Berita Terbaru :

Senin, 06 Mei 2013

Rasa Sepi Seorang Ibu

Mari Sejenak Bicara Tentang Rasa Sepi Seorang Ibu                                    
Kusrin, S.PdI

Bagian ini adalah spesial,
spesial penulis persembahkan buat para ibu tercinta,
ibu saudara dan ibu kita semua.
“Hidup ini terus berjalan, maka muliakan orangtuamu dengannya. Terlebih ibu yang telah mengandung dan menyusui.
(Abu A’la Al-Ma’rry).
Sepi adalah jenak waktu yang tentu saja tak memberi rasa nyaman. Apalagi kita tak bisa tahu kapan ia akan berakhir. Dan seorang ibu adalah sosok yang mungkin sangat sering itu dalam hidupnya, meski mungkin kita sebagai anaknya kadang tak menyadari.
Harus kita akui, bahwa kita sering kali lupa akan keberadaan ibu dan ayah yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, perhatian kita padanya lebih banyak dan lebih serius. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, khawatir apakah dia sudah makan apa belum, takut apakah dia bahagia bila berada di samping kita.
Tapi, apakah kita juga pernah merisaukan kabar dari orang tua kita?. Risau, apakah orang tua kita sudah makan atau belum? Khawatir, apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum? Rasanya jarang ya. Padahal boleh jadi dia sedang dalam dekapan rasa sepi.
Disini, saya mengajak mari kita sejenak mencoba merenungkan lagi. Bicara soal keadaan orang tua. Soal rasa sepi seringkali menerpa hidupnya. Saat kita masih punya kesempatan untuk membalas budi mereka, melakukan yang terbaik untuknya. Untuk ibu yang pengorbanannya tak terhingga. Agar jangan sampai ada kata ‘menyesal” di kemudian hari.
Rasa Sepi Ketika Sendiri Membesarkan Anak-Anaknya.
Cinta seorang ibu kepada anaknya adalah cinta yang tak terbatas, bukan sekedar cinta, dan bukan cinta biasa. Meskipun cinta itu terkadang tak terbalas. Atas nama cinta, apa pun akan dia jalani asal kebutuhan anaknya terpenuhi. Apapun akan ia usahakan, asal keinginan anaknya terwujud. Apapun akan ia lakukan asal anaknya bisa dan berhasil. Itulah energi cinta dari seorang ibu.
Energi itu begitu kuat. Tak jarang, seorang ibu kemudian harus melakukan semua itu sendirian. Tanpa kehadiran suami yang menemani, karena dipisahkan oleh ajal, misalnya, oleh sebab yang lain. Berat itu pasti. Tapi cintanya yang besar akan mengalahkan semua kesulitan dan rintangan. Tekadnya yang demikian besar terbangun, sehingga lahirlah anak-anak yang sukses dalam hidup dan kariernya, berkat sentuhan cinta dan pengorbanannya, meski semua dilakukannya berselimut derita dan rasa sepi. (subhanallah)
Ibu kita mungkin menjadi salah satu perempuan yang merasakan kesepian itu dalam mendidik anak-anaknya. Kita dan beberapa saudara kita barangkali hari ini semua telah menjadi orang-orang berhasil; punya pendidikan yang tinggi, menduduki sebuah jabatan penting, atau mengelola sebuah bisnis besar.
Mari kita kenang sejenak rasa sepi ibu waktu itu, dimana terkadang ia harus menutupinya dengan sebuah “kebohongan” untuk mengalihkan perhatian kita. Agar ia tak tampak lelah dan capek mengurus dan membesarkan kita.
Seorang anak yang telah dewasa menuliskan kisah masa kecilnya kala bersama ibunya, yang tak pernah kenal lelah bekerja untuk dirinya dan adik-adiknya. Saat itu mereka hidup dalam keadaan amat sederhana. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika sedang makan, ibu-nya seringkali memberikan bagian nasinya untuknya. Sambil memindahkan nasi kepiring anaknya, si ibu berkata, “makanlah nak, ibu tidak lapar.” Setelah dewasa, dia baru tersadar bahwa saat itu ibunya telah “berbohong”.
Ketika saya mulai menginjak remaja, ibu sangat menyayangi anak-anaknya selalu gigih dalam membantu ayah mencari nafkah. Berusaha apa saja ia lakoni demi mendapatkan sejumlah uang. Namun pernah satu kali ia tak mendapatkan bayaran atas usahanya, ia hanya mendapatkan upah dengan beberapa ekor ikan segar yang di masaknya menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera.
