Berita Terbaru :
Headlines :

Entri Populer

Hasil Seleksi PPDB Gel II 2014 | KLIK DISINI

Kisah Inspiratif

Prestasi

Berita Sekolah

Rabu, 26 November 2014

Bait Pendek | Teman Sejati

| Oleh rahmat Illahi |

Teman…
Kata sederhana
yang tidak mudah ditemukan dalam kenyataan.
 
Teman…
Tak semua yang dekat bisa berlabelkannya

Teman…
Ada kerinduan
untuk selalu dapat bertemu dengan sosok sepertinya.
 
Pernahkah kau temukan seseorang
Yang senantiasa setia di sisimu kala kau jatuh dan hilang asa.
 
Pernahkah kau dapati sesosok makhluk
Yang selalu tahan mendengar kisahmu
Kala angin membawa berita-berita busuk tentangmu.

Pernahkah handphone berdering di tengah malam
Hanya untuk sebuah kalimat pendek
“Apa Kabar Imanmu Malam ini?”
 
Pernahkah kau tangkap butiran air mata yang disembunyikan
Sehabis doa panjang yang padanya terselip namamu.
 
Dialah teman sejatimu.

Salam Cinta

 
Dibuat semasa masih mahasiswa. :)

Dengki Menghanguskan Kebaikan

Sifat dengki atau hasad merupakan salah satu penyakit hati yang parah, sehingga Imam Al-Ghazali menggolongkannya sebagai sebuah dosa besar. Dengki atau Hasad adalah keinginan atau harapan agar nikmat yang ada pada orang lain lenyap. Seolah ia tidak ridha dengan kekentuan Allah swt, bahwa Allah telah menentukan rejeki , keistimewaan dan kebaikan bagi tiap hamba-Nya, masing-masing sudah ada bagiannya. 

Allah swt telah mengajarkan kita untuk senantiasa memohon perlindungan kepada-Nya dari sifat dengki, yakni seperti tercantum dalam surat Al-Falaq. Qul ‘audzu birrabbil falaq. Min syarri maa khalaq. Wa min syarri ghaasiqin idza waqab. Wamin syarri naffasaati fil uqod wamin syarri haasidin idza hasaad.   ….. “ dan dari kejahatan pendengki ketika melakukan kedengkian.

Siapa yang mengajarkan kedengkian ini kepada makhluk manusia? Jawabannya adalah Iblis laknatullah. Sejak awal penciptaan Nabi Adam as, Iblis sudah merasa dengki terhadap Adam as, atas keutamaan/keistimewaan yang dikaruniakan Allah kepada Nabi Adam. Nabi Adam diciptakan dari tanah, dan Allah menyuruh agar Iblis bersujud kepada Adam As. Iblis dengki, kenapa yang diberi kemuliaan penghormatan adalah Nabi Adam, bukan dia Iblis. 

Inilah kisah dan sejarah kedengkian yang pertama. Selanjutnya kita juga mengetahui kisah kedengkian pada periode berikutnya, yakni dimasa kehidupan anak-anak nabi Adam as. Qabil hasad/dengki kepada saudaranya sendiri, Habil. Allah memerintahkan Habil untuk menikah dengan saudara kembar Qabil yang kebetulan lebih cantik, dibanding dengan saudara kembar Habil yang harus dinikahi oleh Qabil. Dengan sebab kedengkian ini, akhirnya Qabil tega membunuh saudara sendiri, Habil. Dan ini adalah sejarah pembunuhan manusia yang pertama kali.

