Berita Terbaru :

Senin, 05 Mei 2014

Ralat Soal UN, Ada Apa?



Abri Maijon
Kepala SMP IT Darul Hikmah



Ujian hari pertama UN SMP 2014 mata pelajaran Bahasa Indonesia Senin 5/5 terlihat janggal dan kacau. Insiden kekacauan ini bukan karena terlambatnya soal datang di lokasi ujian, bukan juga karena terjadinya berbagai kecurangan. Namun karena paket soal ujian yang sudah disiapkan pihak pemerintah, dan akan segera dibagikan kepada peserta ujian dalam hitungan detik tidak tersedia utuh sebagaimana yang diharapkan.
Soal Ujian Nasional Bahasa Indonesia diralat kembali oleh kemendikbud karena menurut mereka terjadi kekeliruan dalam pembuatan soal. Khusus untuk Kabupaten Pasaman Barat, soal yang diralat terdiri dari soal nomor 1 - 7 dan soal 46 – 50.
Wamendikbud Musliar Kasim menjelaskan penggantian butir soal terkait dengan dimuatnya nama beberapa tokoh pada lembaran soal. Namun ia enggan menyebut tokoh siapa saja yang dimaksud. Kuat dugaan diantara tokoh yang ditulis persis dengan yang tertera pada soal UN SMA dan SMK beberapa waktu lalu. Dengan diralat pemerintah bermaksud menanggapi kritik sebagaimana yang terjadi saat UN SMA /SMK yang juga mencantumkan nama tokoh dan kemudian menjadi polemik.
Revisi soal di lakukan dengan sknario kurang matang tentu saja dapat berakibat fatal. Inilah yang menjadi awal dari kegaduhan dan kekacauan. Soal pengganti yang telah disaiapkan ternyata ditemukan jauh dari lengkap. Bahkan dalam satu ruang hanya tersedia tiga soal pengganti untuk tiga orang peserta ujian, diantara 20 peserta.  Masalah lain juga ditemukan soal ganda. Bahkan beberapa naskah, nomor soalnya hilang dan tidak tercantum pada naskah ujian, seperti soal nomor 8 – 14, dan nomor 45.
Peserta ujian dilanda kepanikan, termasuk juga pihak sekolah, mereka beranggapan kesalahan teknis akan berpengaruh terhadap kelulusan siswa.  Terlihat raut wajah lelah bercampur kecewa dari para guru dan pihak sekolah. Siswapun tampak bingung tidak tahu mau berbuat apa melihat kondisi yang ada. Mereka pasrah. Pemerintah mesti memberi jaminan kepada peserta UN, jangan sampai kesalahan teknis yang dilakukan pemerintah merugikan siswa.
Jika diamati ralat soal yang dilakukan perubahan oleh pihak kemendikbud menjelang detik-detik ujian berlangsung memang kurang tepat. Apalagi menurut Wamendikbud Musliar Kasim, ralat itu setelah investigasi lapangan dilakukan. Muncul beragam spekulasi, ada apa. Dan sejak awal kenapa tidak dicermati sesuai alur kerja pengolahan soal sebagaimana panduan Balitbang Kemendikbud.  
Bahwa pihak balitbanglah yang menentukan spesifikasi naskah soal kepada para penulis soal; menyeleksi dan menentukan butir soal terpilih; memberhentikan keanggotaan sebagai penulis soal berdasarkan pertimbangan kompetensi, kualitas soal, keplagiatan, dan ketentuan lainnya. Sedangkan para penulis soal adalah individu yang dipilih. Dan ia wajib mentaati semua ketentuan yang berlaku tentang penulisan soal.
Namun begitu, seperti opini saya sebelumnya (Singgalang, 24 April 2014), pihak kemendikbud harus menjelaskan secara jujur dan terbuka tentang soal yang terasa ganjil itu.  Apa motifnya sehingga tokoh-tokoh yang dianggap kontraversi itu dimuat. Atas pesanan siapa? Kenapa lembaga sebesar kementerian pendidikan itu sampai kebobolan? Dan mengapa juga orang-orang professional di lembaga itu tidak menjunjung tinggi azas profesionalisme?
Pihak kemendikbud dalam hal ini balitbang diharapkan tetap profesional dengan tugas utamanya. Tidak mudah terseret dengan berbagai arus kekuatan. Tidak mungkin guru yang terus dituntut profesional, namun berbanding terbalik dengan sikap pemerintah.  Wallahualam.
 
 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.