Sewaktu memakan makanan itu, ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa makanan kami. Melihat itu tentu saja aku tak tega dan menyodorkan ikan bagianku kepadanya. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. “Makanlah nak, ibu tidak begitu suka dengan daging ikan,” tuturnya. Dan aku kembali menyadari bahwa ibu telah kembali ‘berbohong’, lanjut lelaki itu. “Saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, demi membiayai uang sekolah itu, ibu rela mengerjakan sulaman barang-barang kerajinan yang didapatkan dari tetangga sebelah rumah. Sedikit demi sedikit ia selesaikan pekerjaannya itu.
Saat itu aku terenyuh menyaksikan kegigihan ibu, hingga jam menunjukkan pukul satu malam ibu juga belum berhenti. Saat aku memintanya untuk istirahat dan tidur, ia malah menyuruhku untuk terlebih dahulu tidur, sementara ia beralasan belum ngantuk.
Hari-hari terus berjalan, hingga pada waktu yang telah digariskan, ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Setelah kepergian ayah, ibu yang malang harus merangkap menjadi ayah, membiayai keperluan hidup kami sendiri dan tiada hari tanpa penderitaan. Hingga banyak keluarga ibu yang menasehati ibu untuk kembali menikah, tetapi ibu menolaknya dengan mengatakan bahwa ia tak butuh cinta, dan aku tahu saat itu ibu ‘berbohong’, “ tulisnya, meneruskan ceritanya.
Perjuangan membesarkan anak adalah hari-hari yang penuh rasa sepi, dengan kesulitan yang terkadang belum kita bisa cerna saat itu, atau mungkin hinga hari ini. Namun kita tak pernah mencoba untuk mengingatnya, untuk sekedar mengenang jasa manusia agung itu, yang telah memberikan segalanya untuk kita. (Allahu Akbar, maafkan kami anakmu ibu…?)
Rasa Sepi Ketika Ditinggal Anak-anaknya merantau.
Saudaraku, ikhwafillah…
Setiap anak pada akhirnya akan menentukan pilihan hidupnya masing-masing. Dan karena itu, maka terkadang kita terpaksa meninggalkan kedua orang tua untuk mencoba melepaskan diri dari ketergantungan kepada mereka. Ketika beranjak remaja atau dewasa, kita pergi merantau kemana saja, untuk tujuan apapun; menuntut ilmu, menjemput rezeki, mengadu nasib, dan sebagainya.
Berawal dari sini, rasa sepi pun muncul di relung hati seorang ibu. Anak yang sedari kecil diasuh penuh cinta, ditimang-timang dan dibesarkan, pergi jauh dari sisinya. Tak sanggup ia melarang, karena hidup memang harus berubah dan berkembang. Ia lalu merelakan anaknya pergi meranatau.
Mungkin kita adalah salah seorang anak yang membuat ibu merasa sepi, karena meninggalkannya untuk sementara karena mengejar cita-cita di negeri rantau orang. Saudaraku, hari ini entah dimanapun kita berada, di desa maupun di kota, dalam negeri maupun di luar. Mari sejenak bicara tentang rasa sepi seorang ibu yang terus menyimpan rasa cinta dan kasihnya pada kita sampai kapan pun. Mari sejenak kita merenungkan keadaannya, dikala kita sedang jauh disisinya. Apakah yang sedang ia lakukan? Mungkinkah saat ini, ia duduk sambil menghabiskan waktu sambil memandang kali di depan rumah, yang dahulu selalu menjadi tempat bagi anak-anaknya menghabiskan waktu, berenang dan bermain hujan. Atau dia sedang duduk di depan rumah menunggu kedatangan kita. Atau melihat mainan-mainan kita dulu waktu kecil yang sudah disimpan dalam gudang? Atau entah apa lagi yang dilakukan ibu kita untuk mengusir dan menghilangkan kesendiriannya dan rasa sepi yang tak kunjung berakhir?.
Ibu memang selalu merindukan kita. Sangat merindukan kita. Sampai kapan pun. Gambar wajah kita selalu hadir di benaknya, bermain-main di pelupuk matanya. Dia selalu melempar ingatannya ke masa-masa lalu yang indah ketika kita masih bersamanya, mengenang segala tingkah lucu kita yang menggores kesan indah di hatinya.
Tapi sayangnya, kita tak pernah menyadari dan membiarkan waktu terus berlalu tanpa mencoba mencari tahu. Karena itu, mari sejenak kita bicara disini, tentang kesendirian ibu. Tentu agar kita teringat dan tersadar, serta kemudian mau sesekali mau mengobati rasa sepinya dengan rela meninggalkan kesibukan untuk sesaat pulang menemuinya, mencium tangannya, dan mengecup keningnya.
