Berita Terbaru :

Jumat, 13 Februari 2015

Seni Memilih Kehidupan

Oleh | Atna Dewi, SH

Hidup adalah pilihan. Life is Choice kata orang benua seberang sana. Sebut saja benua Eropa atau benua Amerika. Sebuah slogan yang sering dipublikasikan. Baik sebagai kata bijak atau ikon iklan komersial semata. Satu slogan yang sangat menarik bagi diri penulis.

Hidup adalah pilihan. Tiga suku kata yang berperan penting dalam kehidupan. Penulis mengajak pembaca untuk sepakat dengan besarnya peran tiga suku kata tersebut. Terutama bagi yang masih mau memikirkan akhir perjalanan kehidupan. Sehingga pembaca tidak ada salahnya berdialog sejenak dengan diri sendiri.

Kita tetap diberikan peluang merencanakan kehidupan. Sebab rencana dan pilihan hidup akan memberikan arahan dalam menyusun potongan puzzle kehidupan. Agar gambaran akhir kehidupan sejalan dengan keinginan Allah SWT, seharusnya kita mengikuti sandi ( pedoman ) yang diberikan – Nya. Kalimat sandinya tidak terlepas dari tujuan kita dikirim ke planet bumi.

Memilih rencana A sampai Z tentulah memiliki alasan. Jika pilihan kehidupan ini hanya sebanyak abjad yang ada. Tetaplah ada seni untuk menentukan pilihan. Sehingga nantinya akan bisa menjalani pilihan dengan kemerduan nada – nada kehidupan.

Kemampuan memilih hanya milik pemenang bukan pecundang. Minimal pemenang dalam menentukan satu pilihan diantara banyak pilihan. Penulis berpendapat seorang pemenang tidak identik menjadi nomor satu dalam setiap kompetisi formal. Sebab kecerdasan dan keberhasilan menentukan pilihan merupakan salah satu tipe pemenang.

Disisi lain, secara umum dalam kehidupan ini hanya terdiri dari dua pilihan. Kebaikan atau keburukan. Kekuatan atau kelemahan, dan berbagai pasangan lainnya. Singkatnya, kebaikan dan kekuatan bisa disatukan dalam paradigma positif. Sedangkan keburukan dan kelemahan disatukan dalam paradima negatif. Paradigma Positif atau negatif memiliki efek masing – masing. Disanalah kita diharuskan memilih efek yang seperti apa yang kita inginkan.

Kemahiran memilih yang terasah secara tajam menghasilkan pribadi yang professional ( pemenang ). Sebab mengambil keputusan bukanlah perkara mudah. Bahkan sering dihadapkan dengan berbagai macam pertimbangan meragukan. Jika tidak memiliki pendirian dan tujuan akhir kehidupan maka pilihan hanya akan menjadi beban berat.

Seorang pemenang memiliki kemampuan manajemen diri untuk fokus pada hal – hal positif dalam segala kondisi. Bahkan dalam kondisi tersulitpun masih mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian. Kenapa demikian? Karena seorang pemenang itu berjiwa besar. Mereka bukanlah orang tanpa masalah. Hanya saja kemahirannya menyembunyikan masalah sangat rapi. Sehingga yang terlihat hanya pribadi kuat dan memancarkan cahaya kebahagiaan. Hal ini adalah pilihan yang sesuai dengan sandi dari Tuhannya. Dan ini pembuktian sederhana ia menguasai seni dari pilihannya.

Sebagai perbandingan, mari kita telusuri kehidupan orang – orang disekitar, seperti keluarga, rekan kerja, atau siapapun yang pernah kita temui. Kemudian pilih satu saja diantara mereka yang paling banyak bercerita tentang pahitnya kehidupan. Susahnya perjuangan. Menipisnya keuangan. Atau berbagai bentuk keluhan dalam versi apapun yang pernah didengar. Apa yang terjadi setelah mendengar semua pemaparannya panjang lebar? Alhasil, jangankan untuk memikirkan solusi tetapi hanya energi yang terkuras.

Sekarang bawakan kedalam diri kita secara pribadi. Paradigma positif atau negatif yang selama ini mengisi kehidupan kita. mana yang lebih banyak memberikan kekuatan. Jika kita menyepakati paradigma positif. Lalu, mengapa masih banyak yang terjebak dalam paradigma negatif? Lalu, kehidupan yang dijalani selama ini pilihan siapa? Tentu pilihan sendiri tetapi tidak menggunakan seni dalam memilih.

Menurut penulis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menguasai seni memilih kehidupan, antara lain:

Pertama, menentukan target/tujuan akhir. Tujuan akhir adalah hal yang utama. Sehingga tujuan akhir memiliki harga mati. Sebelum menentukan pilihan terlebih dahulu harus mempunyai tujuan. Kejelasan tujuan akhir sebagai muara dari perjalanan hidup akan berfungsi sebagai kompas. Tidak jarang ketidakmampuan memilih disebabkan tidak adanya target yang pasti.

Kedua, Kesesuaian pilihan dengan tujuan akhir. Secara sederhana, tujuan akhir identik dengan visi. Sedangkan pilihan yang diambil merupakan misi untuk mencapai visi. Jika kita memiliki seni memilih kehidupan, ketimpangan antara visi dan misi akan sulit terjadi. Sebab secara tidak langsung tujuan akhir menjadi selektor bagi pilihan agar tetap berada dalam koridor tujuan.

Ketiga, bertanggungjawab terhadap pilihan. Setiap pilihan memiliki konsekuensi. Orang yang telah menguasai seni memilih, sejatinya juga harus menguasai seni menyelesaikan akibat yang timbul. Kemampuan mengatasi masalah yang timbul merupakan perwujudan rasa tanggung jawab terhadap pilihan.

Sayangnya, dalam poin yang ketiga inilah pada umumnya banyak orang terjebak ketidakmampuan menerima konsekuensi. Hal ini bisa saja difaktori harapan yang terlalu tinggi tetapi tidak diiringi dengan tanggung jawab yang tinggi pula. Alhasil, yang terlontar hanya penyesalan. Misalnya seandainya pilihan seperti itu pasti akhirnya tidak akan seperti ini, atau versi lainnya.

Tidak salah seseorang yang telah menguasai seni memilih kehidupan hanya bisa diberikan kepada pemenang. Yang mampu menjadikan satu paket antara cita – cita, nilai kebaikan, dan rasa tanggung jawab. Jadi, karena hidup akan bermakna dengan adanya seni memilih maka jangan sampai salah pilih. Dan jatuhkanlah pilihan untuk tetap fokus pada tujuan utama.
 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.