Mawar Pagi

Oleh : Atna Dewi

Hasil jepret iseng beberapa hari lalu baru sempat dieksekusi. Sebatang mawar yang mekar disudut sekolah tempat saya mengabdi beberapa tahun ini. Ini bukan hobi baru tentunya, hanya memanfaatkan fasilitas yang ada. Meski masih amatiran. Cekrek..! cekrek.. ! Setidaknya bagi saya bisa menumbuhkan ide menulis lagi yang sering buyar oleh tugas pokok J.

Mawar biasanya sering terlihat saat acara formal ataupun tidak formal, misalnya acara wisudaan. Bahkan satu orang saja bisa mendapatkan beberapa kuntum.  Ah, setidaknya limpahan rezeki bagi para penjual bunga. Saya sendiripun tidak terlalu faham makna pemberian mawar tersebut. Apa karena saya tidak romantis. Tapi romantis itu tidak mesti dengan bunga kan? Ah, entahlah. 

Ditulisan ini saya tidak membahas sebuah romantisme pengagum mawar. Tapi, kehadiran mawar sebagai sebuah personifikasi. Lihatlah kesegaran bunga mawar dipagi hari. Merona dan wangi semerbak menawan hati. Oh, siapa yang tak kuasa untuk memetik atau sekedar meliriknya. Apalagi bermekaran itu ditaman sendiri.

Melihat sisi lain dari romantisme mawar, sebagai seorang pendidik juga mesti menampilkan diri layaknya bunga mawar yang merona diterpa mentari. Dalam menunaikan tugas segala sesuatunya memang harus dipersiapkan dengan baik. Bahkan sebelum waktu fajar berganti, awal hari telah dimulai. Teringat ungkapan teman sejawat,’ sepenuh hari, sepenuh hati’.

Bagi seorang ibu rumah tangga seperti saya. Waktu pagi adalah waktu untuk belajar menata emosi sekaligus berpacu dengan waktu. Berkolaborasi dengan pak suami mengusahakan tugas rumah selesai sebelum pergi. Belum lagi efek diserang rasa kantuk dan tidak stabil karena harus bergadang setiap si kecil bangun dimalam hari. Berlanjut dengan rengekan si kecil saat terburu – buru. Oo alahh.. ini tantangan yang tidak mudah melewati pagi. Dan saya yakin, dibelahan bumi lainnya banyak sosok yang lebih pagi memulai hari dari yang saya lakukan.

Setiap hari efektif kami memiliki jam kerja yang sama, meski tanggungjawab yang berbeda. Mengerjakan pekerjaan rumah tanpa khadimat bukanlah alasan untuk tidak totalitas dalam bekerja. Sebab ini adalah konsekuensi yang sudah kami fahami.

Kami menyadari peran didalam rumah sebagai orang tua dan dan pegawai ditempat kerja tidak boleh dibenturkan. Sehingga bagaimanapun kami berusaha untuk tepat waktu ( mendisiplinkan diri ). Sebab secara tidak langsung kami sedang mengajarkan nilai pada anak – anak. Saya memang sedikit malu dan risih jika datang terlambat. ( Terima kasih paksu, yang selalu siap membantu J ).

Dengan segala pernak – pernik pagi seperti itu, memang tak mudah menjadi setangkai mawar yang segar. Disinilah poinnya, terkadang kita “terlupa” mempersiapkan diri secara fisik dan ruhiyah. Padahal posisi para pendidik adalah teladan, kehadirannya digugu dan ditiru. Tanggung jawab yang tidak sebatas mengajarkan materi, melainkan juga mendidik moral, etika, integritas, dan karakter.

Persiapan fisik tidak selalu tentang glamour tetapi enak dipandang mata. Eye cathing kata orang sanaJ. Selain indah saat dilihat secara fisik, ada yang sangat penting dipersiapkan yaitu ruhiyah. Tak dipungkiri, emosi yang meledak, kondisi hati yang tidak stabil meski berada dilingkungan baik sekalipun, bisa jadi berasal dari kondisi ruhiyah ( keimanan ) yang menurun.

Sebelumnya saya bukan sedang menggurui ( karena ini bukan sebuah perguruan tapi hanya sebuah tulisan J ). Sebagai teman seperjuangan dari sudut pedalaman. Jauh dari hiruk pikuk ibukota ingin menyuguhkan “hidangan” ringan untuk menutrisi agar tetap merona bak mekarnya mawar dipagi hari saat menunaikan tugas berbalut safari:

Pertama, Bijak dalam menyelesaikan masalah.

Setiap waktu kita perlu memfilter masalah pribadi dan masalah kerja. Jangan sampai dicampuradukkan seperti gado – gado. Jika memiliki permasalahan secara pribadi seperti dalam rumah tangga, teman sejawat, pihak lainnya jangan menyasar anak – anak dikelas sebagai pelampiasan amarah ( semoga tidak, hehehe ). Tetaplah lakoni peran sebaik mungkin untuk memberikan haknya.

Atau sebaliknya rumitnya permasalahan ditempat kerja, jangan korbankan pasangan atau anak – anak yang tidak mengetahui apa – apa.   Dan yang terpenting, jangan biarkan diri terjebak dalam permasalahkan, apalagi permasalahan sepele. Hingga menimbun titik hitam dihati.

Bukankah memahami permasalahan itu adalah sebagian dari solusi. Hitung – hitung Sekalian melatih diri untuk berlapang dada ( salamatush shadr ) J. Yuks, mari kita sama – sama belajar menempatkan masalah secara proporsional dan profesional.

Kedua, mendisiplinkan diri.

Orang lain bisa, saya juga harus bisa. Wah, keren kan?

Memang mendisiplinkan diri itu membutuhkan tekad dan realisasi. Kalau saya sih, merencanakan waktu yang ada dan menghitung waktu secara mundur. Jika kita masuk kerja jam 07.30 WIB misalnya. Selesaikan hal – hal yang pokok saja. Jadi jangan paksakan untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah sebelum berangkat kerja. hehehe..

Kalau kata paksu kita juga berikan waktu jeda/cadangan misalnya saat mau berangkat tiba – tiba si bocah pup dulu. Waduh!! memang tak perlu tepuk jidad, tapi segera eksekusi saja. J.

Rencanakan juga waktu jeda ini berguna untuk relaksasi diri, sharing ilmu dengan teman sejawat, dan merapikan diri ( apalagi setelah melewati jarak tempuh yang jauh ). Agar saat menunaikan tugas tetap meninggalkan kesan baik yang akan diingat oleh peserta didik.

Ketiga,  Luruskan niat.

Dalam agama islam, Hadits pertama dalam hadits arba’in adalah tentang niat. Sesungguhkan kita hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang kita niatkan. Dan alangkah indahnya jika lelahnya bekerja berbuah berkah. Sehingga setiap langkah kaki, setiap ilmu yang disampaikan akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Akhirnya, hanya sedikit yang bisa saya uraikan dalam rangkaian aksara. Oleh sebab, sayapun baru belajar menata diri menjalani hari – hari bak mawar dipagi hari. Agar kelak bisa melahirkan generasi pemimpin negeri yang cinta pada Illahi.