Betapa dahsyat kerusakan yang disebabkan oleh sifat dengki. Maka sangat bisa dimengerti, sabda Rasulullah saw: al Hasadu ya’kulul hasanaat, kama ta’kulu annar alhathabu “ (HR. Abu Dawud). Kedengkian akan memakan seluruh kebaikan, sebagaimana api akan melahap/membakar kayu bakar". Bayangkanlah, sepotong kayu yang keras, oleh sebab dimakan api, bisa menjadi hangus dan menjadi hancur menjadi kepingan yang sangat halus berupa abu yang dengan mudah akan diterbangkan oleh angin. Bahkan benda yang lebih keras dari kayu pun, misalnya alumunium, jika kita bakar terus menerus, akan bisa menjadi rapuh dan berlubang. Sebagian ibu-ibu yang memasak di dapur, mungkin pernah mengalami kasus kebakaran pancinya, ketika lupa mematikan kompor, yang menyebabkan panci tersebut menjadi rapuh dan bocor.

Demikian juga dengan dengki, ia akan menghanguskan amal-amal shalih yang sudah dilakukan pelakunya. Sungguh rugi dan bangkrut, orang-orang yang melakukan kedengkian, dia menyangka akan memanen amal-amal baiknya di surga kelak, namun ternyata sangkaan dan harapannya kosong belaka. Pahala amal-amalnya hangus karena kedengkian yang ada pada dirinya. 

Dan sungguh beruntung, orang yang hatinya selalu lapang dan bersih, tidak ada dengki di dalam dirinya. Dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa suatu kali ketika Rasul saw sedang duduk bersama sahabat, Rasul menyampaikan bahwa sebentar lagi dari lorong/jalan ini akan muncul seorang calon penghuni syurga. Muncullah seorang anshar yang saat itu kelihatan baru selesai wudhu, bekas air wudhunya masih mengalir di jenggotnya. 

Pada kesempatan lain, Rasul menyampaikan hal sama, sahabat menyangka ada orang lain lagi calon penghuni syurga, ternyata yang muncul adalah seorang anshar yang sama. Hal ini terjadi sampai tiga kali. Para shahabat penasaran, salah satu yang penasaran adalah Abdullah ibnu Umar. Beliau kemudian berencana bermalam di rumah orang anshar tersebut, untuk bisa “mengintip” gerangan apakah kesitimewaan amalnya. Malam pertama, kedua dan ketiga, Ibnu Umar tidak mendapatkan data yang istimewa tentang ibadah-ibadah beliau, semua berjalan standar saja. 

Akhirnya Abdullah bin Umar memberanikan diri untuk bertanya, adakah amalanmu yang istimewa, sehingga baginda Rasul saw mengabarkan bahwa engkau termasuk penghuni surga. Orang anshar tersebut menjawab bahwa “amalanku adalah seperti yang sudah engkau lihat sendiri, dan tidak ada yang istimewa, hanya saja, di hati saya tidak pernah ada kedengkiaan dan kekesalan kepada sesama muslim.” Maka Abdullah bin Umar berucap “ yang seperti inilah yang belum ada pada saya” dan beliau pulang dengan membawa sebuah hikmah dan pelajaran besar, betapa pentingnya membersihkan hati dari segala sifat dengki, sekecil apapun.

Dalam kehidupan nyata sehari-hari, praktek-praktek kedengkian dengan mudah kita saksikan di depan mata, boleh jadi dalam kadar yang berbeda. Gambaran kondisi yang pertama dan yang paling parah, adalah seseorang yang menginginkan nikmat yang ada pada orang lain, hilang dan lenyap. Dia menginginkan, harusnya dirinya yang mendapatkan kenikmatan tersebut. Dalam beberapa hal, kondisi ini mirip dengan kedengkian orang-orang yahudi bani Israel terhadap kerasulan Nabi Muhammad saw. 

Inilah yang dimaksud dengan dengki/hasad. Gambaran kondisi yang kedua adalah seseorang yang menginginkan untuk mendapatkan nikmat seperti orang lain, tanpa mengharapkan lenyapnya nikmat yang ada pada orang lain. Ini yang sering disebut dengan tanafus, atau persaingan

