Berita Terbaru :

Kamis, 11 Desember 2014

1 Ayah Lebih Baik dari 100 Guru



Sungguh, kita tak pernah tahu dugaan dan kejutan yang dihidangkan buah hati. Banyak hal baru, sering kali memantik haru dan tawa, serta mengentak ruang jiwa.
            “Dedek, angun. Colat-colat,” tutur Tsaqiif (2) pada adiknya, Zhaafir, yang usianya terpaut setahun. Bagi saya dan istri, ajakan shalat kakak pada adiknya itu mencipta bahagia. Apalagi Tsaqiif melakukan gerakan shalat, meski jauh dari sempurna. Adiknya spontan bangun, lalu memperhatikan gerakan abangnya. Kami terpingkal, tapi sekaligus dada ini terhenyak. Kenapa?
           Tanpa disadari, seorang anak sering merekam, mempraktikkan apa yang ia lihat dari orangtuanya. Ngeri juga sebenarnya. Benarlah nasehat orangtua dulu: jika seorang pria telah menjadi ayah, ia harus berhati-hati dalam ucap dan sikap. Apalagi di depan buah hatinya. Orangtua, terutama ayah, menjadi pilot project untuk anak-anaknya, wabil khusus anak lelaki.
            Saya jadi teringat kata-kata Ustadz Felix Yanwar Siauw, inspirator Islami, juga mualaf yang mewakafkan dirinya untuk perjuangan Islam. Dalam sebuah kesempatan, beliau menjelaskan kelemahan umat saat ini. Salah satunya, sebagian besar ayah kaum Muslimin tak gemar belajar sejarah kehebatan Islam, apalagi rutin mendongengkan buah hati. Padahal budaya dongeng dengan tema-tema ketauhidan dan kepahlawanan Islam sangat bermanfaat dan dibutuhkan.
            Ustadz Felix mencontohkan kisah Muhammad Al Fatih, penakluk Konstantinopel pada 1453. Sebelum menjadi pemimpin pasukan perang, sejak kecil Al Fatih selalu ‘diinjeksi’ ayahnya tentang kehebatan Rasulullah saw dan para sahabat. Sang ayah selalu memberi teladan yang baik. Itu menginspirasi Al Fatih hingga menjadikannya pemimpin pasukan perang bersejarah. “Tanamkan pada anak kita kisah-kisah heroik kepemimpinan Rasulullah, sahabat dan para pejuang Islam,” pesan Ustadz Felix.
            Kita tahu, anak itu imitator ulung. Sayangnya, energi dan pikiran kita sering terforsir mencari nafkah. Padahal, pekerjaan besar ayah adalah pendidik. Ia panutan bagi istri dan buah hatinya. Jika seorang ayah mengabaikan urgensi pola pendidikan dalam keluarga, bisa fatal akibatnya.
            Pendidikan paling utama ialah memberi contoh dengan akhlak. Sementara nasehat dan budaya dongeng sebagai pendukung pengembangan kreativitas dan daya kritis anak. Namun, itu sulit maksimal jika lisan jarang bergerak paralel dengan akhlak. “Kekuatan terbesar umat ada di pelaksanaan kata-kata,” pesan KH Ayyip Abbas, Pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, pada saya.
            Mengutip George Herbert, “Seorang ayah lebih berharga dari 100 guru di sekolah.” Artinya, setiap ayah pasti punya potensi besar. Begitu pula besarnya tantangan menakhodai keluarga. Duhai para ayah, sudahkah hari ini memeriksa visi hidup?

Sumber: Majalah Ummi Rabu, 10 Desember 2014 M | 17 Safar 1436 H   
 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.