Bermula Dari DREAM…

Siapa tak kenal Aladin
Tokoh fiktif yang tak penting
Siapa tak kenal Shalahuddin
Pembebas Al Quds yang terpenting

Pada 9 Oktober 2016, hari terakhir kegiatan di Turki, saya diajak rekan untuk mendengarkan tausiyah syekh. Saya tidak ikut dengan alasan ingin olahraga jogging. Ternyata saya memperoleh informasi bahwa Syekh Murroweh yang mengisi telah memberikan tausiyah tentang perjuangan Sholahuddin membebaskan Al Quds.

Begini salah satu tausiyah syekh tersebut:
Najmudin Ayub adalah raja Tikrit, sudah lama belum menikah. Adiknya, Assaddudin Sirakuh bertanya kepadanya : Wahai saudaraku apa yang membuatmu belum menikah?

Najmudin Ayyub     : Saya tidak mendapati yang sesuai dengan saya
Assaduddin Sirakuh    : Boleh aku membantu untuk melamarkan engkau?
Najmudin Ayyub    : Dengan siapa?
Assaduddin Sirakuh    : Putri Raja Shah binti Sultan Mohammad bin Raja Shah Sultan Seljuk atau Putri Menteri Raja
Najmudin Ayyub    : Ah,…dia tidak cocok untukku
Assaduddin Sirakuh    : Jadi, siapa yang cocok bagimu?
Najmudin Ayyub    : Sesungguhnya kuingin yang menjadi pendampingku kelak adalah istri yang solehah, bersamanya menuju ke surga. Melahirkan anak dan mendidiknya dengan baik, hingga tatkala tumbuh menjadi pemuda, ia menjadi kesatria yang akan mengembalikan Al Quds.

Assaddudin sungguh kaget mendengar jawaban Najmuddin. Ini adalah impiannya. Assaddudin terperanjat dengan perkataan saudaranya tersebut.

Assaduddin Sirakuh    : Darimana engkau mendapatkan hal itu?
Najmudin Ayyub    : Dari niat yang bersih karena Allah, maka Allah akan mewujudkannya.

Suatu hari Najmuddin sedang duduk bersama syekh di Masjid Tikrit dan sedang asyik ngobrol. Datanglah seorang pemudi yang memanggil syekh dari balik tirai. Syekh meminta izin untuk berbincang dengan pemudi tersebut. Najmuddin mendengar syekh bertanya kepada pemudi dan berkata : Kenapa kamu menolak seorang pemuda yang datang kepadamu untuk melamar?

Pemudi menjawab, “Tuan guru, aku menginginkan seorang pemuda, bersamanya menuju ke surge. Melahirkan anak dan mendidiknya dengan baik hingga tatkala tumbuh menjadi pemuda, menjadi kesatria yang akan mengembalikan Al Quds”.

Allahu Akbar! Sungguh kalimat pemudi itu sama seperti Najmudin ungkapkan kepada saudaranya, Assaddudin. Najmudin menolak putri raja dan anak menteri yang mereka itu mempunyai prestise dan keindahan. Sama seperti pemudi yang menolak prestise dan keindahan. Semua penolakan ini untuk apa sebenarnya?
Najmudin dan pemudi menginginkan agar pendamping mereka dapat menuntun ke surga, melahirkan anak sebagai kestaria bagi umat muslim dan mengembalikan al Quds ke tangan Islam.

Najmudin berdiri dan berkata kepada syekh. Aku Akan menikahinya. Syekh berkata, “Pemudi ini miskin dan tidak memiliki apa-apa.”  Najmudin menjawabnya, “Sebenarnya ini yang aku inginkan sebagaimana impianku.”

Akhirnya Najmudin menikah dengan pemudi tersebut. Pertemuan mereka adalah bukti dari niat yang ikhlash dan kesungguhan hanya untuk Allah. Sehingga Allah memberikan rezeki seorang anak lelaki. Tumbuh sebagai kestaria yang dipersiapkan untuk merebut kembali AL Quds. Dia adalah Sholahuddin al Ayyubi.

