Berita Terbaru :
Headlines :

Entri Populer

Hasil Seleksi PPDB Gel II 2014 | KLIK DISINI

Kisah Inspiratif

Prestasi

Berita Sekolah

Sabtu, 13 Desember 2014

CINTA ALLAH HADIR SETIAP WAKTU




Dalam QS. At-Taubah [9] ayat 24, Allah berfirman;

“Katakanlah:’ Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiaannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan berjihad dijalan-Nya. Maka
tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
” (QS. At-Taubah [9]: 24).

Ayat di atas menjelaskan tentang kewajiban seorang hamba mencintai Allah dan Rasul-Nya. Harus kita sadari bahwa keindahan cinta sejati dan hakiki bukanlah kepada harta benda atau seseorang, tetapi cinta hakiki adalah ketika kita mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Dalam hadist Qudsi, dari Abi Hurairah berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda; “Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan merayu malaikat Jibril dan berfirman; “Wahai Jibril sesunggunya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia, maka malaikat Jibrilpun mencintainya, kemudian malaikat Jibril berseru kepada penghuni langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia, maka penghuni langit pun mencintainya, lalu dijadikan untuknya penerimaan baik atau simpati di bumi.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Subhanallah…kalau Allah sudah jatuh cinta kepada seorang hamba, maka seluruh penghuni langitpun akan mencintainya. Siapa sih orang yang tidak mau menjadi kekasih Allah
Saudara…coba pula kita lirik sejenak, saya yakin bahwa saudara pernah melihat tanyangan di TV tentang berita saudara-saudara kita yang di timpa musibah (Tsunami, gempa dimana-mana, longsor, kebakaran, angin, badai). Coba ingat-ingat kembali, di tengah-tengah hiruk pikuknya manusia yang sedang kepanikan, berlarian, berhamburan, yang kadang tak tentu arah. Pernah gak kita mendengar suara dari sekian banyak pekikan dan histeris manusia, sayup-sayup atau secara lantang terdengar kata-kata ini, “Subhanallah ya Allah, Allah hu akbar-…. Allahu Akbar, Yaa…Allah, innalillah. Saya yakin sahabat pernah dengar.
Atau seorang suami yang sudah kehabisan akal tuk menulasi persalinan istrinya dirumah sakit, gak tau lagi mau kemana, segala cara sudah dicoba, semua saudara sudah tidak menerima. Dengan rasa perih dia menjerit dalam hatinya, “Ya….Allah….!”, atau orang yg galau di rundung duka dan sedih, dadanya sesak, dunia terasa sempit..dalam sujudnya ia memanggil Allah..."Ya Allah saya tidak kuat",,anak sekolah yang gagal dalam ujian akhir, dengan perasaan menyesal, dalam langkah yang lulai, dalam hatinya ia berujar, “Ya Allah andaikan dulu saya besungguh-sungguh”.
Atau dalam aktifitas lain...
Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup kencang. Maka para awak kapal pun dengan panik berseru, “Ya Allah!”
Ketika orang yang berjalan di tengah gurun pasir tersesat, kendaraan tak tahu lagi jalan yang benar, dan kafilah sudah bingung menentukan arah lajunya, maka mereka menyeru, “Ya Allah!”
Ketika musibah menimpa, bencana dan tragedi melanda, maka orang-orang pun berseru, “Ya Allah!”
Ketika pintu-pintu permohonan telah tertutup dan sekat-sekat permintaan telah dipasangkan, maka merekapun berteriak, “Ya Allah!”
Allah: Asma terbagus, tulisan terindah, ungkapan yang paling jujur, dan kata yang paling berharga.
Allah: pemilik semua kekayaan, keabadian, kekuatan, pertolongan, kemulian, kemampuan dan hikmah. Pemilik semua kelembutan, perhatian, pertolongan, bantuan, cinta, dan kebaikan.
“…Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada…” (QS. Al-Hadid: 4).
Saudaraku, sahabat itulah cinta Allah kepada kita. Dia hadir dalam setiap relung-relung kehidupan kita. Mari kita hadirkan Allah setiap gerak dan nafas kehidupan kita. Tentu bukan harus menunggu musibah melanda kita baru terucap, “Ya…Allah”. Bersegeralah menjemput cintanya Allah sang pemberi cinta.
Wallahu’alam semoga bermanfaat. amiin

BERHENTILAH MENGAJARI ALLAH




Dalam sebuah atsar diriwayatkan oleh Wahb bin Munabbih disebutkan bahwa Allah berfirman: “Hamba-Ku! Taati sajalah apa yang sudah Aku perintahkan kepadamu, dan jangan (sekali-kali) mengajari-Ku terhadap apa saja yang baik untukmu.”

