Berita Terbaru :

Jumat, 08 Mei 2015

ARTIKEL SISWA | MY ENEMY IS MY BEST FRIEND

Oleh: Musrifatul Kharomah

Hempasan keping – keping malam membisik ditelingaku untuk bangkit dari mati suriku. Tiada suka sebelum duka. Tiada bahagia sebelum lara. Tiada sayang sebelum ta’arufan. Itulah frase – frase yang terselip dihatiku saat menjelajah daerah baru. Pahit tidak terduga hingga aku mual sebelum mencoba. 

Sungguh dahsyatnya hati yang belum mengenal mereka sebelumnya. Jika hati dapat meluahkan kata – kata secara spontan lebih baik kutak hadir dalam kehidupan mereka. Mengapa aku harus terdampar disini. Tetapi apa boleh buat. Nasi telah menjadi bubur. Apalagi perjalanan nasi menjadi bubur ini juga karena orangtuaku. Enak tidak enak harus dikatakan enak. Itulah penguatan yang mungkin bisa kupegang.

Ini merupakan kisah sewaktu aku kelas 3 SD. Di sebuah desa kecil Kabupaten Tegal, Jawa Tengah itulah nama tempatnya. Sebelum sampai ditempat tujuan dari Pulau Sumatera, rasanya sayang jika perjalanan kesana terlewatkan. Waktu itu masih dalam perjalanan awal ke Tegal. Pertama kali menginjakkan kaki kedalam bus dengan suasana yang dihadapi sangat pengap, bising, aroma tidak sedap, dan pakaian yang basah karena cucuran keringat. Semuanya campur aduk. Lumayan kalau campur aduknya menjadi sepiring gado – gado. Enak dimakan. Alhasil, sebelum berangkat muntahku sudah tidak sabar untuk keluar sebelum pak sopir tancap gas.

Setelah melewati perjalanan yang sangat melelahkan. Aku dan keluarga sampai juga ditempat tujuan. Satu sisi aku bahagia dengan keluarga besar tetapi disisi lain aku menjadi canggung. Mengapa? Karena seminggu sejak kedatanganku, bisa dikatakan aku tidak mempunyai teman. Apalagi aku bukanlah orang fleksibel dalam pergaulan.

Dalam kesendirianku berfikir, tidak enak ternyata dikampung sendiri. Waktu terus berjalan, akhirnya aku memiliki teman; Faisal, Lesy, Keisya, Rudoh, Jeki, Adah, Tesa, Nesya, Lidya, Roni, dan Eko. Ternyata satu dari mereka yaitu Roni tidak menyukaiku. Entah mengapa aku tidak pernah tahu alasannya saat itu. Aku berfikir, apa kesalahan yang telah kulakukan. Padahal aku pendatang baru disini.

Hari – hari inginku lalui dengan kebahagiaan. Tetapi saat ada Roni dalam permainan kami, perasaanku menjadi tidak enak. Melihat sikapnya yang tidak bersahabat, dengan sifat kekanak-kanakannya aku juga terbawa emosi jadinya. Bawaannya tidak enak hati, jika berbicara sering bernada tinggi.

Pada suatu hari yang membuatku mulai tersadar, mungkin disinilah jalanku untuk tidak larut dengan sikap kasar tanpa alasan bahkan cenderung terbawa emosi. Hari itu aku menemukan buku diarynya. Hatiku tertarik untuk membalik halaman demi halaman. Dari isi diarynya sejenak aku tercenung. Aku ingat pasti kata per katanya. Lebih kurang yang kuingat: “ Mus, Kalaupun kamu menganggapku seorang musuh tetapi aku menganggapmu sebagai seorang sahabat terbaikku dari yang lainnya. Terima kasih, Mus. Kehadiranmu menyadarkanku atas kekuranganku selama ini. Mungkin caraku saja yang tidak cocok dengan karaktermu”. Seingatku setelah membacanya, hati merasa iba, menangis, dan menyesali. Sebenarnya bukan isi diarynya yang membuatku menangis tetapi keegoisanku. Sikapku yang keterlaluan, membalas sikapnya dengan kemarahan dan bentakan. 

Setelah membaca curahan hatinya didiary tersebut, aku berlari penuh penyesalan. Diujung pelarian langkah kakiku, tepat dibawah pohon mangga aku bertemu dengannya, teman yang semula ku anggap musuh bebuyutanku. Ku tatap dia, secara spontan bibirkupun berkata, “ Maafkan aku, Ron. Telah lancang membaca diary mu dan bersikap tidak baik selama ini padamu”.

***

Setelah kejadian itu aku, Roni dan teman – teman lainnya menikmati hari – hari penuh kebahagiaan. Sejak saat itulah perasaanku tanpa beban lagi. Semua “racun emosi” rasanya telah menemukan penawarnya. Indahnya menjalani kehidupan tanpa penyakit hati sebagaimana yang telah diajarkan dalam islam.

Diujung masa liburan panjangku untuk kembali ke pulau Sumatera, aku menuliskan surat untuk Roni. Dalam surat itu ada bertuliskan “ Musuhku adalah sahabat terbaikku”. Kata itu kutuliskan berukuran besar dan berwarna – warni agar indah dipandang mata dan tidak jemu memandangnya.

Saat keberangkatanku ke pulau Sumatera, mereka memberikan kado sebagai kenang – kenangan yang isinya sepasang ikat rambut dan cincin mainan. Bagiku keikhlasan merekalah yang sangat berharga yang menambah kehangatan persahabatan. Hingga kini aku masih merasakan bulir – bulir kesejukan persahabatan itu walaupun kami berada dipulau yang berbeda.
 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.