Berita Terbaru :

Minggu, 05 Mei 2013

KEMELUT UN DAN KURIKULUM BARU

Abri Maijon, S.Pd
Berbagai bemberitaan dan tanggapan datang menyusul kacau balunya pelaksanaan UN tahun ini. Kemelut UN tingkat SMA/SMK/MA yang sejatinya dilaksanakan serentak secara nasional tanggal 15 – 18 April 2013, ternyata terlaksana di luar dugaan. Penyelenggaraannya amburadul karena masalah terlambatnya pendistribuasian soal ujian. Tak tanggung-tanggung SMA/sederajat di 11 propinsi wilayah Indonesia tengah UN-nya harus ditunda karena soal yang terlambat datang di lokasi. Inilah kejadian pertama pelaksanaan UN terburuk dalam sejarah pendidikan Indonesia.
Mendikbud Muhammad Nuh berdalih karena masalah teknis, keteledoran dari pihak percetakan. Pihak percetakan juga punya alasan tersendiri tentang keterlambatannya seperti masalah pengepakan dan banyaknya paket soal yang harus disiapkan dalam waktu yang relatif singkat. Padahal sebelumnya Mendikbud sudah menggembar-gemborkan bahwa kesiapan pelaksanaan UN sudah mencapai seratus persen.
Berbagai permasalahan UN, mulai dari pengunduran 11 provinsi, naskah UN yang tercecer, soal kurang sehingga harus difoto copy pihak sekolah hingga tertukar serta buruknya kualitas kertas naskah UN. Hal ini mengindikasikan perencanaan dan pengawasan yang tidak matang dalam proses persiapan UN. Di Provinsi Nangroeh Aceh Darussalam misalnya, siswa peserta UN mengeluh. Lembar jawaban mudah rusak. Kalau dihitamkan dengan pensil, kertasnya rusak. Siswapun kemudian dihantui kecemasan, khawatir lembar jawaban tidak terbaca alat pemindai.
Tidak hanya di 11 propinsi yang diundur, dibanyak daerah yang diperkirakan sudah aman dari pendistribusian soal ternyata masih bermasalah seperti di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau yang pelaksanaan ujian yang amburadul karena tidak lengkapnya soal yang dikirim. Ada yang tertunda sampai lima jam dari jadwal yang seharusnya, hingga ada sekolah yang siswanya dipulangkan karena tidak tersedianya paket soal.
Lengkap sudah semua yang terjadi tahun ini, biaya UN yang menyedot anggaran negara Rp. 600 Milyar, tidak berbanding lurus dengan kinerja dan hasil yang didapat.  Apa lagi kemelut ini terjadi di tengah pro kontra keberadaan UN.
Barangkali sudah banyak masukan, soal UN pengadaannya tidak terpusat sperti yang terjadi dua tahun terakhir. Naskah UN digandakan di provinsi saja, sehingga mampu mengatasi berbagai keterlambatan. Termasuk panitia penyelanggara UN ditunjuk dari pihak independen.
Buruknya penyelenggaran UN tahun ini menambah kekhawatiran sejumlah pihak tentang penerapan kurikulum baru 2013 yang berpotensi juga terjadi kekacauan. Kekahwatiran ini cukup beralasan mengingat pelaksanaan yang serba dipaksakan, mirip dengan penyelanggaraan UN. Salah satu contoh, Uji publik (kurikulum baru) hanya berlangsung tiga bulan saja, kemindikbud mengklaim uji publik berhasil dan kurikulum siap diberlakukan. Ada yang berpendapat tidak sekedar uji publik, namun perlu diuji cobakan. Tetapi pemerintah tidak menggubris.   
Inilah kenyataan di republik ini, kurikulum sangat mudah berganti. Jika ditelusuri sudah sembilan kali kurikulum berganti, diantaranya Kurikulum 1974 (Rentjana Pelajaran 1947), Kurikulum 1952 (Rentjana Pelajaran Terurai 1952), Kurikulum 1964 (Rentjana Pendidikan 1964), Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999, dan Kurikulum 2004, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi).
Jika terjadi pergantian kurikulum 2004 ke 2013, tercatat sudah 10 kali mengalami bergantian. Padahal tidak ada evaluasi yang signifikan kenapa harus berganti. Kenapa tidak disempurnakan saja kalau terdapat kekurangan yang harus disesuaikan. Andai saja kita mau belajar dari Finlandia, negara yang paling sukses menyelanggarakan pendidikan di dunia. Finlandia terkenal dengan kebijakan-kebijakan pendidikan yang konsisten.  Selama lebih dari 40 tahun kebijakan pendidikannya tidak berganti, walau partai yang berkuasa dan pemerintah digonta ganti.

 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.