Berita Terbaru :

Selasa, 25 November 2014

Malapetaka 40 Detik



 |Oleh Abri Maijon


           Ini adalah tulisan ke tiga kali saya di koran yang sama menyoal buruknya jalan raya Pasaman Barat. Saya tak akan bosan dan akan terus bersuara, walau suara itu tak selantang saat menjadi aktivis mahasiswa memimpin demonstrasi berbagai kesempatan beberapa tahun lalu. Saya yakin jeritan ini pasti ada yang membacanya dan merenunginya, terutama pejabat publik yang mengurusi fasiltas publik sepenting jalan raya sebagai salah satu penunjang urat nadi perekonomian rakyat.
            Setiap kali melihat kerusakan yang terkesan dibiarkan. Hati kita terasa remuk dan agak kecewa sambil terus bertanya. Dimana pemerintah, dimana wakil rakyat. Mana komitmen mensejahterakan rakyat, sebagai mana janji yang diucapkan. Kenapa begitu lamban menyikapi persoalan yang nyata di depan mata, terkesan amat minim inisiatif. Mestinya fasilitas sepenting itu harus mendapat tempat dan prioritas untuk diurus dan diselesaikan.
           Padahal dibanyak sisi pembangunan yang kelihatan belum begitu penting, ternyata dapat diselesaikan dengan cepat dan mudah. Sebut saja pembangunan Bandar Udara (bandara), atau jalan protokol dua jalur yang begitu megah. Fasilitas itu hanya tampak digunakan segelintir orang, berbeda jauh dengan jalan raya yang semua orang menggunakannya tanpa henti.
Apa susahnya memprogramkan perbaikan jalan, jika belum mampu menuntaskan pembangunan setiap ruas yang rusak, ditambal kembalipun cukup. Sebab, jika menunggu membangun pengerjaan mega proyek seperti yang sekarang berlangsung, entah sampai kapan akan rampung, terkesan pembangunan sangat lamban. Sementara yang hancur digilas truk raksasa semakin hancur dan luluh lantak. Apa lagi musim hujan, kerusakan semakin sempurna.
Pagi itu adalah peristawa yang naas bagi saya. Saya keluar rumah mengantar sekolah anak. Mobil yang saya kendarai berhadap-hadapan dengan truk tronton bermuatan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang over kapasitas, isi muatannya jauh melebihi ukuran bak truk. Saya tiba-tiba berhenti karena di depan ada kerusakan jalan dengan lobang yang berukuran besar dan cukup dalam disertai bibir pinggir aspalnya yang tajam yang sewaktu-waktu dapat merobek ban. Saya bermaksud sedikit membanting stir ke arah kanan untuk terbebas dari lobang itu.
Diwaktu bersamaan tronton di depan juga tiba-tiba berhenti  di depannya juga ada lobang yang berukuran hampir sama, saya kaget bukan kepalang truk raksasa berbeban berat itu tiba-tiba menyalip diarah depan hanya berjarak beberapa jengkal saja dari posisi saya. Karena melintasi lobang dan posisi menyalip, truk terlihat sangat oleng dan hampir terbalik, karena cukup keras terbentur jebakan lobang, butiran sawit terlihat berjatuhan dari tandannya. Berserakan.
Saya berkeringat dingin sambil beristighfar pasrah, tidak tau mau berbuat bagaimana. Memundurkan mobil, sudah terhalang oleh puluhan mobil yang berjejer macet di belakang. Tidak ada pilihan. Mengerikan jika  terbalik, yang pertama kali akan tertimpa truk raksasa itu adalah saya dan anak yang berada di dalam mobil. Wallaualam, akan bisa kembali selamat atau tidak. Inilah malapetaka 40 detik yang menakutkan. Alhamdulillah kami berdua selamat.
Saya semakin trauma melihat truk bermuatan sawit yang dimuat melebihi normal. Keesokan paginya saya kembali bertemu dengan truk penangkut TBS kelapa sawit, kali ini puluhan tandan sawit terlihat berjatuhan, tumpah ruah dibadan jalan, menutupi akses transportasi tepat di depan rumah makan Bernama. Pikiran saya langsung menebak itu akibat jalan rusak dan angkutan melebihi kapasitas, tidak disertai pengaman. Namun syukur, tidak ada pengguna jalan lain yang berada di samping dan tidak ada korban. Saya sempatkan mengambil foto untuk sewaktu-waktu dapat dijadikan bukti.
Inilah yang disebut dengan minimnya pengawasan dan kontrol pejabat pemerintah dan aparat. Sudah sangat gamblang di depan mata kerusakan parah jalan raya. Kenapa masih diberi izin truk yang over kapasitas, padahal sangat banyak polisi lalu lintas sepanjang jalan yang berjaga di jam sibuk itu.
Apa sulitnya membuat regulasi untuk truk CPO dan bermuatan sawit diberi izin jalan di malam hari sampai jalan raya betul-betul selesai dibenahi. Dan siangnya untuk masyarakat. Seperti halnya dibanyak daerah lain yang memberkukan seperti ini. Jangan terkesan tidak ada solusi, sementara rakyat yang terus menanggung akibatnya.    
Pemerintah juga harusnya terus berpikir bagaimana sesegera mungkin ada solusi perbaikan jalan, jika memang sudah di bawah tender pengerjaan dan menjadi tanggungjawab pembangun proyek, lalu apa konsekwensi untuk publik, tidak mungkin kita menunggu pembangunan proyek besar itu tuntas sementara jalur darat yang setiap hari digunakan terus hancur.
Kita tidak menginginkan lempar tangan, dan debat status jalan milik provinsi, kabupaten maupun pusat, kita mendambakan pemerintah yang bijak memberikan pelayanan terbaik untuk rakyatnya. Semoga!

       

Tandan Buah Segar (TBS) yang berjatuhan dari sebuah truk di depan RM Bernama, Pasaman Barat, 26/11.












 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.