Berita Terbaru :

Senin, 06 Mei 2013

PENDIDIKAN KARAKTER, TAK SEKEDAR KATA

Oleh Abri Maijon, S.Pd
Kita memang lebih populer menyebut siswa berkarakter dibanding guru berkarakter.  Setiap buku ajar maupun dalam penyusunan perangkat pembelajaran, arahan pendidikan berkarakter untuk siswa menjadi perhatian dan prioritas penting. Siswa menjadi objek satu-satunya.
Pendidikan karakter juga menjadi gerakan nasional mulai tahun ajaran 2011/2012 yang dideklerasikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.  Berbagai program terus diterapkan untuk mensukseskan agenda nasional ini. Termasuk menyiapkan pelatihan, penyuluhan untuk tenaga pendidik sebagai ujung tombak suksesnya gerakan pendidikan karakter di sekolah. Yang pasti bagi mereka yang sedang mencicipi ilmu di lembaga formal bahkan non formal, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi akan terkena dampak kebijakan nasional tentang pendidikan karakter. Generasi Indonesia yang menamatkan setiap jenjang pendidikan harus memiliki karakter dan perilaku terpuji. Pendidikan karakter dianggap sebagai sebuah solusi di tengah kondisi bangsa yang makin memprihatinkan.  Bangsa ini hampir kehilangan ruh, siapa menjadi teladan dan siapa yang meneladani.
Jika kita telaah berbagai teori dan konsep, pendidikan karakter memang diperuntukkan bagi siswa. Guru hanya diminta menjadi model. Guru diharapkan berperilaku baik dan kesehariannya. Tanpa terlalu banyak tuntutan. Jika guru melakukan tindakan di luar ketentuan dan dapat mengurangi nilai keteladanannya, cenderung tidak ada sanksi yang lebih mengikat. Sebut saja guru yang masih merokok bahkan sampai ke dalam lokal belajar, guru yang bertindak kasar kepada siswa, bicara ngawur dan kotor, tidak disiplin, berdusta, membolos, dan sederetan problem lain. Atau guru yang terlibat dalam kejahatan dan kecurangan UN. Berkompromi ‘membantu’ meluluskan siswa pada ujian UN.
Tetapi, kita semua sepakat bahwa keteladanan seorang guru adalah kata kunci keberhasilan penanaman karakter kepada siswa. Keteladanan yang dimaksud adalah sesuatu yang muncul bersama proses pembelajaran, hubungan dan interaksi selama proses pendidikan atau di luar proses pendidikan. Guru harus mampu menjadi contoh yang selalu ditiru peserta didik.
Guru teladan tidak ada hubungannya dengan sosok guru yang senantiasa menjaga wibawa, menjaga image dengan selalu menampilkan dirinya  sempurna, penuh aturan dan kaku dihadapan peserta didik. Perilaku seorang guru akan menjadi bahasa komunikasi paling efektif dan berpengaruh sangat besar terhadap perilaku anak dalam kesehariannya. Bahkan, wibawa seorang guru tidak akan jatuh walau sekalipun sampai memungut sampah dihadapan siswa. Inilah nilai keteladanan seorang guru.
Secara psikologis pengaruh  perilaku tersebut adalah pengaruh bawah sadar peserta didik, yang akan muncul kembali saat ia melakukan aktifitas dalam bersikap, bertindak atau menilai sesuatu pada dirinya maupun orang lain. Bagaimana agar keteladanan seorang guru berbuah hal yang baik pada jiwa, sikap dan perilaku peserta didiknya, seorang guru harus menanamkan rasa kesungguhan yang berkelanjutan tanpa boleh berputus asa.
Keteladanan yang dibangun guru bukanlah keteladanan yang dibuat buat atau keteladanan semu menyelamatkan wajah dihadapan anak. Keteladanan bukan menampilkan apa yang seharusnya ada meski belum dilakukan oleh guru, tetapi menampilkan apa adanya sesuatu yang telah dilakukan oleh guru itu sendiri. Dengan demikian, keteladanan yang dibangun oleh guru akan mudah dipahami dan dilakukan juga oleh anak.
Peserta didik butuh model yang nyata ada di hadapan matanya. Semakin dekat model pada peserta didik maka akan semakin mudah dan efektiflah pendidikan karakter hadir. Peserta didik butuh contoh kongkrit, bukan hanya yang tertulis dalam buku, apalagi contoh dalam ucapan.
Pendidikan karakter mesti dibarengi dengan ibda’ binafsih, yakni memulai dari diri sendiri. Dengan demikian guru tidak hanya pandai bicara dan memerintah tanpa pernah melihat dan menilai bagaimana dirinya berperilaku. Guru harus mempraktikkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan karakter kepada siswa.
Semoga kita tidak masuk ke dalam golongan guru yang sibuk dengan diri sendiri serta hanya mengejar target karir tanpa terlalu peduli dengan kondisi keseharian siswa.
(Artikel ini juga dimuat di Harian Singgalang, Rabu, 23 Januari 2013)
 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.