Bagi seorang mukmin sejati yang memiliki ketajaman nurani, tentulah terhindar dari sikap “lancang” dengan mengajari Allah terhadap segala hal yang baik untuknya. Karena memang manusia manapun di dunia ini tidak akan pernah tahu rencana dan skenario Allah ketika Dia menimpakan segala musibah dan masalah kepada hamba-Nya.

Rasanya sudah terlalu sering kita mengajari Allah bahkan terkadang harus menyalahkan-Nya saat harapan-harapan dan cita-cita kita yang kita nantikan dan tunggu tidak kunjung datang atau malah hanya kegagalan yang kita raih. Prasangka-prasangka buruk terhadap Allah melintas di fikiran kita tanpa bisa kita cegah, karena kebodohan dan kelemahan kita dalam memahami hakikat keberadaan kita di dunia ini.

Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 216: “Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui”

Banyak hal di dunia ini yang berada diluar kekuasaan kita, dan kita tidak pernah mampu menghindar dan menolaknya. Hal yang demikian karena memang kita diciptakan hanya untuk tunduk dan patuh terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Saat manusia menderita dengan rezeki yang serba kekurangan (menurutnya) seharusnya bersyukur karena Allah sedang membimbingnya agar selalu menggantungkan harapan dan memohon kepada-Nya. Saat seseorang nestapa karena kehilangan apa saja yang dicintainya selayaknya berbahagia karena pada saat yang sama Allah sedang menuntunnya agar tidak mencintai apapun melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Selama paru-paru ini masih bernafas, jantung ini masih berdetak, darah ini masih mengalir, manusia tidak akan pernah terlepas dari deraan cobaan dan ujian. Karena memang dunia diciptakan sebagai tempat ujian dan akhirat sebagai tempat balasan. Kesenangan sejati hanya akan diraih jika kita sudah menginjakkan kaki di surga. Jika memang dunia ini diciptakan untuk tempat bersenang-senang, maka para nabi seharusnya yang paling berhak mendapatkannya. Lantas, kenapa malah merekalah yang paling banyak dan sering mendapatkan rentetan cobaan dan cabaran.

Semoga sebuah hadits ini akan membuat kita sadar, bersimpuh dan tertunduk malu dihadapan-Nya dan berhenti mengajari-Nya atau menyalahkan ketentuan-Nya saat doa-doa belum terpenuhi dan harapan-harapan yang gagal diraih. Karena memang tidak ada kebetulan dalam kehidupan ini. Sebuah hadits yang riwayatkan oleh imam al-Baihaqi dari sahabat Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Malaikat Jibril AS berkata: Wahai Allah, hamba-Mu si fulan penuhilah segala keperluan (yang diminta)nya. Allah pun menjawab: (sudah) biarkan saja hamba-Ku (itu), Sungguh Aku senang mendengar suaranya (saat bermunajat kepada-Ku)
Semoga kita termasuk hamba yang mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya. Amin!
Wallahu a’la wa a’lam.

PAMERAN KARYA KERAJINAN DI SMP IT DARUL HIKMAH



Simpang Tigo. Ada yang berbeda di Sabtu pagi ini di SMP IT Darul Hikmah Pasaman Barat. Para siswa siswa sibuk di empat lokal berbeda serta menata meja-meja di ruangan tersebut. Meja-meja tersebut kemudian mereka hias sebagus mungkin agar menarik. Kemudian mereka menyusun beberapa benda kerajinan di atas meja-meja yang mereka susun tadi.

