Berita Terbaru :

Selasa, 14 Mei 2013

PEMISAHAN KELAS MENINGKATKAN PRESTASI SISWA




Nadiyah Syarifa, S.Pd
  (Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang/Guru SMP IT Darul Hikmah)

Dalam proses belajar mengajar, salah satu hal yang dibutuhkan adalah adanya komunikasi yang baik. Memiliki kemampuan komunikasi yang baik ini tidak serta merta bisa dimiliki oleh seseorang. Ada banyak faktor yang memengaruhinya. Salah satunya adalah masalah lingkungan. Bagi seorang siswa, kemampuan berkomunikasi adalah hal yang harus dimiliki. Hal ini sebanding dengan kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain. Kemampuan ini dapat diperoleh dari mana saja, Baik secara formal maupun non-formal. Secara formal, kemampuan itu dapat diperoleh melalui pendidikan di sekolah,  sedangkan secara non-formal dapat diperoleh di mana saja dan kapan saja. Bahkan pengalaman pun bisa menjadi sarana pendidikan bagi manusia.
Kelas sebagai tempat belajar harus memiliki kondisi yang kondusif yang dapat membuat siswa nyaman dan dapat berekspresi dengan tanpa ada penghalang. Salah satu cara untuk membuat nyaman siswa adalah dengan memisahkan kelas antara siswa perempuan dan laki-laki. Jadi, dalam satu kelas itu hanya ada siswa perempuan atau laki-laki saja.
Pemisahan kelas antara siswa laki-laki dengan siswa perempuan amat jarang terjadi baik pada sekolah umum maupun lembaga pendidikan lain seperti bimbel atau les privat. Pemisahan ini hanya ada pada lembaga-lembaga pendidikan tertentu saja seperti sekolah-sekolah islam.
Beberapa pendapat yang keberatan dengan pemisahan kelas menganggap sistem ini mengekang pergaulan, membatasi siswa untuk mengenal lain jenis, dan memancing rasa penasaran. Jelas ini adalah pendapat yang keliru.
Dikutip dari http://bloghidayah.wordpress.com, penelitian menunjukkan lebih dari 700.000 pelajar perempuan di Inggris yang belajar di sekolah khusus perempuan lebih cerdas dibandingkan pelajar di sekolah campuran (pria dan wanita). Anak laki-laki dengan tingkat kecerdasan (IQ) yang sama lebih meningkat prestasi belajarnya di dalam kelas sejenis (laki-laki saja) daripada mereka berada dalam kelas campur laki-laki dan perempuan. Sementara, situs http://www.rnw.nl memberitakan bahwa Persatuan Sekolah Kristen Belanda mengusulkan untuk mata pelajaran tertentu, kelas antara perempuan dan laki-laki dipisah.
            Pemisahan kelas ini akan memberikan kenyamanan dan terbentuknya suasana kondusif di dalam kelas. Akan muncul keleluasaan pada siswa untuk mengekspresikan dirinya dalam seluruh aspek pembelajaran, termasuk pembelajaran dalam hal komunikasi dalam bahasa Indonesia. Dengan adanya pemisahan kelas maka siswa tidak ada rasa malu untuk mengutarakan pendapatnya, berani untuk berbicara, dan tidak takut jika siswa tersebut salah dalam berbicara atau menggunakan bahasa. Kebanyakan siswa malu untuk berbicara karena takut salah dalam menggunakan bahasa Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri masih adanya siswa yang kesulitan dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar. Salah satu penghalang adalah perasaan rendah diri, minder, malu atau takut ditertawakan jika salah menggunakan bahasa, salah dalam menjawab pertanyaan, atau ketika bercerita di kelas. Jelas ini akan memengaruhi keberanian siswa untuk mengekspresikan dirinya. Nah, jika penghalang ini tidak ada maka siswa tidak menemui kendala lagi dalam berbahasa atau berkomunikasi.
Terlebih, perempuan dan laki-laki memiliki psikologi yang  berbeda. Perempuan dikenal cenderung feminim, lemah-lembut, cantik, dan keibuan. Sedangkan laki-laki memiliki sifat yang maskulin, kuat, jantan, rasional, dan perkasa. Perbedaan karakteristik seperti inilah yang dikhawatirkan menimbulkan ketidaknyamanan dalam belajar. Perempuan dengan sifat-sifat tersebut di atas cenderung mudah sedih apabila ada laki-laki yang menertawakannya ketika salah dalam berbahasa, menjawab pertanyaan, atau presentasi. Jelas ini akan berdampak buruk pada perkembangan proses dan hasil belajar baik dari segi nilai di sekolah, perkembangan pribadinya, dan khususnya dalam keterampilan berbicara siswa.
Selain itu, masa-masa puber yang dialami remaja seusia Sekolah Menengah Pertaman (SMP) memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis sehingga di dalam kelas siswa menjadi tidak konsentrasi karena harus menjaga sikap atau jaim (jaga imej) yang cenderung mengarah pada proteksi diri berlebihan. Proteksi yang berlebihan dengan keinginan sempurna dan tidak melakukan kesalahan merupakan hal yang menghambat dalam mengaktualisasikan diri. Siswa laki-laki atau perempuan sibuk untuk menarik perhatian lawan jenis sehingga mengakibatkan siswa tidak konsentrasi dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas. Hal ini tentu akan berpengaruh dalam proses belajar mengajar.
Tidak jarang siswa ditemui sibuk berdandan agar bisa diperhatikan siswa lawan jenis. Jika kondisinya demikian, maka siswa akan banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memancing perhatian dari lawan jenis.
Pembelajaran akan lebih efektif dan efisien ketika dilakukan pemisahan kelas. Siswa akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk menjawab pertanyaan, diskusi, dan berkomunikasi. Usai guru menerangkan, siswa dapat merespon dengan cepat karena tidak malu atau canggung di kelas. Guru tidak membutuhkan waktu yang lama menunggu siswa agar mengemukakan pendapatnya.
Jadi, jelaslah bahwa pemisahan kelas antara perempuan dan laki-laki memberikan efek positif dalam proses pembelajaran, khususnya pembelajaran keterampilan berbahasa atau berbicara di kelas. Maka, pemisahan kelas ini seharusnya segera direalisasikan di sekolah-sekolah untuk meningkatkan prestasi siswa yang berimplikasi pada kemajuan pendidikan negeri ini.


 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.