Berita Terbaru :

Rabu, 11 Maret 2015

Jalan Terjal Pendidikan Karakter



|Oleh: Abri Maijon|
 
Rasa sedih dan pilu setiap kali marasuki pikiran dan nurani kita tentang kondisi bangsa yang seolah bergerak kearah yang tidak menentu. Hingar-bingar peristiwa negatif yang terjadi sepanjang waktu menandakan negeri ini sedang mengalami ‘sakit’ yang membahayakan. Tengoklah layar kaca kita yang saban waktu diserbu tayangan-tayangan kekerasan, kriminal, kejahatan, korupsi, dan seterusnya. Siaran-siaran televisi kita pelit dengan acara yang mendorong produktivitas, dan inovasi, begitu juga dengan nilai dan karakter yang sejatinya melekat sebagai bangsa yang berbudaya sekaligus beragama. 
            Inilah yang terabaikan, berbagai program tayangan televisi kita menyuguhkan tontonan yang tidak mendidik. Sebagian tayangan kekerasan sebagian lainnya diisi tontonan yang tidak pantas disaksikan anak-anak. Bahkan iklan komersial sekalipun tak luput dari unsur negatif, kadang tidak ada kaitan materi iklan dengan peran tokoh perempuan yang mengumbar aurat serta fulgar. Seakan produknya tidak menarik jika tidak melibatkan tokoh kontraversial sebagai perannya.
Perilaku (sebagian) pejabat atau figur yang terjerat berbagai kasus juga menjadi preseden buruk bagi dunia pendidikan. Gagap gempita pemberitaan kasus korupsi pejabat telah menjadi santapan harian publik di negeri ini termasuk di dalamnya anak-anak para generasi penerus bangsa. Kita tidak tahu apa yang ada dibenak anak-anak seusia mereka ketika menyaksikan wajah-wajah koruptor yang tak tau malu itu. Begitu juga berbagai kejadian saling sikut, saling jegal, saling serang, serta fitnah dan bully yang tak patut diumbar dan menjadi tontonan.
Fenomena hari ini juga menunjukkan hal yang tidak sehat, saat banyak yang mengagumi tokoh publik bahkan pemimpin yang tampil frontal dimuka publik, keras, bahkan disertai bahasa kasar dan tak patut diucapkan. Orang menyebutnya pemimpin sejati, tegas, pemberani bak pahlawan. Dipuja media massa. Sementara pemimpin lain yang memilih tutur bahasa yang santun dan bertangan dingin malah dianggap tidak hebat dan tak fenomenal. Aneh!  Ada apa dengan bangsa ini, semakin lama kian kehilangan jati sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai ketimuran. Keteladanan terasa semakin mahal. 
Thomas Lickona seorang pendidik karakter dari Cortlaand University, dikenal sebagai tokoh pendidikan karakter Amerika menyatakan, bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran jika memiliki sepuluh tanda-tanda. Yakni meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, membudayanya ketidakjujuran, sikap fanatik pada kelompok, rendahnya rasa hormat pada orang tua dan guru, semakin kaburnya moral baik atau buruk, membudayanya penggunaan bahasa yang buruk, meningkatnya perilaku merusak diri seperti penyalahgunaan narkotika, alkohol, seks bebas, rendahnya rasa tanggung jawab sebagai individu dan sebagai warga negara, menurunnya etos kerja, dan adanya rasa saling mencurigai atau kurangnya kepedulian antar sesama (Lickona dalam Syaharudin, 2010)
Pendidikan karakter adalah perkara besar. Ini masalah bangsa yang sangat serius. Kita setuju sekolah dan guru menjadi ujung tombak pendidikan karakter. Guru adalah pendidik professional yang mempunyai tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, membina, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional diamanatkan seorang guru harus memiliki kompetensi kepribadian yang baik.
Akan tetapi penanaman nilai karakter bukan hanya tanggungjawab guru dan sekolah an sich! Juga bukan hanya urusan Kementerian Pendidikan, dan seterusnya. Tetapi tanggungjawab moral sesama anak bangsa, untuk menyelamatkan masa depan negeri ini. Siapa saja harus mengoreksi diri, mengendalikan nafsu. Mengajarkan dan memberi teladan.  Jangan minta generasi bangsa berkarakter, tapi pendidik, pejabat termasuk media massanya melakukan hal yang bertolak belakang dengan tugas mulia itu.
Kita mesti beajar banyak pada Jepang soal budaya dan karakter bangsa. Pendidikan Jepang tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaannya. Karakter malu apabila melakukan kelalaian, termasuk malu tidak berprestasi adalah budaya yang sudah melekat.  Mundur dari jabatan pemerintahan, hingga pekerja keras bukan kebiasaan yang asing lagi.
Sampai di sini, budaya malu Jepang layak diapresiasi dan dijadikan kaca diri bagi bangsa ini. Negeri Sakura itu mampu menjaga martabat dan kualitas hidup bangsanya dengan pendidikan. Berhasilnya pendidikan (karakter) di jepang, terletak pada perhatian dan dukungan yang tinggi pada sektor pendidikan yang datang dari semua masyarakatnya. Kita patut belajar untuk keluar dari dekadensi yang membelit negeri ini.
 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.