Shalahuddin Al Ayyubi lahir pada tahun 532 H/1138 M di Tikrit, Tigris, sebuah kota yang terletak antara Baghdad dan Mosul. Adapun nama lengkapnya adalah Abdul Muzaifar Yusuf bin Najmuddi bin Ayyub. Nama pendeknya Shalahuddin Al Ayyubi. Ayahnya bernama Najmuddin Ayyub, seorang penguasa Benteng Tikrit yang berasal dari Suku Kurdi Azerbaijan.

Pendidikan Shalahuddin Al Ayyubi dimulai dengan mempelajari Al Quran, hadits, fikih, bahasa, nahwu, tarikh, dan adab di Syiria. Dia gemar berolahraga seperti menunggang kuda, dan berburu.

Pada mulanya, Shalahuddin kurang begitu dikenal oleh masyarakat. Namun, ketika Nuruddin Zanki menguasai Damaskus, ayahnya memperkenalkannya kepada Nurudin Zanki. Mulai saat itulah ia muncul di depan publik dan dikenal oleh masyarakat. Terlebih setelah ia terjun ke dunia militer. Dia memperoleh pendidikan militer yang amat baik. Mengabdi mengiringi pamannya Syirkuh, jenderal utama Nuruddin.

Karier Shalahuddin mulai terlihat ketika ia pergi ke Mesir, mendampingi pamannya Asaduddin Syirkuh pada tahun 1164 M.

Pada tahun 1169, Shalahuddin diangkat menjadi panglima dan gubernur (wazir) menggantikan pamannya yang wafat. Setelah berhasil mengadakan pemulihan dan penataan kembali sistem perekonomian dan pertahanan Mesir, Shalahuddin mulai menyusun strateginya untuk membebaskan Baitul Maqdis dari cengkeraman tentara Salib.

Shalahuddin terkenal sebagai penguasa yang menunaikan kebenaran—bahkan memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme. Tepat pada bulan September 1174, Shalahuddin menekan penguasa Dinasti Fatimiyyah supaya tunduk dan patuh pada Khalifah Daulat Abbasiyyah di Baghdad. Belom cukup sampai di situ, tiga tahun kemudian, sesudah kematian Sultan Nuruddin, Shalahuddin melebarkan sayap kekuasaannya ke Suriah dan utara Mesopotamia.

Satu persatu wilayah penting berhasil dikuasainya: Damaskus (pada tahun 1174), Aleppo atau Halb (1138) dan Mosul (1186). Sebagaimana diketahui, berkat perjanjian yang ditandatangani oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Uskup Sophronius menyusul jatuhnya Antioch, Damaskus, dan Yerusalem pada tahun 636 M, orang-orang Islam, Yahudi dan Nasrani hidup rukun dan damai di Suriah dan Palestina.

Mereka bebas dan aman menjalankan ajaran agama masing-masing di kota suci tersebut. Namun kerukunan yang telah berlangsung selama lebih 460 tahun itu kemudian porak-poranda akibat berbagai hasutan dan fitnah yang digembar-gemborkan oleh seorang patriarch bernama Ermite. Provokator ini berhasil mengobarkan semangat Paus Urbanus yang lantas mengirim ratusan ribu orang ke Yerusalem untuk Perang Salib Pertama. Kota suci ini berhasil mereka rebut pada tahun 1099.

Ratusan ribu orang Islam dibunuh dengan kejam dan biadab, sebagaimana mereka akui sendiri: “In Solomon’s Porch and in his temple, our men rode in the blood of the Saracens up to the knees of their horses.” Menyadari betapa pentingnya kedudukan Baitul Maqdis bagi ummat Islam dan mendengar kezaliman orang-orang Kristen di sana, maka pada tahun 1187 M Shalahuddin memimpin serangan ke Yerusalem. Orang Kristen mencatatnya sebagai Perang Salib ke-2.
Pasukan Shalahuddin berhasil mengalahkan tentara Kristen dalam sebuah pertempuran sengit di Hittin, Galilee pada 4 July 1187. Dua bulan kemudian (Oktober tahun yang sama), Baitul Maqdis berhasil direbut kembali.

