Algoritma AI

Oleh : Atna Dewi

Debu jalanan menjadi saksi

Melangkah lelah berbalut safari

Tetesan peluh membasahi

Dipundakmu tertopang moral generasi demi generasi

Tekad menata kembali degradasi moral tergilas arus globalisasi

Zaman telah berganti, kau tetap mengabdi

Diujung senja usia,

Kau masih gagah memaparkan kognisi sepenuh hati

Walaupun saku tak sering berisi

Sebab gaji tinggi hanyalah ilusi

Setiap hari melangkah pasti

Datang dan pergi bukan karena uang sertifikasi

Semua ini tentang mimpi untuk negeri

Tapi, lihatlah…

Idealisme disiplinmu berakhir dibalik jeruji besi

Tersudut tanpa harga diri

Peluhmu berbalas bulir – bulir air mata dalam sunyi

Kisahmu menuai rasa empati hingga pelosok negeri

Esok, Aku dilema…

Bukan karena ragamu telah mati

Atau tak ada lagi raga berbalut safari

Tapi, hadirmu akan terganti dari kecangihan teknologi

Hadirnya tanpa ekspresi, tanpa empati berbasis algoritma AI

Esok, Aku khawatir…

‘Hanya’ ada generasi IQ tinggi penuh emosi