Meskipun lebih ringan dari kondisi yang pertama, namun manakala dituruti keinginan nafsu-nafsu materi-duniawi, akan menyebabkan hati kita keras, hanya akan disibukkan untuk terus-menerus mengejar materi/dunia. Maka sebisa mungkin hal ini harus dihindari, kecuali dalam dua hal, menginginkan seperti orang lain yang memiliki ilmu dan pemahaman, sehingga memberikan penerangan bagi masyarakat, dan menginginkan seperti seseorang yang Allah karuniakan harta yang berlimpah, dan hartanya digunakan untuk berjuang di jalan Allah dalam semua maknanya. Kondisi yang ketiga, adalah menginginkan lenyapnya harta pada orang lain , yang harta tersebut digunakannya untuk melakukan kejahatan. Misalnya ada seseorang yang memiliki rumah, tapi rumah tersebut digunakan untuk prostitusi misalnya. 

Maka ulama membolehkan, jika seseorang menginginkan agar rumah tersebut lenyap/lepas dari pemiliknya, agar hilang kejahatan prostitusi.

Sebagai penutup, coba kita renungkan kembali hadis Rasulullah saw berikut: “ laa tahasabuu wa laa taqaatha’u wa laa tabaghadhu wa laa tabaadaru wa kuunuu ibaadallahi ikhwaana “ Janganlah kalian saling mendengki, jangan saling memutuskan persaudaraan, jangan saling membenci, jangan saling menipu/memperdaya, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling besaudara.   (HR   Bukhari   Muslim).   Wallahu a’lam bishawwab.

Kabar Gembira dan Sebuah Bata



Masih hening sukma-sukma dalam renungan atas keagungan doa Ibrahim ‘Alaihis Salam, ketika Sang Nabi, mentari di hati para sahabatnya itu kembali bersabda, “Dan aku adalah kabar gembira yang dibawa oleh ‘Isa ‘Alaihis Salam.”

“Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab [yang turun] sebelumku, yaitu Taurat. Dan memberi kabar gembira dengan [datangnya] seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad..” (QS Ash Shaff [61]: 6)

Memang engkau ya RasulaLlah, adalah kabar gembira. Nubuat tentangmu dikabarkan para Nabi sebelummu dengan berseri-seri penuh  kesyukuran. Mereka menyebut Himdah, Periklitos, Bar Nasha, Adonis, Maitreya, dan semua sanjungan tentang risalah yang akan memenuhi ufuk, dari tempat terbit mentari hingga terbenamnya.

Engkaulah imam bagi mereka dalam shalat yang ditunaikan di Masjidil Aqsha nan suci, beberapa saat jelang keberangkatanmu bermi’raj ke haribaan Ilahi. Engkaulah yang disambut Adam, Yahya serta ’Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim di tiap lapis langit dengan doa yang mesra. Engkaulah penutup, bagi matarantai terhubungnya bumi dengan langit.

Segala keutamaanmu adalah kesempurnaan. Dan kerendahan hatimu pada mereka menjadikan kemuliaan dirimu tak tergapai oleh seorang makhluqpun. Inilah kami menitikkan  airmata, saat Imam Al Bukhari membawakan riwayat berisi permisalan yang kaubuat tentang dirimu dengan para Nabi yang memancangkan tapak-tapak Tauhid sebelum engkau dibangkitkan.

“Perumpamaan antara aku dengan para Nabi yang diutus sebelumku”, ungkapmu, “Adalah seperti orang yang membangun sebuah rumah lalu membaguskan dan memperindahnya. Hingga tersisa sebuah labinah, ceruk di mana satu batu-bata belum terpasang pada dinding samping rumah tersebut. Maka orang-orang pun mengelilingi dan mengaguminya seraya berkata, ‘Duh, betapa baiknya jika batu-bata terakhir dipasang pada tempatnya agar rumah ini sempurna.” Akulah batu bata terakhir itu. Akulah penutup para Nabi.”

Inilah kami, ummatmu yang berbahagia dengan kehadiranmu nan rendah hati. Yang menyebut keakuan hanya sebagai sesudut batu di rumah yang indah. Yang memandang diri cuma bak sebatang bata penggenap sempurnanya sebuah bangunan.

