Mendidik di Era Kids Jaman Now

oleh: Atna Dewi, SH ( SMP IT Darul Hikmah )

Kids jaman now istilah yang populer saat ini. Terutama dikalangan kaula muda tidak terkecuali pelajar. Istilah ini berhasil menyaingi om telolet om dan eta terangkanlah. Entah ini juga musiman atau tidak. Untuk saat ini, dimedia sosial postingan bertajuk kids jaman now sudah menjamur.

Ada – ada saja yang ulah dilakukan. Sekedar menyalurkan hobi, mendapatkan kepuasan diri hingga mencari sensasi. Mulai dari perilaku nyeleneh bin aneh hingga ekstrimis. Sebut saja, dari pomade susu kental manis hingga adegan tragis yang membuat bengis. Mereka menyebutnya kids jaman now. Pelesetan anak – anak zaman sekarang.

  Tidak dipungkiri kecanggihan teknologi menjadi sarana untuk mengekspose diri. Sebagai salah satu dampak globalisasi, ibarat pisau bermata dua. Akibat yang ditimbulkan tergantung si pengguna. Bagi pelajar, perkembangan teknologi telah menyulap menjadi tren baru. Mulai dari alat komunikasi hingga membentuk kehidupan hedonis, candu selfie, dan  ala – ala artis luar negeri yang melunturkan jati diri.

Tingkah laku kids jaman now dijadikan tolak ukur. Sedikit banyaknya itulah kondisi generasi muda yang didominasi oleh pelajar. Pelajar yang notabene generasi harapan bangsa. Potret tingkah laku tersebut berselancar didunia maya melalui instagram atau semisalnya.

Sebuah musik bergenre hip – hop dan rap oleh Ecko show dalam video klip  kids jaman now sekilas memperlihatkan pelajar kekinian. Gaya suka – suka, tak peduli etika dan estetika. Melihat sejenak saja membuat “perih mata” dan mengelus dada.

Pelajar kekinian telah dididik oleh kecanggihan teknologi. Walau usia masih terbilang muda, tetapi kemampuan mengotak – atik aplikasi smartphone jangan ditanya. Terkadang lebih mahir dari orangtua termasuk para guru disekolah.

Sebagai tanggungjawab bersama, sudah sepatutnya semua pihak andil dan peduli, khususnya lembaga pendidikan sebagai lumbung generasi masa depan. Mau tidak mau, seorang guru juga harus berjuang sesuai tuntutan zaman.

Pertama, Guru melek IT. Mendidik di era kids jaman now merupakan tantangan tersendiri bagi para guru. Mereka hidup dizaman dengan kecanggihan teknologi. Lihat saja, dalam waktu yang singkat merk smartphone sering gonta – ganti. Terus berkembang sesuai kebutuhan seperti selfie. Menjauhkan mereka zamannya bukan solusi yang bijak. Pilihan satu – satunya seorang guru dituntut mendidik sesuai dengan kondisi kekinian. Mendidik sesuai dengan zamannya.

Di era digital, para guru harus mengetahui cara ‘ mendidik zaman now’. Artinya, tinggalkan “kebiasaan” lama. Hanya berkutat dengan diktat tentunya tidaklah relevan dan representatif. Para guru juga harus move on. Harus update jangan sampai digelari kudet ( kurang update ).

Sebenarnya ada atau tidak istilah kids jaman now, guru tetap dituntut untuk meng – upgrade diri. Baik secara keilmuan maupun kemampuan. Ilmu itu berkembang dari waktu ke waktu termasuk sarana pembelajaran. Secara usia boleh jauh berbeda, tapi kemampuan harus senada dan seirama. Jangan sampai kecolongan apalagi dianggap gaptek ( gagap teknologi ). Namun demikian, walau berbeda zaman, inti dari pendidikan tetaplah sama, yaitu transfer ilmu dan memperbaiki akhlak/karakter. Hanya sarana dan kondisi saja yang berbeda.

Kemudian cara pandang seorang guru juga harus diperbaiki. Bagaimanapun, anak didik adalah seonggok potensi bukan masalah. Beragam potensi yang dimiliki, harus distimulan dan digali agar berkembang dan bermanfaat.

