Berita Terbaru :

Senin, 15 Agustus 2016

Pesan Romantis Anies dan Ikhtiar Muhadjir



|Abri Maijon|

Kepala SMP IT Darul Hikmah-Pasaman Barat

           Presiden Jokowi memang telah menunjuk Prof. Muhadjir Effendi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menggantikan Anies Baswedan, PhD. dalam reshuffle kabinet jilid II. Banyak pihak mempertanyakan alasan Anies Baswedan diganti, karna sejauh pengamatan Anies terbilang cukup gemilang. Nyaris tidak ada kegaduhan dan pemberitaan media yang miring tentang kinerjanya selama 20 bulan menjabat sebagai Mendikbud.

Semuanya tentu menjadi hak presiden, sebagai kepala negara ia diberi hak prerogatif menilai para pembantu-pembantunya. Hanya dirinya dan tuhanlah yang tahu alasan Anies Baswedan dicopot.
Belakangan sejumlah kebijakan kemendikbud cukup mencuri perhatian publik di samping banyak persoalan nasional  lain yang mencuat. Jika mau mengulas kebelakang terobosan dan peninggalan Anies Baswedan yang kebijakannya terbilang praktis dan humanis. Seperti gerakan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai, lalu memperbesarnya menjadi Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Kegiatan literasi dimaksudkan menumbuhkan semangat membaca dan membangun keterampilan menulis siswa.
Program ini mengingat rendahnya minat baca bangsa, lembaga Most Literate Nations in the World merilis peringkat literasi internasional yang menempatkan Indonesia berada di urutan ke-60 di antara total 61 negara (Republika, 29 April 2016)
Karya berikutnya cukup fenomenal adalah tentang penertiban MOS yang sebelumnya dipenuhi oleh aksi pelonco atau bullying, bahkan kekerasan yang dilakukan senior terhadap siswa baru. Anies serius hingga menerbitkan Peratuan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi Siswa Baru.
Sekolah menyambut baik gagasan Anies, karena begitulah idealnya tidak sepatutnya siswa baru diperkenalkan dengan suatu yang berseberangan dengan konsep pendidikan, tindakan senonoh dan merendahkan harga diri. Padahal sekolah berperan membentuk karakter dan menumbuhkan budaya sehat, saling menghormati setiap hak anak didik serta seluruh stake holder sekolah. Lembaga pendidikan  mestinya kental dengan tradisi keilmuan dan nilai sosial.
Saya dengan rekan sesama guru setelah Permendikbud ini terbit berharap semoga diikuti oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Menghapus ‘pasal senior-junior’ saat orientasi mahasiswa baru diawal masuk kampus dan memutus mata rantai perpeloncoan yang turun temurun.
Anies juga meluncurkan program Hari Pertama Sekolah. Agar para orangtua meluangkan waktu mengantarkan anak-anak mereka di hari pertama sekolah. Agenda ini dilanjutkan pembentukan paguyuban orang tua, menekankan pentingnya membangun interaksi yang baik antara orangtua dengan guru dan sekolah dalam memantau pendidikan anak-anak.
Masa tugas Anies Baswedan sebagai menteri berakhir 27 Juli 2016. Beberapa saat setelah dicopot dari jabatan, pesan romantis mantan rektor Universitas Paramadina itu beredar cepat di media online dan media sosial. Sungguh menggugah. Anies  menitipkan persiapan masa depan Indonesia di tangan guru. Keberadaan siswa di sekolah menurutnya bukan sekedar menghadirkan wajah anak-anak, tapi juga wajah masa depan Indonesia. Sesungguhnya bukan matahari yang menjadikan cerah, tapi mata hati tiap-tiap anak, tiap guru yang menjadikannya cerah. Tulis Anies.
Beda Anies, lain  Muhadjir. Mendikbud baru itu punya banyak gagasan untuk membenahi benang kusut sistem pendidikan tanah air. Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu mengungkapkan tidak akan mengganti kurikulum. Menurutnya sebagus apapun kurikulum tapi mutu tenaga pendidik tidak dibenahi maka tak ada gunanya. Kompetensi dan kualitas guru berpengaruh langsung terhadap proses pembelajaran siswa.
Hanya saja kurikulum pendidikan kita terkesan maju mundur, kurikulum 2013 (K-13) misalnya, setelah sempat diberlakukan menyeluruh disetiap sekolah kemudian dikembalikan ke KTSP pada Desember 2014 lalu.
Yang paling anyar adalah gagasan menteri Muhadjir tentang Full Day School (FDS) untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), bagi sekolah negeri maupun swasta. Konsep FDS dimaksudkan dalam rangka membangun karakter siswa selama berada di lingkungan sekolah dan terhindar dari pengaruh lingkungan saat orang tua tidak di rumah dan sibuk berkerja. FDS memang sudah diterapkan di beberapa negara, dan kebijakan pendidikan di negara itu tergolong sukses, seperti Finlandia dan Jepang.
Setelah menjadi polemik FDS mendapat penolakan masyarakat, mendikbud Muhadjir akhirnya membatalkan gagasan belajar sepanjang hari itu.
Kita menghargai berbagai upaya sekaligus ikhtiar yang dilakukan Menteri Muhadjir Effendi, atau menteri siapapun dijajaran kemendikbud, dalam rangka memperbaiki kualitas dan manajemen pendidikan. Hanya saja setiap gagasan perlu dikaji lebih dulu secara mendalam sebelum dilempar ke ruang publik. Agar tak menjadi polemik sekaligus meneguhkan anggapam setiap ganti menteri ganti pula kebijakan.

Dimuat di Halaman Opini Koran Harian Singgalang, 15 Agustus 2016




 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.