Godok Rasa Milenial

Oleh: Atna D

Meskipun tidak terlalu kental, kecenderungan untuk bereksperimen masih mengalir dalam diri saya. Kesempatan bereksperimen terjadi jika punya kesempatan saja. Singkatnya berdasarkan mood saja. Salah satunya difaktori kesibukan mendidik generasi bangsa. Rasa lelah seharian yang sudah sibuk disekolah ( meskipun sebenarnya saya sendiri tinggal dalam komplek sekolah tempat mengajar 😀 ) mengurangi selera untuk bereksperimen didapur.

Rupanya malam itu, nasibnya pisang kepok berakhir ditungku kompor. Beberapa hari belakangan hanya mengurung diri dalam lemari pendingin 😅. Cerita punya cerita, pisang tersebut sisa membuat kolak beberapa waktu lalu.
Namanya juga bereksperimen sederhana. Saya teringat ‘godok’. Mungkin tidak semua orang yang mengenal makanan tradisional ini. Godok jika ditambah dengan imbuhan meng – versi pelajaran bahasa Indonesia akan menjadi ‘Menggodok’. Ternyata menggodok ini sudah ada dalam KBBI, meskipun saya mengenal kata godok secara turun temurun. Prosesnya pun hanya dengan mengaduk – aduk sampai halus ( menggodok ).

Kembali ke awal cerita si pisang kepok. Menjelang isya tiba – tiba saya teringat pisang. Sayang jika tidak diolah; mubazir. Sejenak memutar otak. Aha! Olahan yang tidak ribet ya godok tadi. Resep godok warisan leluhur sangat sederhana. Cukup mencampur rata semua pisang, kelapa parut, tepung beras, dan garam. Simpel kan? Bahkan sangat simpel.

Bukan bermaksud merubah resep leluhur. Tapi malam – malam begini ( sekitar pukul 20. 30 ) warung sayur mana yang masih buka untuk membeli kelapa parut. Sejenak saya berfikir. Apa ya gantinya? Rasa asin gurih. Lagian jika masih ada yang jual kelapa parut malam – malam begini, mubazir juga nanti sisanya. Sebab pisang yang mau diolah itu hanya 6 biji. Padahal kelapa parut diperlukan hanya sedikit. Bisa – bisa nantinya tetap ada kemubaziran. Sebuah kebiasaan, ditempat saya jika membeli kelapa ya hitungan per biji. Mau diparut atau masih utuh, tetap saja dijual per biji.
Rasa asin gurih, jadilah pilihannya jatuh kepada keju. Disinilah bermula kemilinealan godok itu. Melalui pengamatan sederhana saya, keju lebih disukai oleh anak zaman now daripada kelapa parut. 


Lihat saja topping donat, rerotian, salad buah, dan sebagainya lebih sering dihiasi dengan parutan keju bahkan sampai meluber kiri – kanan. Melihat eksekusi godok ini. Sampai – sampai si bocah, belum mau tidur menunggu godok rasa milineal si bunda 😄😋.
Untuk rasanya, hmmm.. benar – benar rasa milenial. Yang penting itu sehat dan happy bersama keluarga. Nah, itu makanan tradisional lho. Bebas micin dan pengawet.
Layaknya kita sebagai seorang pendidik. Dalam proses pendidikanpun, nilai ( akhlak ) yang diajarkan adalah nilai yang sudah baku. Nilai yang sudah ada sejak dulu, seperti kejujuran, sopan santun, disiplin, dan lain – lain.

Walaupun kita berada di era 4.0 nilai ( akhlak ) tidak boleh tergilas oleh kecanggihan teknologi. Agar nilai kejujuran masih dijunjung tinggi. Sopan santun mendarah daging. Pun, seorang guru juga harus pandai mengolah dan menyajikan kata dan rasa melakoni perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai yang seharusnya. Sampai kapanpun “adab sebelum ilmu” tetaplah belaku.
Selamat menikmati!