“Ini adalah kegiatan yang baru pertama kali diselenggarakan di SMP IT Darul Hikmah” ungkap guru mapel prakarya, Rahmat Illahi, S. Ds. Para siswa melakukan kegiatan pameran karya kerajinan yang mereka buat pada pelajaran prakarya. Walaupun dipersiapkan dengan sederhana, tidak menghilangkan semangat para siswa yang menjadi peserta pameran.
Pembukaan pameran oleh Kepala Sekolah

Tepat pukul 09.00 WIB, acara pembukaan pameran dimulai di lapangan futsal SMP IT Darul Hikmah.  Dihandle langsung oleh guru prakarya, acara pembukaan Pameran ini terselenggara dengan sederhana dan penuh khidmat. Hadir juga dalam acara pembukaan ini kepala SMP IT Darul Hikmah, Ust. Abri Maijon, S. Pd. “Ini adalah kegiatan luar biasa yang diselenggarakan di sekolah kita dan diharapkan dapat terlaksana setiap semester”, ungkap Abri dalam sambutannya. “Berkarya dapat melatih kreatifitas serta mengasah kemampuan otak kanan”, sambung beliau. Di akhir sambutan, kepala SMP IT membuka secara resmi Pameran Karya ini.

Kepala sekolah beserta guru-guru yang ikut berpartisipasi mengunjungi stand-stand pameran memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap karya-karya kerajinan yang dihasilkan oleh siswa. Bahkan seorang guru sempat menawar sebuah karya siswa dengan harga yang lumayan. Dalam pameran ini juga diikutsertakan karya kerajinan Prakarya siswa SMA IT Darul Hikmah. 


Pameran karya kerajinan adalah bentuk kegiatan yang diselenggarakan sebagai salah satu bentuk penilaian dari mata pelajaran prakarya. Setiap siswa atau kelompok siswa membuat sebuah kerajinan dari bahan berbeda tergantung tingkatan kelas masing-masing. Kemudia karya kerajinan yang sudah dibuat tersebut dipajang pada kegiatan pameran karya seperti yang  sudah diselenggarakan di SMP IT Darul Hikmah. Karya-karya yang dibuat oleh siswa antara lain bunga dari bahan tali rafia, kerajinan bros dari kain perca hingga membuat miniatur rumah dengan memanfaatkan limbah organik kulit kuaci.

Berikut foto kegiatan dan karya-karya yang dibuat oleh siswa-siswi SMP IT Darul Hikmah .




 



Foto-foto lainnya admin tambahkan nanti ya. :)

