemana kak?”

“ Ikut saja,tapi jangan bilang sama Ayah dan ibu ya. Ok?’

Adit mengacungkan jempolnya tanda setuju.

Mereka segera keluar rumah menuju perempatan jalan, yang biasanya mereka lewati saat kesekolah.

“ Kak, itu adiknya!” seru Adit.

“ Yuk, kita kesana. Sebelum dia menghilang,” mereka bergegas.

Berselang beberapa menit. Mereka sudah berdekatan.

“ Adek siapa namanya?”

Si anak tersebut setengah kaget. Sambil melihat sekitarnya.

“ Iya, adek namanya siapa?” Adit meyakinkan.

“Namaku Budi.” Malu – malu sambil menunduk sambil melihat sandal jepit usangnya.

“ Ini ada makanan untukmu, ambilllah!” Mawar menyodorkan bungkusan yang ada ditangannya.

Sejenak anak itu ragu.

“ Apa ini benar untukku,kak?”

“ Iya,dik.  Ambillah!” meyakinkan.

“ Terima kasih ya kak.”

“ Nama kakak siapa?” Budi mulai akrab.

“ Namaku Mawar dan ini Adit,” jawab Mawar sambil merangkul Adit.

Tanpa basa – basi, Budi dengan lahap menikmati makanan yang ada didepannya.

Dan tanpa terasa,waktu sudah mulai gelap.

***

“ Mawar,Adit darimana kalian?” tiba – tiba Ibu dengan wajah cemas.

“ Anu bu..ee..anu…,”

“ Maafkan kami,bu.”

“ Darimana kalian?” suara ibu lebih rendah.

Mawar dan Adit saling berpandangan.

“ Ya sudah, sekarang bersihkan diri kalian. Shalat maghrib, lalu makan malam!” perintah ibu.

“ Baik,bu.” Sambil bergegas untuk mandi.

—-

Semuanya telah selesai menikmati makan malam. Mawar dan Adit, terlihat saling bisik – bisik.

“ Darimana kalian? Maghrib baru pulang,” Ayah memulai pembicaraan.

“Maafkan kami,Ayah.. Ibu.”

Mawar menceritakan kejadian tadi sore masih dengan perasaan takut.

“ Ayah,Ibu. Apa boleh Budi tinggal bersama kita?” tanya Mawar hati –hati.

Ayah dan Ibu saling berpandangan dengan maksud anaknya.

“ Budi masih kecil, tapi sudah jadi pengemis.” Tambah Adit dengan wajah sedih.

Suasana masih hening..

“ Ibu, setuju kan jika Budi tinggal bersama kita?” Ulang Mawar meminta jawaban.

“ Jika Budi tinggal bersama kita, biar Adit berbagi kamar dengannya,” Adit menambahkan.

“ Adit, Mawar.. semuanya tidak semudah itu.” Ayah mencoba menenangkan anaknya.

“ Maksudnya, yah? Terlihat sedih.

“ Begini.. Meski Budi tidak bisa tinggal bersama kita, tapi kalian bisa berbagi makanan dengannya”.

“ Kalian bisa bersaudara dengan Budi, meskipun tidak tinggal disini,” ibu mencoba menjelaskan.

“ Mawar kasihan sama Budi, yah.”

“Ayah tahu kalian adalah anak –anak yang berhati mulia. Tapi kan kita tidak tahu siapa Budi. Mungkin dia juga punya keluarga untuk bersama.” Ayah mengakhiri..

“ Baiklah Ayah, Ibu. Jika Ayah dan Ibu tidak setuju. Bisa berbagi makanan saja kami senang sekali.”

“ Besok ibu masak yang enak ya.. biar Budi juga bisa makan enak seperti kita.” pinta Mawar.

“ ok anak ibu yang manis,” sembari memeluk Mawar penuh kasih sayang.

=selesai=