Rasa sepi Ketika Anak-anaknya telah sukses dan mandiri
Merantau mungkin awalnya hanya untuk menimba ilmu dan pengalaman. Tapi serigkali di negeri orang, kita akhirnya menemukan kehidupan baru yang membuat kita harus bertahan. Di sana kita temukan pekerjaan, profesi, atau jabatan yang menjadikan kita tidak lagi bergantung kepada orang tua secara ekonomi. Atau mungkin kita menemukan pasangan hidup dan lalu membina rumah tangga sendiri, sehingga tidak lagi merasa perlu untuk kembali dan hidup bersama orang tua di kampung halaman.
Keberhasilan dan kesuksesan tentu selalu memberi perubahan, seperti perubahan pada keadaan kita yang sudah mampu hidup mandiri. Namun ibu yang mengantarkan kita pada keberhasilan itu tetap dalam keadaan yang dulu. Tak ada perubahan, kecuali fisiknya yang kian lemah dan kulitnya yang semakin keriput. Sepi yang dulu ia rasakan, kini pun tak jauh beda. Mungkin bahkan semakin bertambah, karena kita semakin jarang pulang mengunjunginya.
Kalaupun kita punya niat baik untuk merawatnya dengan tinggal bersama kita, terkadang dia lebih memilih untuk tetap tinggal di rumahnya sendiri, tempatnya merajut kenangan, meski terus berbalut dengan rasa sepi. Seorang anak yang merasa prihatin melihat kondisi ibunya hidup sendiri, lalu mengajak ibunya untuk tinggal bersama. Namun sang ibu menjawab, “Ibu tak akan tinggalkan rumah ini, meski rumah ini makin terlihat semakin rapuh dari hari ke hari, apalagi menjualnya. Bagi ibu, rumah ini kenangan sekaligus keringat dari almarhum bapakmu.”
Rasa Sepi Ketika Anak Mengalami Kekeringan Spritual
Sukses seorang anak tentu memberi rasa bangga dan puas di hati seorang ibu. Kelelahan selama bartahun-tahun yang dia alami, akan berakhir tanpa bekas manakala dia melihat anak-anak yang di besarkannya dengan penuh cinta, hidup dalam kemudahan dan keadaan yang lebih baik dari kehidupannya sendiri.
Tapi tentu bukan hal itu yang paling membahagiakan ibu. Selain kesuksesan dan keberhasilan, seorang ibu sangatlah ingin melihat anak-anaknya tumbuh menjadi orang-orang shaleh, berbakti, dan berakhlak mulia, hidup rukun satu sama lain. Itulah yang paling membagiakan orang tua. Tak ada yang paling menyenangkan hatinya dan menentramkan jiwanya selain melihat mereka tumbuh dalam ketaatan kepada Allah swt. Terlebih ketika mereka telah berada di usia yang semakin senja, selalu ada harapan agar anaknya kelak tetap mengenangnya setelah kepergiannya, dalam doa dan munajatnya, memohonkan ampun untuknya.
Rasa sepi yang paling dasyat akan dirasakan seorang ibu ketika ia tak menemukan keshalihan pada diri anak-anaknya. Saat beribadah tak ada yang menemani. Ketika berdoa tak ada yang mengamini. Di kala sakit tak ada yang mendoakan. Akhir hidupnya dihantui rasa takut akan kegagalan menuai pahala dari anak-anaknya.
Sebuah kisah. Seorang ibu dengan kerja keras dan berhasil mengantar seorang anak perempuannya menyelesaikan pendidikan di sebuah perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat.. Rasa bangga tentu memenuhi relung hatinya, apalagi si anak juga cerdas dan pandai. Namun disisi lain ternyata anaknya sangat jauh dari perintah-perintah agama, seketika kebanggaan itu menjadi hilang, berganti kekhawatiran yang sangat, yang fisiknya tiba-tiba rapuh, renyuh.
Ternyata anak miskin spiritual. Bahkan membaca Al-Quranpun tak mampu. Di akhir hanyat sang ibu, si anak memang selalu hadir di sampingnya. Namun tidak untuk mendoakannya, atau untuk melantunkan ayat-ayat Al-Quran, atau membimbingnya melafazkan kalimat tauhid, melainkan sibuk membaca novel-novel yang dibawanya. Si ibu akhirnya menutup kisah hidupnya dengan rasa sepi, ditinggal oleh anaknya yang tak tahu cara mendekatkan dirinya dengan ibunya melalui nilai-nilai spritual.