Bahayanya Fitnah


Tulisan ini penulis kutip dari sejarah yang terjadi dalam keluarga Rasulullah yaitu pada Bunda Aisyah.
Fitnah ini terjadi ketika dalam sebuah perjalanan, saat rombongan Rasulullah saw singgah di sebuah rumah menjelang Madinah. Setelah beberapa hari menginap, mereka lalu berjalan kembali di malam hari setelah mendapat izin dari Nabi saw. Beberapa saat sebelum mereka berangkat, Aisyah keluar rombongan untuk sebuah keperluan dengan memakai kalung pemberian saudara perempuannya. Aisyah segera kembali ke perkemahan. Namun, ia tidak menyadari bahwa kalungnya telah terjatuh. Dia baru mengetahuinya setibanya di perkemahan saat beraba lehernya.
Aisyah memutuskan untuk mencari kalung tersebut untuk menghormati saudara perempuannya. Padahal, di saat yang sama, rombongan kaum muslimin telah bergerak menuju Madinah. Pencarian itu memakan waktu yang cukup lama. Aisyah segera kembali ke perkemahan untuk menemui orang yang akan menemaninya, tapi dia tidak melihat seorang pun. Ternyata mereka telah pergi membawa serta tandunya. Mereka telah menaikkan tandunya di atas unta yang Aisyah tunggangi. Mereka mengira bahwa Aisyah telah berada dalam tandu tersebut. Wanita pada masa itu sangat kurus, sehingga mereka pun tidak curiga dengan ringannya tandu beliau. Setelah semuanya pasukan berlalu pergi, Aisyah menemukan kalungnya.
Dia lalu duduk saja di tempat itu dengan membuka hijab (cadar) karena menduga rombongan muslim pasti mencarinya. Aisyah bertasbih dan beristighfar kepada Allah. Rasa kantuk menyerangnya hingga dia tertidur.
Pada saat itu, datang seorang prajurit Perang Badar, Shofwan bin al-Mu’thal. Dia juga tertidur dan tertinggal dari rombongan pasukan.  Shafwan tahu bahwa orang yang tertidur itu Aisyah, karena dia pernah melihatnya sebelum turun ayat hijab.
Aisyah lalu terbangun ketika mendengar suara Shafwan bin Mu’thal yang beristirja’.
            “Innalillahi wa innalillahi raaji’un. Bukankah ini istri Rasulullah saw?” kata Shafwan.
Dia tidak mengatakan kata apa pun selain perkataan tadi. Aisyah yang terkejut segera menutup wajahnya dengan jilbab. Shafwan mendekatkan untanya ke sisi Aisyah dan memintanya untuk segera naik ke atas unta. Shafwan memegang tali kendali untanya tanpa menoleh dan berbicara pada Aisyah.
“Aku hanya mendengarnya bertasbih,” kata Aisyah.
Shafwan terus menuntun untanya hingga dapat menyusul rombongan pasukan yang saat itu sedang singgah d Nahruzh Zhahirah.
Musuh Allah, ‘Abdullah bin Ubai, menarik nafas panjang melihat hal itu. Dia seperti mendapat ilham untuk menyerang Rasulullah saw. Sebuah rencana disusunnya, yaitu memfitnah Aisyah dengan menuduhnya berzina. Atas prakarsanya, orang-orang munafik lalu menyebarkan fitnah tersebut. Inilah yang disebut dengan Ifkun (berita bohong), suatu kebohongan yang paling buruk.
Pasukan Muslim terus bergerak menuju Madinah, sedang orang-orang munafik juga sibuk mengumumkan fitnah tersebut. Ketika sampai di Madinah, mereka menyebarkan berita ini hingga sebagian kaum muslim termakan isu murahan tersebut.
Kabar dusta itu sampai juga ke telinga Nabi saw, setibanya di Madinah. Beliau juga kaget, tak menduga jika hal itu dilakukan istrinya. Berita itu datang bagai palu godam yang menghantam jiwanya.
Fitnah tersebut bagai bola salju; terus menggelinding dan kian lama semakin membesar. Orang-orang ramai bergunjing membicarakannya. Namun ada satu orang yang tidak mengetahui berita bohong itu. Dia adalah Aisyah sendiri. Sepulangnya dari perang Bani Musthaliq, Aisyah jatuh sakit selama hampir satu bulan. Dia baru sembuh pada tiga hari terakhir pada bulan terjadinya fitnah tersebut.
Selama sakit, dia terbaring lemah di tempat tidur. Namun, untuk kali ini, dia mendapat perlakuan berbeda dari suaminya, Rasulullah saw. Tak ada sentuhan kelembutan seperti biasanya. Nabi saw hanya masuk kamar, menemuinya, lalu mengucapkan slam. Hanya kalimat singkat yang terucap dari mulut beliau. “Bagaimana kondisimu, wahai Aisyah?” Setelah itu, beliau keluar menyelimuti Aisyah mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya tercinta.
Sikap ini terjadi karena Rasulullah saw terpengaruh dengan kabar yang disebarkan orang-orang munafik. Rasulullah saw senantiasa diam, tidak berbicara sedikit pun. Beliau menunggu Allah swt menurunkan wahyu-Nya. Akan tetapi wahyu yang dinanti tak kunjung turun. Beliau gamang, karena tidak memiliki petunjuk yang dapat membuktikan kebenaran kabar tersebut. Hanya kepada Allah swt, beliau menggantungkan harapan karena beliau hanyalah manusia biasa.