Setelah kota Baitul Maqdis (Yerussalem) dikuasai oleh Shalahuddin al Ayyubi pada tanggal 2 Oktober 1187 M maka Paus Gregory mengumandangkan Perang Salib untuk merebut kembali kota-kota yang dikuasai oleh Shalahuddin al Ayyubi terutama Kota Baitul Maqdis (Yerussalem). Selanjutnya seruan perang diteruskan oleh Clement II yang menggantikan Paus Gregory. Seruan ini disambut oleh para penguasa di Eropa.

Berita jatuhnya Yerusalem menggegerkan seluruh dunia Kristen dan Eropa khususnya. Pada tahun 1189 tentara Kristen melancarkan serangan balik (Perang Salib ke-3), dipimpin langsung oleh Kaisar Jerman Frederick Barbarossa, Raja Prancis Philip Augustus dan Raja Inggris Richard ‘the Lion Heart’. Perang berlangsung cukup lama. Baitul Maqdis berhasil dipertahankan, dan gencatan senjata akhirnya disepakati oleh kedua-belah pihak.

Pada tahun 1192 Shalahuddin dan Raja Richard menandatangani perjanjian damai yang isinya membagi wilayah Palestina menjadi dua: daerah pesisir Laut Tengah bagi orang Kristen, sedangkan daerah perkotaan untuk orang Islam; namun demikian kedua-belah pihak boleh berkunjung ke daerah lain dengan aman.
Setelah berhasil menaklukkan Yerussalem dan melakukan perjanjian damai dengan pasukan salib, Shalahuddin kembali ke Damaskus. Setahun kemudian, tepatnya pada 4 Maret 1193, Shalahuddin menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Kontribusinya buat Islam sungguh tidak pernah bisa diukur dengan apapun di dunia ini. Banyak kisah-kisah unik dan menarik seputar Shalahuddin al-Ayyubi yang layak dijadikan teladan, terutama sikap ksatria dan kemuliaan hatinya.

Shalahuddin Al-Ayyubi atau yang juga sering disebut sebagai Sultan Saladin, adalah pahlawan Islam ketika terjadi perang salib. Pada suatu ketika dia berkata: ” Bagaimana aku ingin tertawa sedangkan masjid Al-Aqsha masih dibawah jajahan musuh? “kata Sallahuddin al-Ayubbi ketika ditanya mengapa ia selalu serius dan tidak pernah tertawa ..

Shalahuddin adalah dari keturunan Kurdi. Bukan orang Arab, bukan berkebangsaan Palestina .. tapi .. mengapa salahuddin menghabiskan sepanjang hidupnya berperang untuk membebaskan Palestina dan Al-Aqsha?

Betapa hebatnya Shalahuddin ketika berhasil menyatukan umat islam yang terpecah belah, segala persoalan paham, mazhab, ras, dan keturunan semuanya ditinggalkan untuk bersatu di bawah panji Islam yang dipimpin Shalahuddin. Bahkan .. Shalahuddin berhasil menyatukan paham yang sering berselisih yaitu Syiah dan Ahli Sunnah waljamaah untuk berjuang atas nama Islam ..

Selama Kristen merebut Yerusalem dahulu, jalan-jalan di Jerusalem ‘tersumbat’ dengan mayat-mayat, orang-orang Islam yang tidak bersenjata disiksa, dibakar dan dipanah dari jarak dekat di atas atap dan menara rumah-rumah ibadah. Darah merah mewarnai bumi Palestina akibat pembunuhan orang Islam secara massal. “Kami orang Islam tidak seperti kamu,” jawab Shalahuddin Al-Ayubi. Jawaban ini telah menyebabkan banyak orang Kristen memeluk Islam karena keindahan akhlak yang ditampilkan Shalahuddin Al-ayubbi ..

Shalahuddin tidak membalas tindakan mereka membunuh orang Islam yang tidak bersalah saat orang Kristen merebut Yerusalem. Sesuai dengan tuntutan Islam, Orang sipil tidak dapat dibunuh dalam peperangan .

Empat puluh tahun kemudian, Lord Olenby yang memimpin tentara Salibiah berhasil memasuki kembali kota Yerusalem, dia pergi ke kuburan Shalahuddin dan menginjakkan kakinya ke atas kuburan Shalahuddin sambil berkata: “Sekarang aku datang kembali ke sini.”

