Berita Terbaru :

Selasa, 11 Oktober 2016

Sholat Tahajjudnya Rasulullah


Karya: Rizky M.Aulia
(Siswa Kelas VIII SMP IT Darul Hikmah)

Bila kita ingin mewarisi kehebatan, keshalehan, kebesaran jiwa, keistimewaan dan kebahagiaan puncak yang diraih rasulullah dan para sahabat, salaful saleh baik masa kini maupun yang akan datang, jawabannya adalah Qiyamul lail atau yang akrab kita sebut dengan sholat tahajjud.

Mari kita renungkan sabda Rasulullah berikut ini. “Tegakkanlah Qiyamul lail olehmu karena itulah adab para shalihin sebelum kamu, Qiyamul lail mendekatkan diri kepada Allah, menghindarkan dosa, menghilangkan berbagai kesalahan, dan mengusir penyakit dari badan (HR. Tarmidzi dan Hakim).

Keasyikan Qiyamul lail Rasullullah membuatnya tidak pernah meninggalkannya sampai wafat. Tentu saja beliau melakukannya dengan kekusyukan sampai-sampai kaki beliau pecah-pecah dan bengkak. Padahal meski tidak bersusah payah untuk melakukan shalat Tahajjud seperti itu, Allah tetap memberikan karunia yang besar dan Allah telah mengampuni segala dosa beliau dan beliau sudah dijamin masuk syurga tertinggi.

Bahkan Rasulullah melakukan sholat tahajjud ketika dalam perjalanan meski dalam kondisi tubuh yang lelah, tidak nyaman dan darurat. Bukankah untuk sholat wajib saja Allah memberikan keringanan dengan membolehkan untuk menjama’ atau mengghasarnya? Namun berbeda dengan Rasul mulia Muhammad Saw, dalam perjalananpun beliau tetap asyik dengan tahajjudnya bahkan beliau melakukannya diatas unta.

Bagaimana dengan kita? Bukankah tidak ada jaminan kalau dosa-dosa kita yang menggunung diampuni dan ibadah kita yang sedikit ini diterima? apakah ada jaminan untuk kita terbebas dari siksa api neraka yang bergejolak hebat, yang siap menyantap manusia hina seperti kita? Bercerminlah pada sholat tahajjudnya Rasul, mari bermuhasabah diri kembali tentang betapa besar nikmat yang telah Allah beri dan begitu kecil syukur kita kepada Allah.


Diriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syukban R.A bahwa Nabi SAW telah menegakkan shalat hingga menyebabkan kaki beliau pecah-pecah. Beliau ditanya “mengapa engkau menyulitkan diri dengan melakukan semua ini? Padahal Allah telah pastikan mengampuni seluruh dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang? Beliau menjawab “apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?”.
 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.