Berita Terbaru :

Kamis, 04 Februari 2016

Mahalnya Harga Cinta


| Ditulis Oleh: Atna Dewi |* 

Sejak beberapa hari terakhir hujan selalu mengguyur bumi. Saat memasuki sore bisa dipastikan awan hitam akan menurunkan hujan. Sudah menjadi rahasia umum jika memasuki bulan masehi yang berakhiran –ber, seperti September, Oktober, November, Desember, hingga awal tahun didominasi oleh tingginya curah hujan. Sehingga muncullah istilah ‘bulan ember’ karena seringnya ember digunakan untuk menampung air saat hujan turun. Pemandangan ini sering terlihat dirumah pedesaan. Seperti itulah celoteh yang sering terdengar. Seolah – olah diwariskan secara turun temurun.
Bagi sebagian kecil orang hujan menjadi sumber inspirasi untuk berkarya. Akan tetapi tidak jarang juga hujan menjadi nikmat Allah yang tidak disyukuri. Mungkin karena setiap orang memiliki kepentingan yang berbeda. Misalnya, tukang cendol akan sangat kecewa dengan turunnya hujan karena akan mengurangi penjualan. Tetapi bagi penjual jas hujan atau payung malah tersenyum lebar. Seperti itulah kehidupan yang sarat kepentingan.
Disini tidak membahas tentang keuntungan atau kerugian para pedagang dimusim hujan. Tetapi lebih dari itu. Ya, sesuatu yang luar biasa dan mendalam tentang kekuatan cinta. Kekuatan cinta yang bernilai sangat mahal. Kekuatan ini dirasakan melalui perjuangan mencari tambahan nasi untuk para santriwati ( siswa perempuan ).
Pada malam itu merupakan shift terakhir untuk piket membagikan makan malam bagi yang piket kepada santriwati. Berdasarkan kesepakatan, demi ketertiban dan keadilan tugas piket ini menjadi tanggungjawab musyrifah ( pembina asrama untuk santriwati ) selain mengajar di sekolah. Mungkin karena perut terasa lapar dan sudah saatnya makan malam ditambah lagi cuaca dingin, sehingga dengan hidangan yang disediakan meningkatkan nafsu makan para santriwati setelah sholat maghrib.
Setelah santriwati mendapatkan makan malam dan mengambil posisi berkelompok, saatnya petugas piket juga memanfaatkan waktu untuk makan. Ditengah asyiknya menikmati suapan nasi, tiba – tiba terdengar suara “ nasi habis, ustadzah”. Ternyata masih ada yang belum mendapatkan makanan karena baru datang dari asrama. Spontan suapan nasi terhenti dan segera mengambil kekurangan nasi ke dapur yang letaknya terpisah dari ruang makan.
Disinilah kekuatan cinta itu muncul untuk segera ke dapur dengan menerobos hujan tanpa payung apalagi jas hujan. Yang terpikirkan bukanlah basah kehujanan, jalan tanah yang agak becek dan tergenang air, atau suasana yang remang – remang. Tetapi bagaimana anak – anak bisa segera makan malam. Pencarian nasi ke dapur tidaklah semulus yang dibayangkan karena sesampainya di dapur, persediaan nasi tidak ada karena sudah dibagikan ke santri ( siswa laki – laki ) dan waktu memasak akan dimulai besok paginya. Sungguh luar biasa, setelah kembali dari dapur dengan tangan kosong dan kedinginan; mereka tetap dapat makan malam karena ada hati yang terpanggil untuk saling berbagi kepada yang belum mendapatkan makanan.
Dari peristiwa ini menyadarkan tentang makna cinta yang luar biasa dari orang – orang yang menyayangi. Disini mengajarkan mahalnya harga cinta. Sebagai seorang pengajar sekaligus musyrifah saja memiliki panggilan jiwa yang kuat terhadap anak – anak yang terlahir dari rahim orang lain. Apalagi hal ini terjadi pada orang tua terhadap anak – anak yang dilahirkan sendiri. Sudah pasti harganya lebih mahal. Perjuangannya lebih dahsyat. Mungkin menerobos hujan dalam jarak tempuh yang ‘sejengkal’ untuk memenuhi kebutuhan anak – anaknya sudah lumrah.
Akan tetapi sangat disayangkan dengan apa yang terjadi saat ini. Banyak anak yang membeli murah cinta para orangtuanya. Salah satu indikasinya lihat saja tanggapan ( sikap ) anak – anak terhadap kesalahan orangtua. Kesalahan yang kecil bisa menjadi besar. Merasa lebih mulia dari orang tuanya karena telah bergelimangan harta. Juga tidak jarang menganggap orangtua kolot, tidak gaul, dan berbagai sikap merendahkan lainnya.
Sebuah cerita penuh hikmah tentang cinta dan kesabaran orangtua terhadap pertanyaan anaknya tentang burung gagak. Cerita ini entah kenyataan atau tidak tetapi lihatlah dari maknanya. Lebih kurang ceritanya seperti ini.
Pada suatu sore disebuah desa ada seorang tua duduk bersama anaknya yang  baru saja menyelesaikan studi dari perguruan tinggi ternama dikotanya. Mereka duduk di halaman sambil berbincang dan memperhatikan suasana disekitar mereka. Saat asyik berbincang hinggaplah burung gagak diranting pohon tepat didepan mereka. Si ayah sambil mengarahkan telunjuk kearah burung gagak bertanya, “ nak, apakah benda yang hitam itu?”. “Burung gagak,” jawab si anak. Lalu ayahnya mengganggukkan kepala. Sejenak kemudian si ayah mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya, lalu menjawabnya dengan sedikit keras. “ Burung  gagak, Ayah!”. Tanpa disangka, ayahnya kembali mengulang pertanyaan yang sama hingga lima kali. Dengan nada yang lebih tinggi, si anak kembali menjawab “ ITU BURUNG GAGAK, AYAH!”. Seketika ayah terdiam. Suasanapun menjadi hening. Setelah menghela nafas, si ayah berkata: “ nak, dulu saat engkau berusia lima tahun juga pernah melakukan hal yang sama.  Waktu itu engkau menunjuk kearah burung gagak yang hinggap. Setelah ayah menjawabnya, engkau masih menunjuk kearah burung gagak seperti yang Ayah lakukan. Dengan sabar Ayah menjawab semua pertanyaanmu hingga dua puluh lima kali. Tetapi hari ini ayah baru bertanya lima kali, engkau sudah kehilangan kesabaran. Mendengar semua itu, si anak tertunduk dalam penyesalan.
Jika kita pernah terjebak dalam perbuatan yang menyakiti hati orang tua maka merenunglah sejenak dengan hadist shahih yang diriwayatkan oleh Muslim: “Dari Suhaili, dari ayahnya dan dari Abu Hurairah. Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda : ”Merugilah ia ( sampai 3 kali ). Para Sahabat bertanya : ”siapa ya Rasulullah? Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :“Merugilah seseorang yang hidup bersama kedua orang tuanya atau salah satunya di saat mereka tua renta, namun ia tidak masuk surga”.
Mahalnya harga cinta orangtua tidak akan pernah mampu dibeli, meskipun dengan seluruh hidup seorang anak. Tugas seorang anak adalah  berbakti kepada orangtua. Dalam hal orangtua kurang memahami anak, itu adalah pertanggungjawaban orangtua kepada sang pencipta. Jadi janganlah dijadikan alasan untuk membeli murah cinta dan pengorbanan orangtua hanya karena merasa kuat.

 *Dimuat dalam koran harian singgalang  edisi Rabu,11 September 2013
 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.