Telah hampir satu bulan fitnah menyelimuti kota Madinah. Kondisi Aisyah kian membaik. Suatu malam, dia pergi ke pinggiran kota Madinah bersama Ummu Misthah. Saat berjalan di kegelapan malam, Ummu Misthal tergelincir. Dia terkejut dan dengan spontan keluar ucapan buruk yang menjelekkan anaknya sendiri, Misthah.
“Celakalah Misthah!”
Aisyah terkejut mendengarnya.
“Mengapa engkau mendoakan anakmu seperti itu? Bukankah dia anak shalih yang mengikuti perang Badar?” tanya Aisyah penuh keheranan.
“Engkau tidak tahu apa yang dikatakannya tentangmu.”
“Apakah yang dikatakannya tentang diriku?” Aisyah penasaran.
“Dia telah berburuk sangka kepadamu. Dia salah menilai kehormatan dirimu seperti yang dilakukan orang banyak. Mereka mengatakan dirimu melakukan perbuatan keji dengan Shafwan, ujar Ummu Misthah.
Jawaban itu bagai petir di siang bolong. Aisyah terkejut luar biasa. Dia tak mengira jika dirinya telah menjadikan sasaran fitnah. Bumi seakan berguncang, langit seolah runtuh. Dia pulang ke rumahnya dengan langkah gontai. Ditemuinya Rasulullah saw yang masih tetap mendiamkan dirinya. Aisyah kini tahu, mengapa suami tercinta yang selalu mengasihinya itu bersikap demikian. Tanpa menunggu lama, dia segera meminta izin kepada Rasulullah saw untuk pergi ke rumah orang tuanya, Abu Bakar. Aisyah berniat mencari kebenaran atas fitnah yang menimpa dirinya. Setelah mendapat izin, Aisyah bergegas berangkat dengan membawa rasa gundah yang tak terkira.
Sementara itu Rasulullah saw terus menunggu wahyu. Karena wahyu yang di tunggu tak kunjung datang, Rasulullah saw memutuskan untuk menemui para sahabatnya dan penduduk Madinah lainnya. Beliau mendatangi Ummu Aiman.
“Apa engkau mendengar apa yang dikatakan orang-orang tentang Aisyah? Apa pendapatmu? Tentang Aisyah.
“Aku senantiasa menjaga pendengaran dan perhatianku. Demi Allah, aku tidak mengetahui apapun tentang Aisyah melainkan hanya kebaikannya,” jawab Ummu ‘Aiman.
Setelah itu, Rasulullah saw pergi menemui Ummul Mukminin, Zainab binti Jahsi.
“Apa engkau mendengar apa yang dikatakan orang-orang tentang Aisyah? Apa pendapatmu? Tentang Aisyah. Apa pendapatmu?
“Aku senantiasa menjaga pendengaran dan perhatianku. Demi Allah, aku tidak mengetahui apapun tentang Aisyah melainkan hanya kebaikannya,” jawab Zainab.
Rasulullah saw lalu berangkat menuju rumah Usamah bin Zaid, kerabat terdekat yang palung dicintainya. Usamah sangat mengetahui rasa sayang yang ada dalam hati Rasulullah saw kepada Aisyah. Oleh sebab itu, dia menyarankan sesuatu sesuai dengan apa yang diketahuinya.
“Ummul Mukminin adalah suci dan bersih dari segala kabar bohong itu. Dia adalah laksana biji logam yang murni, sedangkan orang-orang yang suka membuat kabar palsu itu benar-benar telah berdusta dan berbohong, wahai Rasulullah saw,” kata Usamah.
Rasulullah saw juga mendatangi Ali bin Abi Thalib. Beliau disarankan untuk men-thalaq Aisyah. Terakhir, Rasulullah saw menemui Umar bin Khathab.
“Apa engkau mendengar apa yang dikatakan orang-orang tentang Aisyah? Apa pendapatmu? Tentang Aisyah. Apa pendapatmu?
Umar balik bertanya, “Siapakah yang menikahkan engkau dengan Aisyah, wahai Rasulullah?”
“Allah-lah yang menikahkan aku dengan Aisyah,” jawab Rasulullah saw.
“Apa engkau mengira bahwa sesungguhnya Allah akan mengotori dirimu?” tanya Umar lagi.
Fitnah terus menyebar tanpa dapat di bendung. Suatu hari, Rasulullah saw berkhutbah.
“Wahai manusia…telah sampai kepadaku sebuah berita, bahwa ada seseorang yang menyakiti istriku, dan aku tidak mengetahui apapun tentang istriku itu melainkan hanya kebaikannya. Orang-orang juga mengetahui kebaikan istriku. Mereka menyebut-nyebut nama seseorang kepadaku. Maka siapakah yang akan menolongku untuk mendapatkan hakku atas orang tersebut?”
Sementara itu Aisyah telah tiba di rumah Abu Bakar, Ayahandanya. Dia bertanya tentang fitnah yang meninpa dirinya tersebut kepada Abu Bakar. Sang ayah membenarkan bahwa fitnah itu sudah hampir sebulan. Aisyah merasa sedih. Abu Bakar menatap pilu putri tercinta. Sejak mendengar kabar bohong itu, Abu Bakar sering menangis. Dia bertambah sedih setelah melihat langsung kondisi anaknya. Dia tak sanggup berkata-kata.
Aisyah terus menangis selama tiga hari. Dia tak dapat tidur. Kelopak matanya tidak terpejam sekejap pun. Air matanya terus mengalir. Dunia seakan sedang menghakimi dirinya.
