Berita Terbaru :

Rabu, 07 Desember 2016

Pola Makan Ala Rasulullah


oleh: Nursa'adah

Food combining adalah pola makan yang diselaraskan dengan ritme sirkardian (mekanisme alamiah tubuh manusia). Metode ini tidaklah membatasi jenis makanan tertentu, namun mengatur kombinasi makanan sehingga sesuai dengan kemampuan dan siklus pencernaan tubuh. Dengan menerapkan metode ini diharapkan beban pencernaan akan lebih ringan, tubuh dapat menyerap nutrisi secara sempurna, racun dapat dikeluarkan dari tubuh, dan sisa energi untuk pencernaan dapat disalurkan bagi perbaikan organ tubuh lainnya.

Dalam pola makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita mengenal istilah “food balancing” (menyeimbangkan sifat yang berlebih dari suatu makanan dengan lawannya). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi diri pada suatu makanan sehingga tidak makan selainnya. Ini artinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyantap berbagai varian makanan secara berimbang.

Makanan yang dibatasi pada satu atau jenis makanan tertentu tidak baik dari sisi keseimbangan tubuh, yang dapat mengakibatkan tubuh kehilangan keseimbangan sehingga berujung pada rusaknya kesehatan. Jika salah satu makanan memerlukan penyeimbang (balancing) maka beliau akan makan penyeimbangnya (balancer), seperti panasnya kurma beliau seimbangkan dengan semangka atau mentimun yang bersifat dingin. (Imam Ibnul Qayim Al-Jauziyah dalam Zadul Ma’ad fi Hadyi Khayril ‘Ibad)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda “sesorang tidaklah mengisi kantong yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi seseorang itu beberapa suap makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Jika harus (makan banyak), maka (maksimal) sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Adapun pola makan Rasulullah menurut beberapa hadits adalah sebagai berikut:
a.       Ibnul Qoyyim berkata, barang siapa memperhatikan makanan yang dikonsumsi oleh nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam, niscaya ia mengerti bahwa beliau tidak pernah memadukan menu antara susu dengan ikan, atau antara susu dengan cuka, atau antara dua makanan yang sama-sama mengandung unsur panas, unsur dingin, unsur lengket, unsur penyebab sembelit, unsur penyebab mencret, unsur keras, atau dua makanan yang mengandung unsur kontradiktif.
Misalnya antara makanan yang mengandung unsur penyebab sembelit dengan yang mengandung unsur penyebab mencret, antara yang mudah dicerna dengan yang sulit dicerna, antara yang dibakar dengan yang direbus, antara daging yang segar dengan yang sudah digarami dan dikeringkan, antara susu dengan telur, dan antara daging dengan susu. Beliau tidak pernah makan pada saat makanan terssebut masih sangat panas atau masakan yang dihangatkan untuk besok, makanan-makanan yang bulukan (berjamur) dan asin, seperti makanan-makanan yang diasinkan, diassamkan atau dihanguskan. Semua jenis makanan ini berbahaya dan menimbulkan berbagai macam gangguan kesehatan.

b.      Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam biasa melawan unsur panas pada makanan dengan unsur dingin pada makanan lain, unsur kering satu makanan dengan unsur basah makanan lain, sebagaimana beliau memakan mentimun dengan ruthob (kurma matang yang belum dikeringkan), makan tamr (kurma kering) dengan minyak samin, meminum ekstrak kurma untuk melunakkan chymus (disebut juga chyme yaitu makanan-makanan keras).

c.       Beliau tidak biasa minum ketika sedang makan, sehingga akan merusaknya, apalagi jika air tersebut panas atau dingin, karena itu merupakan pola makan yang buruk sekali.

d.      Diriwayatkan dari Abu Huroiroh, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam tidak pernah mencela makanan sedikitpun, jika suka, beliau memakannya, jika tidak dibiarkannya, tidak dimakannya.”

e.       Beliau menyukai daging, yang paling beliau sukai adalah lengan dan bagian depan kepala kambing. Karena itu, seorang wanita yahudi pernah meracuninya (pernyataan Ibnul Qoyyim dalam Ath-Thibbu’n Nabawi). Pernah suatu ketika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam diberi daging, lantas diperlihatkan bagian lengan kepada beliau, maka beliau menyukainya (H.R Bukhori dan Muslim).
Daging yang disukai oleh nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam adalah yang paling baik dan paling mudah dicerna oleh lambung, baik itu daging leher, lengan, maupun lengan atas.

f.       Beliau juga menyukai makanan-makanan manis dan madu. Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam menyukai makanan-makanan manis dan madu.”

g.      Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasalam biasa makan roti dengan lauk apa saja yang beliau punya, kadang daging, kadang semangka, kadang kurma, dan kadang cuka. Beliau bersabda, “Sebaik-baik lauk adalah cuka.”

h.      Beliau biasa makan buah-buahan hasil panen negerinya pada musimnya, beliau tidak memantangnya. Ini juga merupakan sarana yang paling besar untuk menjaga kesehatan (Ath-Thibbu’n-Nabawi).

i.        Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda : “Aku tidak makan sambil bersandar.”(Shahihu ‘I-Bukhori) Ada tiga jenis bersandar (Ath-Thibbu’n-Nabawi): 1) Bersandar pada rusuk. 2) Bersila. 3) Bersandar di atas sesuatu. Jenis pertama menyulitkan makan, karena ia menghalangi aliran makanan secara alami, menghambat kecepatan masuknya makanan ke lambung, dan menekan lambung sehingga sulit terbuka untuk makanan, lambung akan miring, tidak tegak, sehingga makanan tidak mudah sampai kepadanya. Adapun dua jenis lainnya merupakan gaya duduk orang-orang sombong yang bertentangan dengan jiwa kehambaan (Ath-Thibbu’n-Nabawi).
 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.