Kedua, Kerjasama dengan orang tua. Orang tua tetap memiliki peran penting dalam tahap perkembangan anak. Meskipun sudah memasuki usia sekolah dan lebih banyak beraktifitas diluar rumah. Tetapi, pihak sekolah ( dalam hal ini guru ) harus bersinergi dengan orangtua. Contohnya, tentang kepemilikan smartphone pada peserta didik tentunya orangtua lebih mengetahui. Pengawasan orangtua sangat dibutuh dalam hal ini.

Pengawasan guru dan orangtua akan lebih ekstra terhadap anak yang sekolah di sekolah umum. Sebab aktifitas dengan gadget  tidak dibatasi. Akan berbeda halnya dengan konsep sekolah berbasis pesantren ( boarding school ). Di sekolah dengan konsep boarding school pada umumnya intensitas dengan gadget dan laptop  sudah diatur.

Ketiga, Menjadi guru nubuwwah. Guru adalah sosok yang ditiru. Usia sekolah ( layaknya anak – anak ) adalah proses meniru dan mencari jati diri. Sikap/tingkah laku guru akan menjadi sorotan. ‘Guru kencing berdiri, murid kencing berlari’ begitulah sebuah peribahasa mengatakannya. Sehingga seorang guru dituntut bisa memberikan contoh/suri tauladan yang baik.

Keteladanan yang baik merujuk kepada Rasulullah SAW. Nabi terakhir sebagai uswatun hasanah sebagaimana tercantum dalam alqur’an surat Al – ahzab ayat 21:

“Sungguh, telah ada pada ( diri ) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharap ( rahmat ) Allah dan ( kedatangan ) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”.

Menjadi guru nubuwwah adalah menjadi menjadi guru idaman yang berhati mulia, ikhlas karena Allah, dan mengerahkan semua potensi untuk mendidik generasi rabbani dengan sentuhan nilai – nilai alqur’an dan sunnah sehingga terbentuk jati diri yang islami. Serta menjadi pribadi yang shaleh lagi muslih.

Keempat, Memfasilitasi pengembangan diri. Aktifitas kids jaman now adalah modal. Rasa ingin tahu yang tinggi atau keinginan bereksperimen perlu diarahkan secara positif. Energi negatif harus dilawan dengan energi positif, salah satunya mengembangkan diri.

Peserta didik memiliki potensi yang berbeda. Sekolah sebagai instansi pendidikan bisa memfasilitasi adanya klub – klub belajar yang tidak formal. Sehingga bukan klub belajar sains saja yang menjadi perhatian. Sebab tidak semua unggul dibidang sains.

Penyaluran bakat dan pengembangan potensi, bisa dibentuk klub belajar seperti klub seni dan fotografi, klub jurnalistik, klub bahasa, klub atletik, dan lain – lain.  Contoh sederhananya fenomena kids jaman now yang hobi selfi. Bahkan tidak memandang tempat apakah etis atau tidak, seperti: ditoilet, lokasi kecelakaanpun menjadi latar selfi.  Kecenderungan seperti ini bisa diarahkan ke klub belajar fotografi.

Tidak hanya itu, diluar sekolah juga banyak sarana pengembangan potensi diri seperti taman budaya. Disana bisa belajar teater bagi yang suka akting didunia maya. Sekolah melukis, sekolah menulis, dan lain – lain.

Kids jaman now hanya perlu diarahkan agar tidak tergilas arus kecanggihan teknologi. Sehingga smartphone yang tak lepas dari tangan bisa dimanfaatkan dengan baik sebagai sarana belajar dan pengembangan diri.

Mendidik saat ini guru harus melek IT agar transfer ilmu dan penanaman nilai kebaikan ( akhlakul karimah ) sangatlah penting.  Tidak hanya itu, kualitas interaksi guru dan murid merupakan sarana memberikan teladan. Guru adalah profesi mulia. Tetaplah berkontribusi mendidik generasi rabbani masa depan. Fenomena yang ada didepan mata adalah tanggungjawab bersama. Sehingga diperlukan sinergi dari semua pihak agar konten yang ditampilkan oleh kids jaman now adalah sesuatu yang positif.