Di saat awan duka menggantung di langit rumah Abu Bakar, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Rasulullah saw. Nabi akhir zaman itu segera duduk di dekat Aisyah. Rangkaian kalimat agung terlontar dari mulut beliau.
Asyahadu anla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadurrasulullah.”
Seusai mengucapkan kalimat syahadatain itu, Rasulullah saw memulai pembicaraan.
“Wahai Aisyah…jika engkau bersih, Allah akan membersihkan dan membebaskanmu. Namun, jika engkau telah melakukan satu dosa, minta ampun dan bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya jika seorang hamba mengakui dosanya dan bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubatnya, ujar Rasulullah saw.
Aisyah terdiam. Dia tak mampu menjawab karena masih menangis. “Wahai Ayah, jawablah apa yang dikatakan Rasulullah tentang diriku ini!” kata Aisyah terbata-bata.
“Demi Allah, aku tidak tahu harus berkata apa kepada Rasulullah,” ujar Abu Bakar.
Aisyah lalu meminta ibunta yang berbicara.
“Jawablah pertanyaan Rasulullah tentang diriku ini, wahai Ibuku!” Aisyah memohon kepada ibunya.
Bukan jawaban yang diberikan ibunya melainkan tangisan. “Demi Allah, aku tidak tahu harus berkata apa kepada Rasulullah kata sang ibu terbata-bata.
Akhirnya, Aisyah menguatkan dirinya untuk berbicara. Dia usap air matanya. Nafasnya dia tarik dalam-dalam. Dia terdiam sejenak. Tak lama setelah itu, suaranya memecah kesunyian.
“Demi Allah, sesungguhnya aku tahu, kalian telah mendengar cerita-cerita itu hingga dia telah menetap di hati kalian dan kalian pun membenarkannya,” kata Aisyah. Semua mata tertuju padanya.
“Jika aku mengatakan kepada kalian bahwa aku bersih dari semua cerita yang tidak pernah aku lakukan, kalian benar-benar akan mempercayainya.”
“Demi Allah,” suara Aisyah agak meninggi, “Aku tidak mendapatkan perumpamaan apa pun untuk menggambarkan keadaan diriku kecuali mengutip perkataan tersebut yang terdapat dalam surah Yusuf: 18.
Maka kesabaran yang baik itulah (kesabarannya). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.
Setelah itu Aisyah pergi menuju pembaringannya. Dia mengadahkan tangannya. Aisyah berdoa agar dimudahkan dalam menghadapi masalah berat tersebut.
Ayah dan Ibunya terus menangis menyaksikan derita yang dialami anak mereka tercinta. Mereka ingin sekali menolong, tetapi tak berdaya. Sementara itu, Rasulullah saw terus saja bersedih, menangisi apa yang sedang terjadi pada keluarganya. Beliau tafakkur, tak beranjak dari tempat duduknya.
Beberapa saat kemudian, tubuh Rasulullah saw bergetar hebat. Keringat mengucur deras dari tubuhnya. Kian lama tubuh Nabi saw semakin bergetar kuat. Beliau tak lagi mampu menahannya hingga pingsan. Aisyah yang menyaksikan itu tak terkejut. Dia tahu, di saat-sat seperti itu, Rasulullah saw sedang menerima wahyu.
Abu Bakar tampak pucat. Jika benar wahyu telah datang, dia khawatir Allah akan membenarkan fitnah yang meninpa Aisyah. Dia tak dapat membayangkan jika itu benar terjadi.
Rasulullah saw akhirnya siuman. Beberapa butir keringatnya yang seperti mutiara terlihat turun membasahi wajahnya. Matanya mulai dibuka. Abu Bakar dan istrinya menatap tajam Rasulullah saw. Mereka menanti-nanti apa yang akan dikatakan Rasulullah saw. Rasa was-was menghampiri mereka. Akhirnya, sebuah kalimat menyejukkan terlontar dari mulut Rasulullah saw.
“Wahai Aisyah, berbahagialah karena Allah telah membebaskan dan membersihkanmu dari atas tujuh langit. Selamat atas pembebasan dari Allah ini,” kata Rasulullah saw.
Aisyah dan kedua orang tuanya bernapas lega mendengar itu. Wajah Aisyah kembali bersinar, tersenyum bahagia. Abu Bakar langsung meminta Aisyah menghampiri Rasulullah saw.
“Wahai Aisyah, temuilah Rasulullah. Ucapkanlah salam kepadanya dan pujilah dia,” ujar Abu Bakar dengan mata berbinar-binar.
“Tidak! Demi Allah, aku tidak akan bangkit, aku tidak akan memujinya, memujimu, atau memuji ibuku. Aku hanya akan memuji Allah yang telah membebaskanku dari atas tujuh langit,” jawab Aisyah.
Wahyu yang turun tersebut adalah surah An-Nur (24): 11-20 yang artinya,
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian. Bahkan ia adalah baik bagi kalian. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan, siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong tersebut, baginya azab yang besar. (QS. An-Nur [24]:11), hingga ayat ke -20.
Lalu Rasulullah saw meninggalkan kediaman Abu Bakar. Beliau ingin segera menemui penduduk Madinah untuk mengetahui wahyu yang baru saja diterimanya.

