Berita Terbaru :

Senin, 17 November 2014

Membanting Meja




 | Oleh Abri Maijon


    Anak saya kelas 1 SD tiba-tiba datang menghampiri saya setelah menyaksikan tayangan sebuah stasiun tv beberapa waktu lalu. Wajahnya terlihat penasaran. Sambil bertanya kenapa ada orang berdasi menendang meja, sampai gelas ikut hancur bersamaan meja yang terbentur keras ke lantai, dan orang itu berteriak sambil marah-marah. Tayangan yang disiarkan tv swasta itu memang sudah berlangsung cukup lama. Namun membuat saya terus berpikir, karena meninggalkan kesan yang tidak mudah dilupakan.
      Saya terus terang agak gagap menjelaskan tentang keributan yang dilakukan anggota parlemen kita beberapa waktu lalu, berfikir dalam apa jawaban yang tepat untuk diberikan sehingga tetap menjadi nilai pendidikan untuk bocah seusia dia.
       Dengan segala kondisi media elektronik kita hari ini saya dan istri sudah berusaha memilihkan tayangan positif, sekaligus yang pantas disaksikan anak-anak. Walaupun hanya sebagian kecil saja program layar kaca yang patut dijadikan tontonan mendidik. Pilihan itu rata-rata seputar berita, kuis, program religi yang inspiratif, anamasi Upin dan Ipin.  Dengan berbagai aktifitas dan kesibukan, kami pun sebetulnya termasuk jarang mengikuti rangkaian program televisi.
        Pertanyaan membanting meja dari anak kecil tentu saja menjadi tamparan sekaligus pelajaran berharga untuk kita hari ini. Bukan perkara sepele. Dengan berbagai tingkah polah dan ulah para pejabat di negeri ini tentu saja akan mengundang ratusan pertanyaan dan teka teki dibenak ribuan bocah yang masih bersih dan tidak berdosa itu.  Bangsa ini sedang menghadapi krisis keteladanan yang serius. Semakin langka kita temukan figur-figur yang patut dijadikan contoh, selaras antara apa yang diucapkan dengan perbuatan.  
      Malu terasa semakin mahal. Praktik-praktik amoral semakin meraja lela, menebar kotoran dosa tanpa segan dan bimbang. Noda dan dusta berpesta pora di  bawah lindungan kebebasan berpendapat dan bersuara. setiap hari di hadapan kita hadir realitas-realitas keji dan munkar, keras, brutal, nista, kotor, bohong dan sederetan panjang fakta dusta amat merusak mentalitas 240 juta rakyat kita.
     Peristiwa-peristiwa kekerasan itu juga menjadi cermin buram yang merefleksikan bagaimana babak belur dan carut marutnya psikologis yang tengah diderita anak bangsa. Kekerasan dan berbagai perbuatan tercela yang terus mendera generasi hari ini tidak dapat dipisahkan dari bibit kerusakan yang ditanam saat ini dan masa lalu.
         Betapa hebatnya tantangan untuk merubah dan memperbaiki kerusakan. Kurikulum pendidikan setiap kali diperbaharui dan diganti. Dengan motif tuntutan zaman dan tantangan yang semakin besar, terutama soal moral dan karakter anak bangsa. Kenginan “mengarakterkan” anak Indonesia mulai mendapatkan tantangan serius. Pejabat pemerintah yang seharusnya mencerminkan sosok berkarakter justru gagal memberikan wajah positif pendidikan berkarakter. Dalam banyak kesempatan, para pejabat dan aparat penegak hukum mempertontonkan sifat yang kontraproduktif.
           Merespons keinginan pendidikan karakter di tengah krisis keteladanan bukan perkara mudah. Hati kecil kita sebagai anak bangsa terus bertanya apa makna strategis pendidikan karakter? Apakah terbatas dinilai sebagai slogan kosong dan konsep “langitan” yang minim keteladanan. Jika itu terjadi, pendidikan karakter tidak akan pernah bisa mengubah kepribadian bangsa.
Akhirnya, kita harus mulai merenungkan dan berfikir ulang pemaknaan pendidikan karakter. Sebab, karakter tidak diciptakan tanpa adanya proses keteladanan. Itu dapat dimulai dari kalangan terdekat seperti orang tua, guru dan pemimpin bangsa. Ketika para pemberi teladan memberikan contoh buruk, maka persepsi dan tingkah laku buruk yang akan tercipta. Dan konsep pendidikan karakter yang tertulis pada kurikulum dengan berbagai model dan perubahan hanya akan menjadi dokumen bisu yang kering implementasi dan makna.
      
 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.