Mari sejenak kita merenung di sini, apakah perempuan yang telah melahirkan kita itu, juga hidup dalam rasa sepi karena oreintasi dan tujuan kita yang berbeda. Jangan merasa puas dengan hanya melihat senyumnya ketika kita menghadiahkannya sebuah barag mahal, sebab boleh jadi ia merindukan sesuatu yang lebih sederhana tapi lebih berharga dari hadiah mahal yang kita berikan. Smoga kita bisa membahagiakan ibu dengan amal-amal terbaik kita.
Rasa Sepi Ketika Anak tak Memahami Bahasa Hati Seorang Ibu.
Karena kita dan orang tua ditakdirkan lahir di generasi yang berbeda, menghuni zaman yang tak serupa, mengalami perubahan-perubahan budaya yang tak sama, terkadang memunculkan perbedaan yang membuat komunikasi orang tua dan anak tak sepaham, kehendak yang tak seiring, dan pikiran yang tak sejalan.
Kondisi seperti ini seringkali mewariskan rasa sepi di kehidupan orang tua. Bukan karena mereka ditinggalkan, tapi karena ada keinginan yang tak dapat dipahami oleh anaknya. Ibu kita umumnya lebih banyak menghabiskan hari-harinya di rumah, memang kadang gagal menangkap dan memahami perubahan yang terjadi pada pribadi dan lingkungan anaknya, Perubahan yang tidak disertai kedewasaan dan kemampuan menghormati sebagaimana seharusnya. Perasaan seorang ibu tak mampu diterjemahkan oleh anak yang dibesarkan dalam budaya yang tak mengutamakan tatakrama dan sopan santun.
Sebuah kisah. Seorang mahasiswi hendak berangkat ke luar negeri untuk meneruskan pendidikannya. Kedua orang tuanya, yang dicintainya dalam jarak yang jauh dan dalam waktu yang lama, tentu ingin meluapkan perhatian dan kasih sayangnyan dengan mengantar si anak ke bandara. Orang tua manapun, terutama ibu, memang selalu ingin menyertai anaknya pada saat-saat penting seperti itu, entah untuk sekedar memberi nasehat, mendoakan, atau melepas rasa haru pada darah dagingnya.
Yaaa…ibu, begitu banyak kesalahan kami, namun Cintamu BUKAN CINTA BIASA.
Tapi anak yang sudah merasa besar dan dewasa, tanpa rasa bersalah menolak niat baik orang tuanya. Dia justru menganggap keinginan baik mereka, seperti perlakuan orang dewasa kepada anak kecil yang harus selalu ditemani kemana pun akan pergi. Si anak kemudian meminta orang tuanya tetap di rumah dan membiarkannya berangkat sendiri.
Mungkin saja maksud si anak baik untuk tidak merepotkan orang tuanya, namun ia gagal menangkap perasaan hati seorang ibu. Ia tak memahami gemuruh hati orang yang begitu berat melepas anaknya untuk pergi jauh dan waktu yang lama. Sehingga yang terjadi kemudian, sang ibu merasakan sepi yang sangat di hatinya. Anak yang dibesarkannya dengan penuh cinta dan pengorbanan, ketika dewasa serasa begitu jauh dan tak tersentuh. Dan tinggallah ia dengan kondisi kesehatan yang terus menurun, karena selalu memikirkan anak yang tak pernah bisa mengerti keinginannya.
Sejenak, mari kita bicara tentang keadaan ibu. Merenungkan rasa sepi yang ia derita karena kita seringkali tidak memahami keinginannya. Jangan biarkan hari-harinya yang tersisa hanya diisi dengan lamunan diri kita. Jangan persingkat usianya dengan membiarkannya memendam rasa rindu yang tak kunjung terobati. Sekali lagi, mari bicara tentang keadaan ini, agar suatu saat nanti kita tak menyesali sikap acuh kita; ketika rasa sepi telah merengut segalanya.
Ibumu, ibumu, ibumu,dan bapakmu
Ya Ibu pantaslah Syurga itu berada di bawah telapak kakimu Ibu…CINTAMU yang tak akan terbalas dengan apapun…CINTAMU bukan CINTA BIASA, cinta mu ibu sepanjang masa. Maafkan saya bu yang jarang pulang, walau sekarang sudah dekat...tapi   kerinduanmu belum terobati...belum lepas rasa kangen di hati sudah dtinggal lagi.
 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.