Referensi: Shirah Nabawiyah “The Great Story of Muhammad, hal. 390. Ahmad Hatta, dkk. Magfirah 2011.
Kusrin, S.PdI

Tentang Kusrin, S.PdI

Lahir di Pasaman bulan November 1984. Pendidikan terakhir UIN Bandung. Sekarang mengajar di SMP IT Darul hikmah Pasaman Barat Simatera Barat. Punya hobi menulis, membaca, traveling. [Profil Selengkapnya]

Jumat, 12 Desember 2014

Pemilu OSIS SMP IT Darul Hikmah Sukses

Suasana Pemilu Akhwat
Simpang Tigo. Sekolah merupakan miniatur negara. Layaknya negara, di sekolah juga mempunyai sistem pemerintahan. Untuk kalangan siswa dikenal dengan Organisasi Intra Sekolah (OSIS).

Siswa SMP IT Darul Hikmah, dibawah pengawasan pembina OSIS telah sukses melaksanakan pemilu OSIS masa bakti 2014/2015 baru – baru ini ( 28/11 ) di komplek SMP IT Darul Hikmah. Pemilu berlangsung dengan aman dan tertib.

Sebagai bentuk pembelajaran berdemokrasi dilingkungan sekolah, pelaksanaan pemilu ini dirancang seperti pemilu sebenarnya. Rangkaian pemilu berlangsung selama 15 hari. Dimulai dari pembentukan Panitia Pemilihan Umum ( PPU ). Setelah itu PPU melanjutkan tugas untuk pendaftaran bakal calon ( balon ) ketua OSIS, verifikasi berkas, masa kampanye, masa tenang, pemilihan umum, pembentukan kabinet, dan pelantikan calon terpilih.

OSIS di Sekolah ini memiliki konsep tersendiri sesuai dengan karakter sekolah. Yaitu adanya pemisahan antara OSIS Ikhwah ( laki – laki ) dengan OSIS Akhwat ( perempuan ). Meskipun seperti itu, kedua OSIS ini tetap berada dibawah naungan bidang kesiswaan.

Ketua terpilih OSIS Ikhwah dikantongi oleh pasangan nomor urut 1 yaitu Luthfi Athoriq Abid – Khairul Hakimi. Sedangkan OSIS akhwat pasangan nomor urut 2 atas nama Anggun Ayu Selvia – Fathiya Ahda Ramadhani.

“Pelaksanaan pemilu ini merupakan bentuk pembelajaran berdemokrasi sedari dini,” ungkap Ustadzah Atna Dewi, SH selaku Pembina OSIS Akhwat sekaligus guru PPKn di sekolah ini.

“Selain itu sebagai tindak lanjut pembelajaran dan pemahaman terhadap materi demokrasi yang sedang diajarkan untuk kelas VIII, siswa disuruh membuat laporan tentang pelaksanaan demokrasi ( pemilu ) dilingkungan sekolah,” lanjutnya.

