Guru Teladan Era Revolusi Industri 4.0

Oleh : Atna Dewi, SH, CPI

Perkembangan zaman suatu keniscayaan. Ditandai dengan karakteristik zaman yang berbeda menjadi imbasnya. Hingga kita juga ikut menggunakan istilah kekinian, misalnya zaman now. Entah siapa yang mempelopori kemunculan istilah zaman old dan zaman now. Terkadang membuat jurang pemisah yang menggilas akhlak pelaku zaman.

Lihatlah perbedaan yang kontras. Pada zaman now sarana pembelajaran lebih didominasi kemajuan teknologi seperti pemanfaatan smartphone yang serba cepat berganti mode dan fitur terbaru, perangkat komputer, atau perkembangan teknologi lainnya. Perkembangan gadget ini tetaplah harus disyukuri. Sebab capaian ini juga hasil kemampuan akal anugerah Allah. Ini menjadi implementasi ayat – ayat Allah mengajak manusia untuk selalu berfikir.

Akan tetapi, perkembangan zaman tidak seharusnya memudarkan keteladanan seorang guru. Sebab keteladanan adalah keharusan bukan pilihan. Apa maksudnya? Jawabannya sederhana saja, seorang guru tetaplah memberikan teladan dalam kondisi dan zaman apapun.

Dalam dunia pendidikan sangat familiar dengan sistem among. Sistem ini yang sering digaungkan dari pemikiran Ki Hajar Dewantara: Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani ( didepan memberi teladan, ditengah membangun kemauan, dibelakang memberikan dorongan ). Didepan, ditengah, ataupun dibelakang guru tetap hadir dengan keteladannya. Digugu, ditiru, dan membangkitkan motivasi belajar inilah kompetensi keperibadian seorang guru.

Akhlak seorang guru akan menggambarkan peserta didiknya. Sehingga cara bersikap, berpakaian, berbicara, atau tampilan fisik lainnya bahkan diam seorang gurupun akan tetap diamati dan ditiru. Kata kunci yang perlu diingat, akhlak adalah buah dari keimanan. Sehingga seorang guru harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki hubungan dengan manusia, dan terus menambah wawasan.

 

Tantangan Guru Zaman Now

Mendidik generasi era revolusi industri 4.0 ini memiliki tantangan tersendiri. Perubahan sarana/fasilitas, seorang harus guru juga dituntut up grade diri. Mesti melek teknologi dan keluar dari zona konvensional. Seorang guru yang melek teknologi akan mempercepat transfer ilmu. Setidaknya inilah satu kesempatan belajar memenuhi kompetensi guru yang  profesional sesuai tuntutan zaman.

Tantangan selanjutnya adalah lalu lintas informasi yang sangat luas dan cepat. Sehingga seorang guru bisa mengambil peran etika dalam pemanfaatan teknologi serta memfilter informasi. Serta memberikan arahan kepada peserta didik dalam hal ini.

Kecanggihan teknologi juga akan membentuk perilaku positif dan negatif. Untuk hal – hal yang positif, harus didukung. Akan tetapi, interaksi media sosial yang tinggi juga membentuk perilaku negatif, misalnya sikap anti – sosial. Indikasinya tidak peduli dengan lingkungan sosial ( lingkungan kerja ) karena sering asyik dengan gadget ditangan. Senyum – senyum sendiri dan mengabaikan lingkungan sekitar.

Membenahi sikap negatif akibat kemajuan ini adalah tanggungjawab bersama. Akan tetapi, apapun alasannya posisi keluarga ( orangtua ) tetap sebagai madrasah pertama penanaman nilai. Kemudian institusi pendidikan ( guru ) sebagai unsur pendukung.

 

Keteladanan Itu Konstan

Berbicara akhlaqul karimah maka teladan terbaik hanya Rasulullah SAW. Sosok mulia yang sudah Allah jamin didalam dirinya terdapat suri tauladan yang baik. Sebagaimana Allah firmankan dalam surat Al – Ahzab ayat 21: “ Sungguh, telah ada pada ( diri ) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharap ( rahmat ) Allah dan ( kedatangan ) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.

Ini dibuktikan dengan kisah perjalanan hidup beliau SAW. Sungguh teladan yang sempurna. Aisyah ra pernah ditanya oleh para sahabat tentang akhlak Rasulullah SAW setelah wafat, lalu istrinya menjawab: “ Kana khuluquhul qur’an” ( akhlak Rasulullah adalah al – qur’an ).

Nah, jelaslah sosok yang ( harus ) menjadi contoh bagi siapapun, terkhusus guru. Ini bukan semata – mata memenuhi kompetensi kepribadian guru sesuai undang -undang. Tapi, apapun profesinya dari sosok inilah sepantasnya kita meneladani.

Meskipun zaman telah berubah. Bahkan secara hitungan angka sudah sangat jauh tertinggal, berabad – abad lamanya. Namun, standar akhlak tak akan pernah berubah. Begitu juga untuk istilah. Akhlak tak mengenal istilah akhlak zaman old dan akhlak zaman now.

Ini sangat penting sebagaimana Abdullah Bin Mubarak ra pernah berkata: “ Aku belajar adab 30 tahun dan belajar ilmu 20 tahun lamanya”. Pada kesempatan lain, penulis juga pernah mendengar suatu kajian ilmu. Intinya, si pengisi kajian mengatakan bahwa Adab itu dua pertiga dari ilmu. Sehingga jika seorang guru tidak bisa memberikan keteladanan maka dua pertiga ilmu itu akan menjadi hilang. Na’uzubillah.

Dalam proses pendidikan, nilai ( akhlak ) yang diajarkan adalah sesuatu yang sudah baku. Nilai yang sudah ada sejak dulu, seperti kejujuran, sopan santun, disiplin, saling menghargai,dan sebagainya. Sehingga tidak ada tawaran lagi, akhlak sudah sempurna dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Akhirnya, walaupun kita berada di era 4.0, nilai ( akhlak ) tidak boleh tergilas oleh kecanggihan teknologi. Agar nilai kejujuran masih dijunjung tinggi. Sopan santun mendarah daging. Seorang guru juga harus pandai mengolah dan menyajikan kata dan rasa melakoni perkembangan zaman tanpa menghilangkan akhlak seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sampai kapanpun “adab sebelum ilmu” tetaplah belaku.

Salam takzim wahai guru!