“Rabbku mengajariku Adab”, lagi-lagi kau bertawadhu’ bahwa semua kemuliaanmu adalah karuniaNya, seperti tercantum dalam riwayat At Tirmidzi, “Maka Dia membaguskan adab-adabku.” Dan adab da’wahmu adalah kerendahan hati. Sebab kebenaran tak dapat disampaikan oleh insan yang merasa tinggi. Sebab orang benar yang angkuh, akan merusak rasa hormat semesta pada kehakikian itu sendiri.

“Dan berilah peringatan pada kaum kerabatmu yang terdekat. Dan rundukkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu dari orang-orang mukmin.” (QS Asy Syu’ara  [26]: 214-215)
Inilah engkau yang menjadi jalan hidayah bagi semesta, rahmat dan cahaya yang menerangi gelap hati, Allah menuntunmu untuk merundukkan diri. Sebab bagi hati yang merunduk tak ada lagi kerendahan tuk jatuh. Sebab dalam hati yang merunduk, terbuncah cinta yang utuh. Sebab atas hati yang merunduk, segala kepongahan akan takluk. Sebab pada hati yang merunduk, cinta manusia mengalir teruntuk. Sebab terhadap hati yang merunduk, semesta akan bertepuk.
Tapi segala ketundukan dan kekhusyukan hatimu hanyalah untuk mengundang cintaNya, bukan sorak-sorai manusia.

Maka izinkan kami belajar darimu wahai hati yang merunduk. Bahwa jika diri merasa besar, kami harus memeriksa hati. Mungkin ia sedang bengkak. Jika diri merasa suci, kami harus memeriksa jiwa. Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani. Jika diri merasa tinggi, kami harus memeriksa batin. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan. Dan jika diri merasa wangi, kami harus memeriksa niat. Mungkin itu asap dari ‘amal shalih yang hangus dibakar riya’.
Shalawat dan salam bagimu duhai Nabi yang rendah hati; yang terpuji di langit dan bumi.
sepenuh cinta 