Suasana penghitungan suara Ikhwah
Diharapkan dengan adanya kegiatan ini diharapkan menjadi sarana sosialisasi bagi siswa tentang demokrasi. Sehingga nantinya ketika sudah memiliki hak pilih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara mampu menumbuhkan kesadaran berdemokrasi dan memiliki kepedulian terhadap sistem pemerintahan.

Selain itu, bagi pengurus OSIS diharapkan menjadi ajang pembentukan karakter terutama tanggungjawab dengan amanah yang diemban. (Atna Dewi)

Dimuat di Harian Singgalang, Rabu 10 Desember 2014

Kamis, 11 Desember 2014

1 Ayah Lebih Baik dari 100 Guru



Sungguh, kita tak pernah tahu dugaan dan kejutan yang dihidangkan buah hati. Banyak hal baru, sering kali memantik haru dan tawa, serta mengentak ruang jiwa.
            “Dedek, angun. Colat-colat,” tutur Tsaqiif (2) pada adiknya, Zhaafir, yang usianya terpaut setahun. Bagi saya dan istri, ajakan shalat kakak pada adiknya itu mencipta bahagia. Apalagi Tsaqiif melakukan gerakan shalat, meski jauh dari sempurna. Adiknya spontan bangun, lalu memperhatikan gerakan abangnya. Kami terpingkal, tapi sekaligus dada ini terhenyak. Kenapa?
           Tanpa disadari, seorang anak sering merekam, mempraktikkan apa yang ia lihat dari orangtuanya. Ngeri juga sebenarnya. Benarlah nasehat orangtua dulu: jika seorang pria telah menjadi ayah, ia harus berhati-hati dalam ucap dan sikap. Apalagi di depan buah hatinya. Orangtua, terutama ayah, menjadi pilot project untuk anak-anaknya, wabil khusus anak lelaki.
            Saya jadi teringat kata-kata Ustadz Felix Yanwar Siauw, inspirator Islami, juga mualaf yang mewakafkan dirinya untuk perjuangan Islam. Dalam sebuah kesempatan, beliau menjelaskan kelemahan umat saat ini. Salah satunya, sebagian besar ayah kaum Muslimin tak gemar belajar sejarah kehebatan Islam, apalagi rutin mendongengkan buah hati. Padahal budaya dongeng dengan tema-tema ketauhidan dan kepahlawanan Islam sangat bermanfaat dan dibutuhkan.
            Ustadz Felix mencontohkan kisah Muhammad Al Fatih, penakluk Konstantinopel pada 1453. Sebelum menjadi pemimpin pasukan perang, sejak kecil Al Fatih selalu ‘diinjeksi’ ayahnya tentang kehebatan Rasulullah saw dan para sahabat. Sang ayah selalu memberi teladan yang baik. Itu menginspirasi Al Fatih hingga menjadikannya pemimpin pasukan perang bersejarah. “Tanamkan pada anak kita kisah-kisah heroik kepemimpinan Rasulullah, sahabat dan para pejuang Islam,” pesan Ustadz Felix.
            Kita tahu, anak itu imitator ulung. Sayangnya, energi dan pikiran kita sering terforsir mencari nafkah. Padahal, pekerjaan besar ayah adalah pendidik. Ia panutan bagi istri dan buah hatinya. Jika seorang ayah mengabaikan urgensi pola pendidikan dalam keluarga, bisa fatal akibatnya.
            Pendidikan paling utama ialah memberi contoh dengan akhlak. Sementara nasehat dan budaya dongeng sebagai pendukung pengembangan kreativitas dan daya kritis anak. Namun, itu sulit maksimal jika lisan jarang bergerak paralel dengan akhlak. “Kekuatan terbesar umat ada di pelaksanaan kata-kata,” pesan KH Ayyip Abbas, Pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, pada saya.
            Mengutip George Herbert, “Seorang ayah lebih berharga dari 100 guru di sekolah.” Artinya, setiap ayah pasti punya potensi besar. Begitu pula besarnya tantangan menakhodai keluarga. Duhai para ayah, sudahkah hari ini memeriksa visi hidup?

Sumber: Majalah Ummi Rabu, 10 Desember 2014 M | 17 Safar 1436 H   

Info PPDB

Artikel Siswa

Artikel

OSIS

Profil Sekolah

 

© Copyright WEBSITE RESMI SMP IT DARUL HIKMAH PASAMAN BARAT 2010 -2011 | Design by | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.