Budaya Literasi Sekolah

oleh:  Atna Dewi, SH

Literasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Dunia pendidikan akan menjadi ‘kerdil’ jika literasi tidak bersamanya. Mengapa? Sebab menjadi pribadi berwawasan luas tentunya tidak cukup  hanya dengan satu sumber informasi atau sekedar mendengarkan dari guru.

Pribadi yang berwawasan luas itu juga perlu diberikan bacaan yang berkualitas. Sehingga fisik boleh saja berada di pelosok negeri, tetapi cara berfikir harus global. Menembus batas teritorial. Ia layaknya tubuh. Tubuh yang kekurangan asupan gizi maka akan kurus tak berisi. Memang secara fisik otak tidak akan mengecil tetapi cara berfikir menjadi  terbatas dan sempit.

Untuk itulah budaya literasi sekolah merupakan bagian penting yang perlu diberikan perhatian. Meskipun sebenarnya literasi itu sendiri lebih luas dari sekedar membaca dan menulis. Namun, aktifitas tersebut merupakan dua hal mendasar dalam gerakan literasi.

Perlu kita akui aktifitas membaca buku dari berbagai literatur belum bisa digantikan secara utuh oleh gadget. Dan ini merupakan ciri khas yang dimiliki oleh buku.

Budaya literasi bisa diterapkan dimana saja. Akan tetapi, dalam dunia pendidikan, tentunya harus lebih masif lagi. Sudah seharusnya bukan sebatas interaksi, tetapi menjadikannya sebuah kebiasaan  hingga membudaya. Semakin sering berinteraksi dengan buku, semakin terasah daya berfikir kritis, mempertajam analisa, dan argumentatif bukan pribadi ngeles.

Dari pengamatan sederhana, kebiasaan membaca dan menulis masih dimiliki oleh sebagian kecil orang. Bahkan bagi pelaku pendidikan sekalipun.  Penulis mencoba browsing di internet terkait kebiasaan membaca. Dan grafik minat baca nasional sungguh sangat memprihatinkan.

Sebuah postingan kompas.com pada 29 Agustus 2016 lalu ‘ minat baca Indonesia ada diurutan ke – 60 dunia’. Sumber ini menyebutkan minat baca bangsa sangat miris. Berdasarkan studi “ Most Littered Nation In the Worl’’ yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016, Indonesia dinyatakn menduduki peringkat ke – 60 dari 61 negara tentang minat baca.

Hal inilah yang melatarbelakangi dikeluarkannya permendikbud nomor 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti. Peraturan ini merupakan langkah posistif yang perlu diapresisasi.

Dalam permendikbud ini dicantumkan bahwa setiap siswa mempunyai potensi yang beragam. Hendaknya sekolah memfasilitasi secara optimal agar siswa mampu menemukenali dan mengembangkan potensinya. Untuk itu adanya kegiatan wajib menggunakan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran setiap hari.

Minat baca harus ditumbuhkan menjadi sebuah kebiasaan. Sebab suatu kebiasaan lama kelamaan akan menjadi budaya. Sehingga untuk mendobrak itu perlu adanya gerakan posistif yang harus didukung oleh semua elemen  dilingkungan sekolah.

Strategi penerapan Gerakan Literasi Sekolah ( GLS ) memiliki tujuan umum dan khusus. Tujuan umum adalah menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Sedangkan secara khusus bertujuan untuk menumbuhkembangkan budaya literasi sekolah, meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat, menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.

   Seperti yang dituliskan bagain awal tulisan ini, GLS yang tidak hanya dalam konteks mahir membaca dan terampil menulis. Tetapi, bagaimana peserta didik memiliki kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menggunakn sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktifitas seperti membaca, melihat, menyimak, menulis dan/atau membaca.

GLS merupakan gerakan yang partisipatif dan kolaboratif semua elemen sekolah. Artinya, ruang dan waktu mesti dirancang dan difasilitasi dengan baik. Antara peserta didik, guru, kepala sekolah, pengawas, komite, para orangtua juga sama – sama terlibat dalam peran yang profesional dan proporsional.

GLS sendiri sudah lama diterapkan SMP IT Darul Hikmah. Bahkan jauh sebelum keluarnya permendikbud nomor 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti. Penerapan literasi disekolah ini secara umum adalah meningkatkan minat baca peserta didik, meluaskan wawasan, serta kesadaran tentang pentingnya literasi dalam dunia pendidikan. Sedangkan secara khusus, gerakan literasi sekolah merupakan pengembangan potensi peserta didik. Hal ini sejalan dengan permendikbud.

Setiap anak dilahirkan dengan segala potensi. Namun, selama ini tidak semua potensi ter – upgrade dengan maksimal. Biasanya peserta didik yang sering diorbitkan hanyalah yang mampu di bidang sains, sosial, dan olahraga. Sehingga secara tidak langsung, potensi lain kurang mendapatkan perhatian khusus. Sebut saja potensi anak dibidang literasi.

SMP IT Darul Hikmah mencoba menerapkan GLS menjadi program unggulan sekolah. Langkah kongkrit yang sudah dilakukan adanya dorongan dari semua elemen sekolah memanfaatkan waktu untuk membaca diluar kegiatan wajib. Selain itu juga dijadwalkan khusus yaitu setiap senin dan kamis pagi ( jam apel pagi, penj.) untuk membaca dan menuliskan kembali.

Kegiatannya berupa membaca buku sesuai dengan minat si pembaca. Baik berupa fiksi maupun non fiksi yang diseleksi terlebih dahulu untuk melihat kelayakan sesuai dengan usia.

Waktu yang dikhususkan ini bukan hanya untuk membaca, tetapi didorong untuk terampil menuliskan dalam bentuk puisi, cerpen, artikel, esai, dan berbagai bentuk lainnya. Untuk tulisan yang masuk akan dilakukan seleksi karya, dan yang tulisan yang layak akan dikirim ke media massa ( sejauh ini masih ke Koran harian lokal seperti harian singgalang ).

Sebagai bentuk motivasi dan apresiasi, tulisan yang dimuat akan diumumkan kepada warga sekolah, ditempelkan di madding sekolah, honornya diberikan kepada yang bersangkutan tiap semesternya. Biasanya honor diberikan saat penerimaan hasil ujian semester didepan para orangtua.

 Kegiatan ini digawangi secara khusus oleh bidang humas dan dibantu oleh seluruh elemen sekolah seperti kepala sekolah dan guru sejauh ini masih berlanjut.

Semua peserta didik dilibatkan dalam gerakan ini. Sehingga targetpun hanya berlaku umum sesuai tujuan awal. Akan tetapi, dengan GLS juga merupakan sarana menggali potensi dibidang literasi. Selain, menstimulan peserta didik untuk menjadi literat. Juga diharapkan bisa mencari bibit unggul dibidang literasi.

Bibit unggul ini dilanjutkan dengan pembinaan di study club. Sejauh ini sudah terbentuk study club dibidang kepenulisan dengan 3 ( tiga  ) kriteria yaitu: study clubcipta dan baca puisi, study club cerpen, dan study club jurnalistik.

Alhamdulillah, sejak beberapa tahun terakhir prestasi non akademis di bidang literasi mampu mengharumkan nama sekolah. Baik di ajang bergensi FLS2N maupun lomba kepenulisan lainnya hingga tingkat provinsi.

Dengan diterapkannya GLS menjadi suatu gerakan perbaikan kualitas minat baca bangsa Indonesia. Salam literasi!

Tinggalkan Balasan