{termuat dalam UMMI, Juli}
salim a. fillah

Selasa, 25 November 2014

Malapetaka 40 Detik



 |Oleh Abri Maijon


           Ini adalah tulisan ke tiga kali saya di koran yang sama menyoal buruknya jalan raya Pasaman Barat. Saya tak akan bosan dan akan terus bersuara, walau suara itu tak selantang saat menjadi aktivis mahasiswa memimpin demonstrasi berbagai kesempatan beberapa tahun lalu. Saya yakin jeritan ini pasti ada yang membacanya dan merenunginya, terutama pejabat publik yang mengurusi fasiltas publik sepenting jalan raya sebagai salah satu penunjang urat nadi perekonomian rakyat.
            Setiap kali melihat kerusakan yang terkesan dibiarkan. Hati kita terasa remuk dan agak kecewa sambil terus bertanya. Dimana pemerintah, dimana wakil rakyat. Mana komitmen mensejahterakan rakyat, sebagai mana janji yang diucapkan. Kenapa begitu lamban menyikapi persoalan yang nyata di depan mata, terkesan amat minim inisiatif. Mestinya fasilitas sepenting itu harus mendapat tempat dan prioritas untuk diurus dan diselesaikan.
           Padahal dibanyak sisi pembangunan yang kelihatan belum begitu penting, ternyata dapat diselesaikan dengan cepat dan mudah. Sebut saja pembangunan Bandar Udara (bandara), atau jalan protokol dua jalur yang begitu megah. Fasilitas itu hanya tampak digunakan segelintir orang, berbeda jauh dengan jalan raya yang semua orang menggunakannya tanpa henti.
Apa susahnya memprogramkan perbaikan jalan, jika belum mampu menuntaskan pembangunan setiap ruas yang rusak, ditambal kembalipun cukup. Sebab, jika menunggu membangun pengerjaan mega proyek seperti yang sekarang berlangsung, entah sampai kapan akan rampung, terkesan pembangunan sangat lamban. Sementara yang hancur digilas truk raksasa semakin hancur dan luluh lantak. Apa lagi musim hujan, kerusakan semakin sempurna.
Pagi itu adalah peristawa yang naas bagi saya. Saya keluar rumah mengantar sekolah anak. Mobil yang saya kendarai berhadap-hadapan dengan truk tronton bermuatan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang over kapasitas, isi muatannya jauh melebihi ukuran bak truk. Saya tiba-tiba berhenti karena di depan ada kerusakan jalan dengan lobang yang berukuran besar dan cukup dalam disertai bibir pinggir aspalnya yang tajam yang sewaktu-waktu dapat merobek ban. Saya bermaksud sedikit membanting stir ke arah kanan untuk terbebas dari lobang itu.
Diwaktu bersamaan tronton di depan juga tiba-tiba berhenti  di depannya juga ada lobang yang berukuran hampir sama, saya kaget bukan kepalang truk raksasa berbeban berat itu tiba-tiba menyalip diarah depan hanya berjarak beberapa jengkal saja dari posisi saya. Karena melintasi lobang dan posisi menyalip, truk terlihat sangat oleng dan hampir terbalik, karena cukup keras terbentur jebakan lobang, butiran sawit terlihat berjatuhan dari tandannya. Berserakan.
Saya berkeringat dingin sambil beristighfar pasrah, tidak tau mau berbuat bagaimana. Memundurkan mobil, sudah terhalang oleh puluhan mobil yang berjejer macet di belakang. Tidak ada pilihan. Mengerikan jika  terbalik, yang pertama kali akan tertimpa truk raksasa itu adalah saya dan anak yang berada di dalam mobil. Wallaualam, akan bisa kembali selamat atau tidak. Inilah malapetaka 40 detik yang menakutkan. Alhamdulillah kami berdua selamat.
Saya semakin trauma melihat truk bermuatan sawit yang dimuat melebihi normal. Keesokan paginya saya kembali bertemu dengan truk penangkut TBS kelapa sawit, kali ini puluhan tandan sawit terlihat berjatuhan, tumpah ruah dibadan jalan, menutupi akses transportasi tepat di depan rumah makan Bernama. Pikiran saya langsung menebak itu akibat jalan rusak dan angkutan melebihi kapasitas, tidak disertai pengaman. Namun syukur, tidak ada pengguna jalan lain yang berada di samping dan tidak ada korban. Saya sempatkan mengambil foto untuk sewaktu-waktu dapat dijadikan bukti.
Inilah yang disebut dengan minimnya pengawasan dan kontrol pejabat pemerintah dan aparat. Sudah sangat gamblang di depan mata kerusakan parah jalan raya. Kenapa masih diberi izin truk yang over kapasitas, padahal sangat banyak polisi lalu lintas sepanjang jalan yang berjaga di jam sibuk itu.
Apa sulitnya membuat regulasi untuk truk CPO dan bermuatan sawit diberi izin jalan di malam hari sampai jalan raya betul-betul selesai dibenahi. Dan siangnya untuk masyarakat. Seperti halnya dibanyak daerah lain yang memberkukan seperti ini. Jangan terkesan tidak ada solusi, sementara rakyat yang terus menanggung akibatnya.    
Pemerintah juga harusnya terus berpikir bagaimana sesegera mungkin ada solusi perbaikan jalan, jika memang sudah di bawah tender pengerjaan dan menjadi tanggungjawab pembangun proyek, lalu apa konsekwensi untuk publik, tidak mungkin kita menunggu pembangunan proyek besar itu tuntas sementara jalur darat yang setiap hari digunakan terus hancur.
Kita tidak menginginkan lempar tangan, dan debat status jalan milik provinsi, kabupaten maupun pusat, kita mendambakan pemerintah yang bijak memberikan pelayanan terbaik untuk rakyatnya. Semoga!

       

Tandan Buah Segar (TBS) yang berjatuhan dari sebuah truk di depan RM Bernama, Pasaman Barat, 26/11.












Info PPDB

Artikel Siswa

Artikel

OSIS

Profil Sekolah

 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.