Berita Terbaru :

Selasa, 03 Maret 2015

UN Online, dan Mapel TIK yang Hilang



|oleh Abri Maijon|


Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana akan memberlakukan Ujian Nasional (UN) secara Online. Jika tidak ada aral melintang pelaksanakan itu akan diujicobakan pada UN tahun 2015 ini untuk 500 sekolah jenjang SMA. Gagasan UN berbasis komputerisasi itu menurut Wakil Mendikbud Musliar Kasim akan menghemat anggaran sampai 50 persen. Tahun 2014 saja biaya penyelenggaraan UN mencapai Rp 500 miliar.
Kebijakan memanfaatkan teknologi ini tentu saja membawa banyak kelebihan, di samping penghematan anggaran, manfaat lain seperti akurasi hasil, sumber daya yang dibutuhkan jelas tidak sebanyak yang dilaksanakan secara manual. Dengan teknologi juga dapat menekan potensi kecurangan atau ketidak jujuran.
Namun begitu, diperlukan kesiapan yang memadai agar program dapat berjalan sesuai harapan. Antara lain ketersediaan sarana pendukung. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua sekolah memiliki peralatan komputer apa lagi dengan jumlah yang mencukupi.
Selain fasilitas komputer dibutuhkan jaringan internet yang memadai,  agar ujian secara online terlaksana dengan baik. Kita tentu tidak ingin siswa kehabisan waktu untuk mengerjakan soal karena layanan akses internet yang bermasalah akibat digunakan secara bersamaan disatu waktu. Sebagai mana yang terjadi saat ujian online PLPG guru, atau tes CPNS yang layanannya lumpuh dan ngadat seketika. Begitu juga dengan siswa yang dihantui ketakutan, dan trauma akibat gagap dengan perangkat komputer dan teknologi.
Untuk menunjang suksesnya kebijakan, Kemendikbud juga akan  melengkapi kebutuhan sekaligus fasilitas komputer dan teknologi informasi di sekolah secara bertahap.  
Namun gebrakan kementrian yang dipimpin Anies Baswedan itu seolah tidak konsisten dengan kebijakan kemendikbud yang menghapuskan TIK sebagaimana yang termuat dalam struktur kurikulum 2013 karena alasan pemerintah tidak/belum sanggup menyiapkan perangkat komputer di sekolah yang memadai. Mengapa untuk UN Online pemerintah berani dan tidak mengeluh tak punya anggaran?
Hilangnya mata pelajaran TIK adalah fenomena yang menarik sekaligus absurd di tengah hingar bingar perkembangan Teknologi Informasi dalam menopang kemajuan pendidikan di Indonesia.
Pelajaran TIK sebenarnya bukan hanya sekedar mengajarkan masalah teknis mengenai bagaimana mengoperasikan sebuah software dan hardware. Meskipun tidak dipungkiri bahwa selama ini muatan materi TIK dalam KTSP masih menitikberatkan pada substansi ini. TIK perlu diarahkan ke tujuan yang mendalam lagi.
TIK mestinya dijadikan pendidikan nilai bagaimana cara memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang positif dan bertanggungjawab. Pembelajarannya difokuskan agar siswa memahami etika penggunaan teknologi, cerdas dalam memanfaatkan media sekaligus jaringannya.
Pembelajaran TIK harusnya didisain dan berperan dalam mendukung capaian prestasi akademik siswa. Sehingga tidak selamanya dicetak menjadi seorang operator yang pasif. Mereka juga harus mampu berinovasi menemukan hal-hal baru dengan pemanfaatan teknologi.
TIK terasa semakin penting peranannya kerena setiap bangsa akan menjadi bagian dalam perkembangan arus globalisasi yang mensyaratkan penguasaan teknologi tingkat tinggi di segala aspek kehidupan. Bangsa yang tidak mengenal dan menguasai teknologi akan menjadi bangsa yang tertinggal sekaligus tertindas.

 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.