Alangkah penakutnya Si Olenby .. Celakalah si penakut ini karena hanya berani berhadapan dengan Shalahuddin yang telah mati .. Tidak cukup dengan itu,Pada tahun 1917 Setelah Perdana Menteri Inggris mengumumkan berakhirnya perang salib, Jenderal Perancis, Goro telah datang kekubur Shalahuddin Al-Ayubi dan menendang kubur pembela Islam ini sambil berkata “Bangunlah Salahuddin, Kami sudah sampai disini!”

Alangkah bencinya mereka terhadap Pahlawan umat Islam ini .. Maha Suci Allah, telah mengaruniakan seorang manusia yang hebat dalam membantu menegakkan umat Islam


Teman-teman guru, apa yang bisa dipetik dari kisah Sholahuddin al Ayyubi ini ?
Layakkah kita dibandingkan dengan Shalahuddin Al-Ayubi? Wahai para guru, kisahkan sejarah ini kepada anak-anak kita, agar semangat membela Islam tumbuh di dada mereka. Kenalkan mereka dengan pahlawan-pahlawan Islam, bukan pada pahlawan fiktif yang sering mereka lihat di TV. Semoga Allah mengirimkan lagi lebih banyak Salahuddin di bumi ini…

Shalahuddin Al Ayyubi merupakan pemimpin yang memiliki kepribadian dan jiwa keperwiraan yang sempurna. Karena kepribadian dan jiwa keperwiraannya inilah, ia menjadi salah satu tokoh muslim yang disegani baik oleh kawan maupun lawan. Ia termasuk dalam jajaran pemimpin teladan di dunia hingga saat ini. Kepribadian dan keperwiraan Shalahuddin dapat kita lihat melalui catatan-catatan dan fakta-fakta sejarah sebagai berikut :

1.     Shalahuddin Al Ayyubi dikenal memiliki jiwa pemurah dan penyayang terhadap pihak yang lemah

Ini terlihat ketika ia rela membebaskan para tawanannya dalam Perang Salib, tanpa meminta tebuasan sama sekali. Berbeda dengan Richard, Raja Inggris pada waktu itu, untuk membebaskan tawanan maka harus dipenuhi dua syarat, yaitu membayar tebusan sebesar 200.000 keping emas, dan tawanan muslim harus memperbaiki salib suci. Ketika sampai akhir bulan (waktu yang ditentukan) uang tebusan tidak dibayar, maka Raja Richard memerintahakn 2.700 tawanan itu untuk dibunuh. Tindakan Richard ini jauh berbeda dengan perlakuan Shalahuddin terhadap para tawanannya di Yerussalem.

Pada mulanya Shalahuddin meminta tebusan bagi beberapa ribu tawanan miskin yang tidak bisa menebus dirinya sendiri. Namun atas permintaan saudaranya, Shalahuddin membebaskan ribuan tawanan miskin. Kemudian atas permmintaan Uskup, tawanan yang lain juga dibebaskan. Mengingat bahwa saudaranya dan Uskup telah berbuat kebaikan, maka ia pun terdorong untuk melakukan hal yang sama. Akhirnya Shalahuddin membebaskan sisa tawanan termasuk wanita dan anak-anak, tanpa tebusan sama sekali.

Shalahuddin Al Ayyubi dalam usaha membangun pemerintahannya lebih mengutamakan kepentingan negara dan agama yaitu dengan cara mengganti pejabat yang melakukan korupsi dan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, ia mampu mengendalikan pemerintahan selama kurang lebih 22 tahun dengan baik dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.

2.      Shalahuddin Al Ayyubi adalah seorang perwira yang pemberani, adil, tegas, serta memiliki jiwa kesatria

Terhadap orang yang lemah atau mengaku kalah, ia akan menghormati dan melindunginya. Namun sebaliknya, ia selalu tegas dalam menyikapi segala bentuk pembangkangan dan pengkhianatan. Sifat ini terlihat ketika Shalahuddin memperlakukan para tawanannnya pada masa kota Yerussalem (Baitul Maqdis) jatuh ke tangan umat Islam. Raja Yerussalem, Guy de Lusignan, menjadi salah satu tawanan bersama Reginald yang terkenal dengan “si perusak perdamaian”. Shalahuddin memperlakukan secara berbeda. Hal ini dikarenakan Reginald melanggar perjanjian.

