Berita Terbaru :

Kamis, 07 Mei 2015

UANG RECEH | Oleh : ATNA DEWI

Dimuat di SMS Harian Sianggalang 11 Februari 2015

Banyak hikmah yang bisa diambil dari setiap kejadian. Mulai dari kejadian yang biasa – biasa saja sampai kejadian luar biasa yang tidak terduga. Khususnya dalam kehidupan penulis, begitu banyak kejutan dari Allah yang dirasakan. Salah satunya kisah hikmah beberapa hari yang lalu. Mungkin dibandingkan dengan kisah yang pernah pembaca alami, belumlah seberapa dengan yang saya alami. Tetapi untuk berbagi inspirasi dalam kebaikan, penulis pikir tidak ada salahnya.

Dalam kejadian ini penulis merasakan sungguh dahsyat dan cepatnya perhitungan Allah. Beberapa hari yang lalu, para karyawan dan staff pengajar menerima gaji bulanan. Diwaktu yang bersamaan, ada kegiatan penggalangan dana. Tanpa berpikir panjang, saya mengambil beberapa lembar uang dari amplop yang baru saja diterima. Lalu memberikan kepada salah satu panitia yang juga teman kerja.

Berselang beberapa waktu, saya keluar dari ruangan menuju ketempat tinggal ( asrama ). Tanpa diduga saya di’cegat’ oleh seseorang sambil menyodorkan uang yang cukup besar ( menurut saya ). Sejenak saya terpana. Setelah bercerita panjang lebar, ternyata uang itu adalah uang yang pernah dipinjam beberapa waktu lalu. Bahkan dari perjalanan waktu, saya tidak lagi mengingat uang tersebut.

Subhanallah… Seperti itulah cara Allah menunjukkan Maha kasih – sayang Nya disaat yang tepat. Sejenak saya merenung, dan teringat dengan donasi yang saya berikan lebih kurang satu jam lalu. Allah langsung membalasnya dalam waktu yang sangat singkat.

Inilah salah satu pengalaman yang saya alami tentang kesempurnaan dan maha cepatnya perhitungan Allah. Penulis sangat yakin pembaca tentu memiliki pengalaman yang lebih dahsyat lagi perhitunganNya dengan sedekah/infak yang diberikan. 

Dalam keseharian kita sering menemukan kotak – kotak amal. Baik kotak amal yang disodorkan maupun yang kotak amal yang diparkir. Lalu apa tanggapan kita? Tersenyum lalu langsung membuka dompet. Atau mengangkat tangan disertai dengan ucapan “ maaf ”. Bisa jadi lebih “anarkis” lagi dengan cara menghardik lalu tanpa memberikan apa – apa. Tentunya kita yang lebih mengetahui kejadian yang sebenarnya.

Satu hal menarik, sering kita saksikan sebuah fenomena memilih pecahan uang yang paling kecil dari dompet/saku pakaian. Pecahan uang paling kecil ini saya menyebutnya dengan uang receh. Nah, jika ada uang receh maka itulah yang akan berpindah tuan.

Penulis juga tidak menyalahkan dengan sikap tersebut. Karena memang kita telah di’racuni’ dengan ungkapan: “ kalau bersedekah/infak itu biarlah sedikit asalkan ikhlas”. Tetapi, mulai saat ini saatnya kita menggeser paradigma dari ungkapan tersebut. Ketika disampaikan ungkapan tersebut, saya lebih suka membalas dengan ungkapan lain: “ bersedekah itu lebih baik lagi jika secara nominalnya besar dan ditambah dengan keikhlasan”.

Membahas tentang sedekah/infak disebutkan dalam al – qur’an dalam surat Al – Baqarah ayat 261 yang artinya: “ Perumpamaan ( nafkah yang dikeluarkan oleh ) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan ( ganjaran ) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas ( karunia-Nya ) lagi Maha Mengetahui.”

Allah sendiri yang menjamin tentang tidak akan merugi jika membiasakan sering ( banyak ) memberi ( khususnya berinfak/sedekah ). 

Berikut ini hitungan matematika sederhana tentang sedekah berdasarkan ayat diatas. Misalkan seseorang bersedekah sebesar Rp 10.000,-. Dengan modal awal Rp 10.000,- tersebut akan tumbuh menjadi tujuh bulir ( Rp 10.000,- x 7 = Rp 70.000,- ). Bahkan perhitungannya tidak hanya sampai disitu, Allah menjanjikan dalam setiap bulir tadi akan tumbuh lagi 100 biji per bulir nya ( Rp 70.000 x 100 = Rp 7.000.000,- ).

Mari sejenak kita berpikir, jika modal awal kita Rp 10.000,- maka nilai akhirnya Rp 7.000.000,-. Tentunya dengan modal awal yang lebih besar lagi maka hasil akhirnya pasti juga akan lebih besar. Sudah dipastikan tidak akan merugi, yang ada hanyalah keuntungan yang berlipat ganda.

Selain menghilangkan budaya memilih uang receh, ada yang hal lain yang perlu kita perhatikan agar sedekah kita mampu menjadi amal yang terus bermanfaat. Saat ini banyak lembaga/organisasi, atau perorangan yang membutuhkan donasi. Disinilah saatnya seorang dermawan/donatur membuka mata dan hati tentang perjalanan atau target dari donasi yang diberikan.

Walaupun sebenarnya apa yang telah diberikan tidak lagi menjadi urusan para dermawan/donatur sesuai dengan konsep keikhlasan ( tidak mengingat donasi yang pernah diberikan ). Tetapi alangkah baiknya memberikan donasi yang tepat guna dan memperhatikan asas manfaat.

Sehingga para dermawan/donatur bukan hanya sebatas kegiatan memberikan uang. Sudah menjadi rahasia umum banyak penggalangan dana yang memiliki ketidakjelasan tujuan. Atau sekurang - kurangnya dana yang terkumpul hanya untuk hura – hura saja, seperti dana perayaan tahun baru.

Penulis berpendapat akan lebih bermanfaat jika memberikan donasi kepada lembaga kemanusiaan ( sosial ), pembangunan lembaga pendidikan terutama yang berbasis islami, pembangunan rumah tahfizh qur’an ( penghafal al-qur’an ), lembaga pendidikan dan pembangunan karakter anak bangsa, dan lain – lain.

Disisi lain, disadari atau tidak masih terlintas dibenak kita untuk memandang balasan Allah dengan materi. Kalau yang diberikan dalam bentuk uang, maka balasan yang diharapakan juga uang. Atau ketidaksabaran dalam versi lain; “ Dulu saya pernah bersedekah tapi kok sampai hari ini tidak pernah mendapatkan seperti hitungan yang dicontohkan diatas.

Ketahuilah, Allah tidak pernah ingkar janji meskipun makhluk ciptaannya yang sering tidak menepati janji. Pernahkah kita berfikir tentang nikmat kesehatan, nikmat kesempatan, dan nikmat lainnya. Itulah balasan Allah yang sering tidak kita sadari bahkan sering mengabaikannya.

Jika nikmat kesehatan saja yang dicabut dari diri kita sehingga harus dirawat dirumah sakit. Lalu, kita harus membeli oksigen untuk setiap kali bernafas atau harus cuci darah secara berkala, dan sebagainya. Maka cukupkah sedekah yang kita berikan dengan balasan yang diberikan Allah kepada kita? 

Mari kita bertekad untuk memperbaiki sedekah. Memberikan sedekah terbaik dalam setiap kesempatan. Sehingga menghilangkan budaya memilih uang receh ketika ada peluang beramal. Wallahu’alam bissawab.
 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.