Berita Terbaru :

Selasa, 14 Mei 2013

Bahasa Sederhana Untuk Siswa




Oleh Supadilah S.Si
Wakasis SMP IT Darul Hikmah, Pasaman Barat
               
Penggunaan bahasa yang tepat dalam mengajar sangat penting untuk menentukan keberhasilan proses transfer ilmu dari guru kepada siswa. Sebab hal mendasar dalam proses mengajar adalah bagaimana mampu diterimanya ilmu oleh siswa dengan baik. Dan salah satu sarana transfer ilmu itu adalah dengan penggunaan bahasa yang tepat. Tanpa kemampuan berbahasa yang baik dan tepat, maka ilmu yang dimiliki guru tidak akan bisa diterima dengan baik oleh siswa walaupun ilmu sang guru setinggi gunung.

Tanpa sadar, seringkali guru berbicara menggunakan ‘bahasa yang tinggi’ kepada siswa. ‘Bahasa tinggi’ yang dimaksud disini misalnya bahasa politis, serapan bahasa asing, dan istilah-istilah yang mengandung arti ganda. Terlebih jika sang guru dulu semasa kuliahnya adalah aktivis atau organisatoris. Karena terbiasa dengan penggunaan ‘bahasa yang tinggi’ itu, guru terjebak dengan tetap menggunakannya kepada siswa. 

Seringkali guru terjebak pada penggunaan istilah dan kata-kata yang tinggi. Apalagi jika guru atau yang mengajar dulunya adalah aktivis atau organisatoris semasa kuliahnya. Atau guru atau kepala sekolah tertulari gaya pidato politisi atau pejabat yang dilihatnya di televisi, yang biasa menggunakan bahasa asing atau kata-kata sulit. Seolah dengan menggunakan ‘bahasa tingkat tinggi’ akan terlihat lebih modern, terhormat, dan terpelajar. 

Contoh kata-kata yang memuat penggunaan ‘bahasa tingkat tinggi’ adalah “Siswa sekalian, idealnya dengan jumlah kita yang banyak, mampu menghasilkan prestise yang optimal. Namun realitanya, prestasi kita masih stagnan. Kedepan, motivasi berprestasi kita perlu direnovasi. Ini adalah asumsi kita”. 

Kepala sekolah atau guru terbiasa dengan bahasa yang rumit dan ‘tinggi’.  Penggunaan ‘bahasa yang tinggi’ ini sulit untuk dicerna oleh siswa. Jelas ini akan menjadi masalah bagi siswa. Apalagi jika siswa masih dalam jenjang pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) yang penguasaan bahasanya belum bagus. 

Sudah saatnya merubah penggunaan bahasa sulit dengan bahasa yang sederhana. Kepala sekolah atau guru harus mampu mencari dan menemukan serta menggunakan bahasa sederhana tersebut. Maka disini dituntut pengetahuan kepala sekolah atau guru terhadap perbendaharaan kata-kata, harus menguasai padanan kata ‘bahasa tinggi’ tersebut.

Misalnya kearifan lokal diganti dengan kebudayaan lokal, regulasi (peraturan), regenerasi (pewarisan), dinukil (diambil), historis (sejarah), urgensi (penting), klasifikasi (pengelompokan), aplikasi (penggunaan), realita (kenyataan) dan sebagainya.

Memang, perlu juga untuk mengajari siswa dengan kata-kata tinggi atau penggunaan bahasa serapan itu. Namun harus diperhitungkan tingkat kemampuan siswa dalam menerima dan memahaminya. Indikatornya adalah banyaknya penggunaan bahasa daerah di sekolah tersebut.

Pertama, daya terima atau kemampuan. Sudahkah siswa mampu menerima ‘bahasa tingkat tinggi’ itu. Caranya adalah dengan memerhatikan penggunaan bahasa daerah di sekolah. Tidak dipungkiri, masih banyak siswa yang kesulitan berbahasa Indonesia, atau bahkan guru sendiri. Banyak yang masih gagap saat harus menggunakan bahasa Indonesia secara langsung. Pengalaman penulis, teman-teman di kampus pun banyak yang kesulitan berbahasa Indonesia apalagi tingkat siswa. Jika siswa belum mampu menerima penggunaan ‘bahasa tingkat tinggi’ itu, maka lebih bijak bagi guru untuk menghindarinya. 

Kedua, daya dukung mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sudahkah pelajaran Bahasa Indonesia di kelas memberikan atau mengajari siswa tentang ‘bahasa tingkat tinggi’ itu. Kalau sudah ada pengawalan melalui pelajaran Bahasa Indonesia dan siswa dirasa mampu, maka tidak jadi persoalan dengan penggunaan ‘bahasa tingkat tinggi’ itu. Untuk mengajari dan membiasakan siswa berbahasa dengan tingkat yang lebih tinggi. 

Contoh di atas dapat “Siswa sekalian, seharusnya dengan jumlah kita yang banyak, mampu menghasilkan prestasi yang baik. Namun kenyataannya, prestasi kita masih belum berubah. Kedepan, semangat berprestasi kita perlu diperbaiki. Ini adalah perkiraan atau anggapan kita”. 

Oleh karena itu, guru dan kepala sekolah sebaiknya berpikir ulang untuk menggunakan ‘bahasa tingkat tinggi’ dan beralih ke penggunaan bahasa sederhana. Demi tersampaikannya pesan atau materi ajar. Tidak akan menjadi rendah dengan menggunakan bahasa sederhana. Toh, orang yang jenius adalah orang yang mampu menyederhanakan hal yang sulit, dan bukan sebaliknya; mempersulit yang sederhana. Selamat menjadi guru yang jenius, dengan berbahasa yang sederhana. 


 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.