3.      Shalahuddin adalah perwira sejati yang mencurahkan segala upayanya semata-mata demi kejayaan agama Allah SWT dan negara

Ia bukanlah tipe penguasa yang gila harta. Hal ini dapat dilihat setelah penggulingan Dinasti Fathmiyyah, Shalahuddin membagikan harta benda yang dikumpulkan pemerintahannya kepada para nelayan dan tentara. Adapun untuk dirinya sendiri, ia tidak menimpan harta apapun. Pada saat meninggal ia hanya memiliki 17 dirham dan satu keping emas.

4.      Shalahuddin adalah pemimpin yang cinta terhadap ilmu pengetahuan dan ilmu keagamaan

Hal ini dapat dilihat dari perhatiannya terhadap pendidikan, yaitu dengan mendirikan madrasah-madrasah di negara yangia pimpin. Ia juga dikenal sebagai pelindung para sarjana, intelektual dan ilmuwan serta selalu menyokong setiap kajian yang dilakukan para ilmuwan dan ulama.

5.      Shalahuddin dikenal memiliki toleransi yang tinggi terhadap umat agama lain

Hal ini dapat kita lihat ketika ia telah berhasil menguasai kota Iskandariyah  dan Yerussalem, ia selalu mengunjungi orang-orang Kristen dan setelah tercipta perdamaian, ia memberi kesempatan dan mengizinkan orang-orang Kristen untuk berziarah ke Yerussalem (Baitul Maqdis).

Potret sejarah diatas merupakan cerminan nyata bahwa Shalahuddin adalah sosok pemimpin yang memiliki jiwa perwira. Kebesaran namanya tidak membuatnya bersikap semena-mena, meski terhadap musuh-musuhnya sekalipun. Tak diragukan lagi, kita harus berupaya meneladaninya dengan menerapkan keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian terdapat ibrah/pelajaran bagi guru dari mempelajari sejarah dan biografi Shalahuddin Al Ayyubi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari terutama untuk memenuhi kompetensi pribadi dan pedagogik, diantaranya sebagai berikut :

a.    Guru harus memiliki dream. Hendaklah guru bukan sekedar mendidik anak orang, melainkan juga mendidik anak-anak sendiri agar kelak bukan saja sebagai anak biologis, tetapi sekaligus juga anak ideologi. Ideologi anaknya sama dengan ayah dan ibunya. Mendukung dalam perjuangan dakwah. Menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Guru juga memiliki dream bahwa kelak anak-anak muridnya dan anak-anaknya sendiri dibayangkan akan menjadi pemimpin di tengah masyarakat, pejabat publik yang soleh dan menginspirasi, serta tentu saja berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

b.    Guru harus memiliki sifat as saja’ah (pemberani), terlebih dalam menegakkan kebenaran. Utamanya kebenaran teori yang diperkenalkan dalam buku-buku pelajaran. Jangan sampai ada teori atau ilmu yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, seperti teori Darwin dalam mata ajar Biologi yang berisikan teori materialism yang menuhankan materi termasuk mengajak orang meyakini bahwa semua makhluk hidup berasal dari evolusi bahkan mengatakan bahwa manusia adalah berasal dari keturunan kera. Begitu juga, peristiwa-peristiwa pemutarbalikkan sejarah yang ada di Indonesia. Bagi yang semasa SMP dan SMA nya memperhatikan pelajaran sejarah, pasti dijelaskan bahwa Islam masuk abad ke 13 yang ditandai dengan adanya kerajaan Samudra Pasai. Di sini terjadi kejanggalan sejarah, mana mungkin begitu masuk dalam waktu yang relatif singkat tiba-tiba langsung muncul sebuah kerajaan Islam. Padahal Sejarawan Muslim, Ahmad Mansur menunjukan bukti-bukti bahwa Islam sudah masuk dari abad ke 7. Bahkan Ahmad Mansur Surya Negara, Sang  penulis Api Sejarah, memaparkan bahwa penulisan sejarah telah dijadikan alat oleh penjajah untuk mengubah wawasan generasi muda Islam Indonesia tentang masa lalu perjuangan bangsa dan negaranya. Maksud dari upaya penjajah tersebut adalah untuk menghilangkan kesadaran umat Islam dalam perjuangannya.

