Berita Terbaru :

Senin, 06 Mei 2013

Merefleksi Makna Hari Ibu

Oleh; Suci Ramadhani, SS.
Staf Pengajar SMP IT Darul Hikmah, Pasaman Barat

Dalam sebuah kisah disebutkan, Rasulullah SAW bertemu dengan seorang pemuda yang pundaknya lecet-lecet sedang melakukan thawaf. Selesai thawaf, Rasul pun bertanya “kenapa pundakmu itu?” Jawab anak muda itu, “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah uzur dan saya sangat mencintainya. Saya tak pernah melepasnya, kecuali saat buang hajat, sholat, atau istirahat, sisanya saya selalu menggendongnya.” Kemudian anak muda itu bertanya, “Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kepada orang yang sudah berbakti kepada orang tua?”. Nabi SAW merasa terharu mendengar cerita pemuda tersebut, kemudian sambil memeluknya beliau bersabda, “Sungguh Allah SWT ridho kepadamu, kamu anak yang sholeh lagi berbakti. Tapi anakku, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan oleh pengorbanan dan kebaikanmu.” HR. Thabrani.
Sungguh, menjadi ibu adalah anugerah yang luar biasa. Di saat bangsa-bangsa modern membutuhkan satu hari khusus untuk mengenang jasa baik seorang ibu, Islam telah lebih dahulu menyampaikan bahwa jangankan hanya mengingat dan berbuat baik satu hari saja, berbakti sepanjang usiapun jasa beliau tak kan mampu terbalas oleh sang anak. Pengorbanan seorang ibu bukan hanya dimulai saat dia benar-benar menjadi seorang ibu. Bahkan ketika masih dalam bentuk embrio pun perjuangan dan kasih sayangnya sudah mulai dihadiahkan bagi calon anak. Sekali lagi, calon anak, belum benar-benar berwujud. Lihatlah betapa seorang ibu sudah merasakan lemah dan penderitaan yang berlapis lapis ketika menjaga anak dalam kandungannya. Kehadiran si calon anak ini telah merubah segala hal dalam dirinya. Tubuhnya, kesehatannya, bahkan  karirnya  tersita demi mepertahankan calon anaknya. Hingga tiba saatnya harus melahirkan sang anak ke dunia, saat-saat yang penuh perjuangan dan rasa campur aduk ditempatkan Allah SWT sejajar dengan nilai berjihad di JalanNya. Tiada balasan yang lebih mulia dari balasan seorang yang gugur syahid membela agama Allah, dan seoarang ibu berhak atas balasan serupa. Sedemikian mulianya kedudukan seorang ibu di hadapan Allah. Belum lagi bagaimana seorang ibu memiliki hak dua pertiga dari perhatian anaknya, dibanding sang ayah yang ‘hanya’ mendapatkan sepertiga bagian saja. Ibu, ibu, ibu, setelah itu baru ayah. Sungguh nyata besarnya makna seorang ibu. Lalu apakah cukup hanya satu hari saja merayakannya? Padahal seumur hidup pun, takkan mampu membalas jasa seorang ibu.
Islam memuliakan seorang ibu
Bayangkan, dari mana sesungguhnya sebuah bangsa berjaya itu berdiri? Jawabannya adalah dari sekumpulan masyarakat yang baik. Lalu kemudian dari mana masyarakat itu bisa berdiri? Jawabannya adalah dari berkumpulnya beberapa keluarga dengan norma- norma mulia. Selanjutnya dari mana sebuah keluarga mulia bisa hadir? Jawabannya adalah tak lepas dari peran seorang ibu yang merupakan madrosatul ummah, sekolah pertama bagi seorang anak manusia. Seorang ibulah yang akan menentukan berjaya atau tidaknya sebuah bangsa. Maka pantaslah apabila posisi seorang ibu demikian mulianya di hadapan Allah. Secara tidak langsung, Allah memberikan amanah kepada para ibu untuk membentuk pribadi-pribadi yang sholeh mushlih di dunia ini. Tentunya amanah ini teramat berat.
Untuk itu, bagi para anak, muliakanlah ibu dalam berbagai kesempatan, senangkanlah hatinya, sebab ridho Allah seiring dengan ridho seorang ibu. Merawat dan mengurusnya apabila telah lanjut usia, berprilaku santun dan senantiasa mendoakan mereka akan menjadi hal yang sangat berharga, melebihi hadiah-hadiah mahal sekalipun. Sebab kasih sayang seoarang ibu sifatnya abadi, tidak akan berubah sebab dibalas atau tidak jasanya. Sementara bagi para isteri, janganlah merasa ‘cemburu’ atas perhatian suami kepada ibundanya, sebab tiada ada satu perkarapun di dunia ini yang dapat memutuskan ikatan suci seorang anak lelaki dari ibunya. Sedangkan untuk para ibu, jadilah ibu yang layak untuk mendapatkan derajat kemuliaan di hadapan Allah, lakonilah sifat taqwa agar hanya hal tersebutlah yang akan dibawa oleh anak-anak. Untuk kita semua, selamat merayakan hari pahlawan tanpa tanda bintang yang tersemat di dunia. Selamat hari ibu!!!
Wallahua’lam bisshawab.
 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.