Berita Terbaru :

Jumat, 06 Maret 2015

PENGHALANG TERBESAR DALAM MENGHAFAL AL-QURAN

Oleh: Kusrin, MZ
(Dimuat di Harian Singgalang, Kolom SMS Rabu 04 Maret 2015 dan media on line Dakwatuna)

Masing-masing diantara kita tentu saja bercita-cita untuk mengahafal Al-Quran. Karena begitu besarnya kemuliaan bagi penghafal Al-Quran baik di dunia apalagi di akhirat. Kita merasakan semangat dan merasa bahwa kita sebenarnya mampu menghafalnya dengan cara membacanya secara konsisten, mengahafal ayat demi ayat, surat pendek menuju surat panjang, juz demi juz. Namun setelah itu berbagai gangguan dan bisikan batin membuat kita malas dan semangat mengendor dengan alasan banyak surat yang mirip, kata-kata yang sulit, waktu sempit dan banyak kesibukan.
Parahnya lagi , sesudah itu banyak di antara kita mengaku lemah dan berkata “Menghafal memang sulit.” “Menghafal setiap hari itu mustahil.” Sementara kita tidak menyadari bahwa kesulitan mengahafal Al-Quran itu bukanlah karena Al-Quran itu yang sulit. Padahal Allah telah menjadikan kemudahan dalam menghafal Al-Quran. (lihat QS: [54]: 17).
Berbagai sarana menghafal dan membaca Al-Quran sudah kita miliki secara lengkap. Akan tetapi yang menjadi problemnya adalah cara menggunakan segala sarana tersebut. Kalau demikian, apa yang menyebabkan kita menjadi lemah?. Apa yang menjadi penghalang di tengah jalan?. Apa yang menghalangi kita untuk menghafal? Apa yang menghalangi untuk membaca Al-Quran?
Dari sekian banyak penghalang menghafal Al-Quran, yang paling menonjol adalah:
maksiat dan dosa: dosa-dosa kita kepada Allah itulah yang menyebabkan kita lemah untuk menghafal. Dosa-dosa itu pulalah yang mendorong akal kita untuk mudah lupa, menerbangkan hafalan yang sudah hafal dan menyebabkan ayat terbolak-balik serta melenyapkan ayat-ayat mirip. Terkadang kita merasa puas dengan pernyataan bahwa dosa itu yang menjadi penghalang. Akan tetapi coba kita bertanya kepada diri sendiri, “kenapa anak-anak kecil lebih mampu menghafal darp pada orang dewasa? Apakah karena otaknya lebih bersih, masih terbebas dari banyak masalah dan kesedihannya. Atau karena dosanya belum menumpuk sebagaimana orang dewasa?
Kejernihan otak kadang memang memiliki peranan. Akan tetapi peran utama justru berasal dari jiwa yang belum terkotori maksiat dan belum bertumpuk dosa. Kita tidak pernah mengaitkan antara semua perbuatan dengan hasil yang kita capai. Apakah semua perbuatan itu akan bisa menyebabkan Allah menjadi ridho atau tidak? Apakah semua perbuatan termasuk dosa dan maksiat atau tidaka?
Banyak waktu tersia-siakan. Banyak harta terbuang. Banyak potensi tercurahkan hanya untuk mempelajari hal-hal yang sepele, menonton berbagai acara TV, membuka internet, berlama-lama dengan jejaring social, membaca majalah, koran, berkunjung kerumah teman, menelepon atau belanja. Memang semua itu tidak sepenuhnya salah asalkan sesuai porsi dan kebutuhannya. Jangan sampai kita berdalih “sudah tidak ada lagi waktu untuk membaca dan menghafal Al-Quran. Sehingga waktu untuk Al-Quran tinggal sisa dan diurutan yang terakhir, mana waktu utama kita bersama Al-Quran. 
Ketika ada yang mengingatkan tentang Kitabullah dan untuk menghafalnya, banyak berdalih,”nanti saya akan menghafal.” Kata-kata itulah yang selalu di ulang-ulang selama bertahun-tahun, padahal berapakah jatah umur kita? Hanya Allah yang tau.
Dalam buku Shifatu sh-Shofwah II:220. Allah berfirman: “demi keagungan dan kemuliaan-Ku setiap hamba yang lebih memperturutkan kemauan-Ku daripada hawa nafsunya, pasti aku lenyapkan kemurungannya, akan Aku kumpulkan harta bendanya serta Kubebaskan dari kemiskinan hatinya, sementara kekanyaan akan Kujadikan dihadapan matanya, Kujadikan dirinya sebagai saudagar melalui setiapa pedagang.==
Demi keagugan dan kemuliaan-Ku, setiap hamba yang lebih memperturutkan hawa nafsunya daripada kemauan-Ku, pasti akan banyak murung, akan Kucerai-beraikan harta bendanya, akan kucabut kekayaan dari dalam hatinya, kemudian Aku tidak akan memperdulikan, di lembah mana dia akan binasa.
Bahaya terbesar yang dihadapi oleh seorang muslim adalah bila ia melakukan sesuatu hanya untuk dunianya saja, maka akan hancur binasa dan tidak bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya. Karena yang kekal hanyalah ketaatan dan ibadah disertai niat yang baik dan ikhlas. Pahala ibadah itu kekal. Oleh sebab itu yuk kita kurangi porsi yang melenakan kita dari Al-Quran, jangan berlama-lama menghadiri resepsi, keluar masuk-pasar, berlama-lama menonton TV, asyik dengan jejaring social, pekerjaan-pekerjaan kecil yang menghabiskan waktu dengan sia-sia. Terkadang dosa dan maksiat ibarat gunung karena besarnya, akan tetapi sesorang muslim tidak menyadari. Wallahu’alam.

 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.