Nah, Guru Biologi tampil meluruskan teori yang benar. Guru sejarah meluruskan bagaimana sejarah yang benar. Tentu saja pada mata pelajaran lainnya juga demikian. Guru dalam hal ini kritis dan terus belajar.

c.    Guru harus memiliki jiwa pemurah dan penyayang terhadap siapa saja, terutama kepada orang-orang lemah. Dalam hal ini adalah setiap siswa dalam satu kelas. Pemahaman guru adalah tidak ada siswa yang bodoh. Jangan biarkan siswa menjadi terbelakang. Guru-guru yang pemurah dan penyayang dapat berposisi seperti batu asah yang siap menajamkan pisau.

d.     Guru kita harus bersikap tegas terhadap segala bentuk kemaksiatan dan kemungkaran. Yang paling konkret adalah bagaimana guru memastikan siswa tidak mencontek saat ulangan atau ujian. Salah satu kelebihan didikan guru di sekolah Islam terpadu adalah anak-anak sudah terbentuk karakter jujur dalam pengerjaan ulangan bahkan ujian. Bahkan diakui juga oleh para pengawas ujian system silang yang biasa berlangsung dalam ujian nasional. Hal ini perlu terus ditumbuhkan bahwa kejujuran dalam mengerjakan ulangan dan ujian adalah bagian dari amal sholeh dan karakter penting masa kini dan mendatang.

e.    Guru harus mencintai ilmu baik ilmu pengetahuan maupun ilmu agama dengan cara belajar dengan sungguh-sungguh dan tekun. Sebagai guru, hendaknya sudah terbiasa untuk membaca buku baik yang berhubungan dengan bidang studi atau mata ajar yang diampunya maupun buku-buku yang diluar speasialisasinya. Sekolah Islam Terpadu perlu juga membantu guru dalam penyediaan buku-buku penting sehingga di sekolahnya terdapat perpustakaan guru.

f.     Guru harus bersikap adil terhadap siapa saja. Penilaian subjektif guru tentu harus diminimalisasi. Subjektivitas guru tidak dapat dihilangkan. Pendekatan penilaian objektif dalam pembelajaran harus dikedepankan. Hindari like or dislike dalam penilaian hasil belajar. Penilaian autentik yang perlu dikembangkan.

g.     Guru harus memiliki jiwa perwira dan ksatria.  Kata perwira dan kesatria dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki kesamaan yakni “orang (prajurit, perwira) yang gagah berani; pemberani;”. Dalam konteks ini, terbayang oleh kita tubuh seorang prajurit yang gagah, berotot, atletis, sehat, dan bugar. Tentu saja tidak semua atau bahkan sedikit guru yang berpenampilan postur seperti perwira dan kestaria. Harapannya adalah mentalitas guru. Guru bermental perwira dan kesatria yakni pemberani di bidangnya. Berani dalam menyampaikan kebenaran ilmu. Guru yang benar. Bukan guru yang kebetulan. Guru yang kebetulan tidak dibangun atas dasar kebenaran. Berani dalam memberikan penilaian yang objektif di tengah, misalnya, permintaan-permintaan katrol nilai.

h.    Guru harus menanamkan pada diri kita bahwa semua yang kita lakukan dalam kehidupan ini semata-mata hanya untuk mencari ridho Allah SWT. Tidak ada satupun ayat dalam Al Quran yang memuliakan kehidupan dunia. Yang menunjukkan pentingnya dunia dibandingkan akhirat. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran terpadu dengan ukhrowi menegaskan bahwa guru mengajak para siswa untuk beramal sholeh buat kepentingan dunia dan masa depannya di akhirat kelak.

Suhartono, M.Pd, Ketua Departemen Pembinaan Siswa JSIT Indonesia

Tinggalkan Balasan