Berita Terbaru :

Selasa, 20 Oktober 2015

Kabut Asap, Kenapa Tidak Bisa Dihentikan?

|Abri Maijon|

Kepala SMP IT Darul Hikmah

       Sudah lama tidak terlihat indahnya langit biru, begitu juga sejuknya sinar mentari pagi. Seperti biasa kesejukan pagi disertai embun yang tampak memutih dari kejauahan, namun kali ini bukanlah embun, tapi kabut asap yang kian hari bertambah pekat. Udara pagi tak lagi segar seperti sedia kala. Pagi hingga petang, matahari seakan enggan menampakkan wujud dan sinarnya yang perkasa, kini sepanjang waktu hanya terlihat bulatan merah dibalik lapisan partikel asap yang berterbangan dipermukaan langit dan bumi. Kita dibuat tak berdaya. Pahit dan getir, hari-hari berlalu berderap lesu. Dadapun  sesak dikepung kabut asap yang semakin hari tak kunjung hilang.
Kenyamanan kita seolah terkoyak, hilang dibawa dan dirampas para pengeruk keuntungan akibat keserakahan dan godaan nafsu. Mungkin inilah salah satu bukti peringatan Allah yang tertulis di dalam kitabnya; Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Tapi sepertinya manusia seakan tak  peduli dengan semua itu, demi mengejar keuntungan jutaan orang menderita dan menjadi korban, dan tidak sedikit pula dampak kerusakan yang terjadi.
Saya, orang awam ini terus bertanya dalam hati. Kenapa bencana kabut terus berlarut dan seperti tak teratasi. Ini benar benar sudah membuat resah. Rasanya ‘musibah’ kebakaran/pembakaran hutan kejadiannya sangat berbeda dengan bencana lain seperti gempa bumi, atau gunung meletus. Kebakaran/pembakaran objeknya jelas, titiknyapun dapat dilihat dan ditentukan. Bahkan kejadiannya hampir terulang setiap tahun. Berbeda dengan gempa bumi atau letusan gunung, yang tidak dapat dihindari dan relatif tidak tahu kapan akan terjadi.
Kini, ribuan pelajar terlantar sekolahnya diliburkan akibat  asap yang berbahaya.  Orang tua terus dilanda kecemasan terhadap kesehatan dan masa depan pertumbuhan anaknya. Ratusan orang telah dirawat di rumah sakit, beberapa diantara mereka ada yang meninggal karena tak mampu bertahan hidup di tengah udara yang tidak sehat.
Ketakutan terus berlanjut menyusul informasi tanda bahaya akibat udara yg tercemar yang dikeluarkan pihak berwenang dan ditulis media saban hari, ancaman ISPA juga ikut menghantui.
Kabut asap dari kebakaran/pembakaran hutan dan lahan kian pekat terus berlanjut. Daerah yang jauh dari titik kebakaran saja seperti Pasaman Barat, sudah sangat pekat kabut asapnya, apa lagi ditempat munculnya titik kebakaran.
Kualitas udara memburuk melebihi ambang batas mencapai 900 Psi dan bertanda bahaya. Masyarakatpun dibuat semakin resah dan panik, walau sekalipun telah ‘mengurung’ diri di dalam rumah. Sebagian warga di sejumlah daerah terutama di daerah pusat bencana terpaksa menggunakan alat bantu oksigen untuk bernafas. Oksigen pun kini menjadi bisnis laris manis dan langka terutama di daerah itu.
Kabarnya, kebakaran hutan tahun ini adalah musibah kebakaran terparah sepanjang sejarah. Bahkan api melalap hutan Sumatera dan Kalimantan menyentuh kedalaman tiga sampai lima meter di bawah permukaan tanah. Mengerikan!
Upaya penanggulangan kabut asap akibat kebekaran hutan belum/tidak melihatkan hasil yang memuaskan. Tak tampak upaya maksimal dari pemerintah agar penanganan kebakaran segera teratasi. Semua seolah menunggu keajaiban.
Negara mestinya mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki, seperti aparat TNI beserta kelengkapan yang dimiliki, pihak kepolisian, hingga sipil atau komponen terkait sebagai upaya penyelamatan.
Apakah karena ‘bencana’ kabut asap belum ditingkatkan satusnya sebagai bencana nasional sehingga pemerintah terkesan tidak bertindak cepat dan merasa tidak perlu memikirkan langkah tuntas sebagai upaya penyelamatan itu. Akankah menunggu puluhan ribu nyawa manusia melayang dan mati terbunuh akibat udara beracun baru kemudian ditetapkan seagai bencana nasional?
Jika ditelaah beberapa penjelasan yang dikeluarkan pejabat terkait dalam hal ini menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Mereka seperti memahami solusi mengakhiri dampak kebakaran hutan. Seperti yang diungkapkan Menteri Siti Nur Baya, Pemadaman api dan asap akibat kebakaran dilakukan dengan menggunakan teknologi baru. Diantaranya penggunaan air yang dicampur dengan flame freeze berupa tetrahedron.
Teknologi tersebut menurutnya akan membuat api padam tanpa mengeluarkan asap. Sebab asap yang keluar dari pemadaman api akan langsung berubah menjadi wujud beku. Teknologi seperti ini, pernah digunakan dalam pemadaman kebakaran hutan di Gunung Parang, Purwakarta, Jawa Tengah.
Jika itu adalah solusi kenapa pemerintah belum bergerak sesuai dengan teorinya. Yang dibutuhakn hari ini tentu program aksi agar rakyat dapat terbebas dari derita dan nestapa.
Namun disisi lain, pemerintah juga harus lebih transparan dan bersikap tegas terhadap perambah dan pembakar hutan yang kejadiannya terus terulang. Sekali lagi, bencana ini terjadi karena ulah para pengusaha atau perusahaan untuk mengeruk keuntungan maksimal. Sebagaimana temuan terbaru lebih dari 200 perusahaan penyebab kebakaran hutan. Sebagian diantaranya berasal dari perusahan besar dan ternama yang berasal dari dalam negeri maupun asing. Mereka harus diusut tuntas, diadili seadil-adilnya dan diberikan efek jera seperti diblack list untuk dicabut izin  operasional perusahan yang bersangkutan.
Sebab, sampai hari ini kita tidak melihat pelaku pembakar hutan diseret dan dikenakan rompi orange seperti perlakuan pasca penetapan tersangka korupsi di pelataran gedung KPK. Mediapun gagap gempita menyambut dan menulisnya di headline utama. Semoga!


Dimuat di Koran Harian Singgalang, Senin, 19 Oktober 2015
 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.