Berita Terbaru :

Kamis, 04 Februari 2016

Memaknai Hari Kelahiran




| Ditulis oleh: Atna Dewi |*


"Selamat ulang tahun.. kami ucapkan.. selamat ulang tahun… panjang umur kita ‘kan do’akan…
selamat sejahtera, sehat, sentosaaaa.. selamat panjang umur dan bahagiaaaa…"
 Satu lirik yang sangat familiar dan sering didengar. Lirik ini bukanlah dinyanyikan sembarangan waktu tapi tepat pada moment peringatan hari kelahiran seseorang. Biasanya sebelum dinyanyikan sering diawali dengan kejutan dari orang – orang terdekat atau teman kerja. Mulai dari dicuekin seharian atau bahkan semingguan, dimarah – marahi, dilempar dengan telur, diguyur dengan air blue, sampai dibaluri dengan tepung, dan sebagainya. Lalu setelah semua skenario terbongkar, semua pelaku dan korban saling tertawa.

Seperti itulah lebih kurang tradisi yang tak asing dilihat. Atau mungkin pembaca pernah merasakannya sendiri. Apalagi ulang tahun yang paling ditunggu, ulang tahun diusia tujuh belas tahun. Sweet seventeen kata kawla muda.

Tulisan ini bukan untuk membahas trik merayakan peringatan kelahiran atau memberikan kejutan untuk yang berulang tahun. Tetapi, bagaimana memaknai peringatan hari kelahiran.
Dilingkungan sekitar kita sering terlihat kemewahan peringatan hari kelahiran. Mulai dari cetak undangan, biaya hiburan, sewa tempat, dan kebutuhan lainnya. Bahkan terkadang melebihi kemewahan pesta pernikahan ( yang disunnahkan untuk diberitahukan kepada masyarakat).
Apa sebenarnya yang ingin dicapai dari perayaan ulang tahun tersebut? Perasaan bahagia, kado yang banyak dan mahal, ucapan istimewa dari si dia, atau hanya sekedar tradisi saja. Menurut hemat penulis kegiatan tersebut hanya kemubaziran.

Jika perasaan bahagia yang dicari dengan suatu perayaan, sungguh terlalu mahal mendapatkan kebahagiaan itu. Padahal mendapat kebahagiaan itu sangat sederhana. Bayangkan harus menunggu waktu satu tahun untuk sebuah perasaan sangat bahagia. Celakanya, tepat dihari ulang tahun ternyata menjadi moment yang terpahit. Berarti perasaan bahagia itu tidak pernah ada. Sungguh malang.

Jika ada yang mengatakan perayaan ulang tahun untuk sebuah kebahagiaan, tidak sepenuhnya benar. Karena banyak kegersangan yang dirasakan dalam kemewahan pesta.
Penulis ingin berbagi sebuah cerita tentang seseorang yang pernah ditemui. Tepatnya seorang senior satu fakultas. Layaknya masa remaja juga menginginkan perayaan hari lahir seperti teman – teman yang lain. Terlahir sebagai anak orang kaya tentunya tidak sulit untuk mengabulkan permintaan.

Dalam kemewahan pesta, para undangan berdatangan, hiburan telah didendangkan, makanan juga tidak ketinggalan menggoda untuk dicicipi, dan tidak ketinggalan yang berulang tahun juga telah didandan sebaik mungkin. Pesta berlangsung hingga dini hari. Satu persatu para undangan mulai bubar dengan diakhiri ucapan “ selamat ulang tahun ya.. bla.. bla..”. Kemudian cium pipi kanan dan cium pipi kiri ( cipika – cipiki ).

Dipenghujung pesta tinggallah ia sendirian. Hanya ditemani sisa makanan, sampah yang berserakan, dan dinginnya malam. Hampa dan menangis sendirian. Sepi dipenghujung pesta tanpa kebahagiaan. Dari pengalaman tersebut, walaupun hanya satu kisah yang pernah penulis dengar langsung, sepertinya masih ada kisah lain yang hampir sama alurnya.
Sejatinya merasakan kebahagiaan itu bukan dihari ulang tahun saja tetapi setiap saat. Beruntung dihari ulang tahunnya berjalan sesuai harapan jika sebaliknya maka si diri tidak bahagia sepenuhnya. Sekarang penulis mengajak pembaca untuk mampu memaknai hari kelahiran secara positif.

Sikap positif menjadikan hari lahir sebagai bentuk kesyukuran dan evaluasi diri. Bersyukur karena kita masih diberikan kepercayaan oleh Allah untuk menjadi penghuni bumi. Rasa syukur bukan harus ditunjukkan dengan sebuah pesta ( berfoya – foya ). Tetapi, bisa “dirayakan” dengan lebih peduli terhadap sesama. Misalnya berbagi dengan orang yang membutuhkan, bakti sosial, menjalin silaturahim, dan lain – lain.

Disisi lain, menjadikan moment hari kelahiran sebagai bentuk evaluasi diri. Melihat kembali dengan usia saat ini apa yang telah dilakukan dan persiapan untuk akhir usia kita. Dan melihat ketercapaian target kehidupan yang pernah ditorehkan. Termasuk mengevaluasi hubungan dengan Allah, merencanakan target beribadah lebih berkualitas ( khusyu’ ), dan kepribadian yang semakin shaleh.

Selamat ulang tahun!


 *Dimuat dalam koran harian Singgalang edisi 12 November 2014
 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.