Berita Terbaru :

Selasa, 11 Juni 2013

Siklus Kasih Sayang



Manusia dihidupkan, kemudian akan dimatikan. Dalam rentang itu, manusia akan mengalami serangkaian proses dan peristiwa. Adanya siklus kasih sayang yang akan dilewati oleh setiap manusia. Seorang anak, pada masa kecilnya akan mendapatkan curahan kasih sayang dari orangtuanya. Dan pada saat itu, orangtuanya mencurahkan kasih sayangnya untuk anaknya. Dan kelak, peran itu saling menggantikan. 

Misal saat ini usia orangtua saat ini 35 tahun, dan usia si anak 1 tahun. Dalam masa-masa ke depan, orangtua sebagai pihak yang mencurahkan kasihsayang dan sejenisnya kepada anak hingga usia si anak 25 tahun dan pada saat itu si anak berumahtangga. Pada saat itu, orangtua bisa tetap mencurahkan kasihsayangnya bisa juga tidak, karena pada saat itu sudah ada pihak yang mampu dan bertanggungjawab mencurahkan kasihsayang kepadanya, meski tidak bisa menggantikan entitas kasihsayang orangtuanya. 

Pada saat itu, usia orangtua telah mencapai 55 tahun, dan itu termasuk usia senja. Barulah, peran kini berganti karena pada saat itu dalam usia senja, orangtua-lah sebagai yang membutuhkan kasih sayang.
Jika pergantian peran dapat berjalan dengan baik, maka pada saat itu anak sebagai pihak yang memberi kasih sayang, dan orang tua sebagai pihak yang menerima (membutuhkan) kasih sayang. 

Oleh karena itu, penting bagi setiap orang tua untuk mempersiapkan anak yang dapat menggantik
an peran, yang dapat menjaga siklus kasih sayang itu tetap terjaga dan berjalan sebagaimana mestinya. Karena bisa saja terjadi disfungsi pada peralihan peran itu. Biasa terjadi pada orang-orang yang orientasi pada karir dengan egoism yang tinggi.

Ada seorang anak yang telah dibesarkan oleh orangtuanya, pada usia dewasa sesudah kuliahnya selesai ia mendapatkan pekerjaan di kota yang membutuhkan konsentrasi dan focus yang tinggi. Dengan lingkungan pergaulan persaingan tinggi yang menyebabkan rata-rata orang hanya memikirkan diri sendiri, pada saat itu ia tidak memiliki waktu untuk sekedar meluangkan waktu bersilaturahim dengan orangtuanya. Tuntuan pekerjaan membuat dia harus mencurahkan waktu dan pikirannya untuk pekerjaannya. Silaturahim dengan orantuanya terputus. Pada saat dikabarkan orangtuanya meninggal, ia pun tak memiliki kesempatan waktu untuk pulang melayat jenazah orangtuanya. Yang ia lakukan adalah menelpon yayasan yang mengurusi prosesi pemakaman jenazah, meminta yayasan tersebut mengurus prosesi pemakaman ayahnya. Ia kemudian mentransfer uang ke rekening yayasan tersebut agar prosesi pemakaman itu segera dilaksanakan. Kemudian ia menelpon lembaga audit keuangan untuk menghitung seberapa asset kekayaan yang masih ditinggalkan oleh orangtuanya. Selesai.

Jika kita sebagai orangtua, maukah wafatnya kita kelak akan seperti kondisi di atas? Tentu tidak. Maka, mari siapkan anak yang dapat menjalankan siklus kasih sayang itu. Dan sebagai anak, tegakah kita jika itu yang kita lakukan kepada orangtua kita? Tentu setakut kita diperlakukan demikian dengan anak kita kelak.

/Supadilah




 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.